Jakarta, INVESTOR IDN – Bulan Februari 2025 menjadi periode yang sangat menarik bagi investor Indonesia, dengan berbagai aksi korporasi yang merampungkan momentum investasi di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan riset terbaru, beragam jenis corporate action telah dijalankan perusahaan-perusahaan tercatat untuk memperkuat posisi mereka di pasar modal.
Dividen Tunai: Rejeki Pemegang Saham
AMOR (PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk) mencuri perhatian dengan membagikan dividen tunai interim sebesar Rp 30,95 miliar untuk periode tahun buku 2024. Emiten yang bergerak di bidang jasa investasi ini memberikan dividen Rp 14 per saham dengan jadwal cum dividen 7 Februari 2025, ex dividen 10 Februari 2025, dan pembayaran dividen 24 Februari 2025. Menariknya, pembayaran dividen ini dilakukan saat harga saham AMOR dalam tren melemah di level Rp 645 per saham pada penutupan perdagangan 6 Februari 2025.
Tidak hanya AMOR, perbankan besar seperti BBRI dan BMRI juga memberikan sinyal positif untuk pembagian dividen. Bank Rakyat Indonesia diperkirakan akan membagikan dividen final sebesar Rp 208,4 per saham, setara dengan Rp 31,4 triliun. Sementara Bank Mandiri ditaksir akan memberikan dividen sebesar Rp 358,50 per saham dengan dividend yield mencapai 7,13%.
Stock Split: Memecah Harga untuk Meningkatkan Likuiditas
SAMF (PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk) menjadi sorotan dengan melakukan stock split rasio 1:2 pada awal Februari 2025. Emiten pupuk ini mengakhiri perdagangan dengan nilai nominal lama pada 5 Februari 2025, dan memulai perdagangan dengan nilai nominal baru dari Rp 100 menjadi Rp 50 per saham pada 6 Februari 2025. Jumlah saham SAMF pun bertambah dari 5,12 miliar menjadi 10,25 miliar lembar.
HILL (PT Hillcon Tbk) segera menyusul dengan rencana stock split rasio 1:5. Emiten jasa pertambangan ini akan memecah nilai nominal saham dari Rp 100 menjadi Rp 20 per saham pasca stock split, dengan RUPSLB dijadwalkan 3 Maret 2025. PTRO (PT Petrosea Tbk) telah lebih dulu merealisasikan stock split dengan rasio 1:10, memecah nilai nominal dari Rp 50 menjadi Rp 5 per saham.
Rights Issue: Alternatif Penambahan Modal
Rights issue masih menjadi tantangan di tahun 2025. Data BEI menunjukkan total penghimpunan dana melalui rights issue menurun dari Rp 51,37 triliun pada 2023 menjadi Rp 34,41 triliun pada 2024. Saat ini terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline rights issue, dengan tiga perusahaan berasal dari sektor bahan baku dan masing-masing dua dari sektor energi dan kesehatan.
LPCK (PT Lippo Cikarang Tbk) berencana melakukan rights issue dengan menawarkan 2,974 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 500 per saham. Cum date dijadwalkan 4 Februari 2025, dengan ex date 5 Februari 2025. HATM (PT Habco Trans Maritima Tbk) juga menggelar rights issue dengan menawarkan 1,68 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 300-320 per saham.
Buyback Saham: Strategi Menghadapi Volatilitas
OJK mencatat 24 emiten telah melaksanakan pembelian kembali saham tanpa RUPS hingga 30 April 2025 dengan nilai realisasi sebesar Rp 937,42 miliar. Kebijakan buyback tanpa RUPS ini diatur dalam POJK No. 13 Tahun 2023 untuk mengantisipasi tekanan pasar keuangan akibat dinamika global.
BBCA dan BBRI menjadi bagian dari 21 emiten yang siap melaksanakan buyback saham dengan total anggaran Rp 15 triliun. Emiten lain yang mengalokasikan dana besar untuk buyback antara lain MYOR (Rp 1 triliun), AVIA (Rp 1 triliun), dan ADRO (Rp 4 triliun).
Private Placement: Jalur Cepat Penambahan Modal
DEWA (PT Darma Henwa Tbk) menjadi contoh sukses private placement dengan menerbitkan 18,83 miliar saham baru Seri B senilai Rp 1,41 triliun. Aksi ini berhasil menurunkan nilai utang DEWA dari Rp 4,35 triliun menjadi Rp 2,94 triliun. SRAJ (PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk) juga melakukan private placement dengan menerbitkan 238,25 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 2.200 per saham.
Merger dan Akuisisi: Konsolidasi untuk Pertumbuhan
Pemerintah membuka peluang untuk merevisi aturan perpajakan yang berkaitan dengan merger dan akuisisi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan nilai transaksi merger dan akuisisi di pasar modal Indonesia. Beberapa aksi merger dan akuisisi yang mencuri perhatian di awal 2025 antara lain TOWR yang mengakuisisi DATA, merger EXCL dan FREN, serta akuisisi ANJT oleh First Resources.
Waran dan Instrumen Derivatif
PT Maybank Sekuritas Indonesia telah menerbitkan berbagai waran terstruktur dengan underlying saham-saham blue chip seperti AKRA, AMRT, ANTM, BBNI, dan BBRI. Waran-waran ini memiliki periode perdagangan mulai 28 April hingga 25 November 2025. BEI juga telah memperluas underlying saham untuk produk waran terstruktur melalui perubahan Peraturan I-P pada Mei 2025.
Outlook dan Rekomendasi
Aktivitas corporate action yang meningkat di Februari 2025 menunjukkan optimisme emiten dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Bagi investor, momentum ini memberikan peluang untuk:
Memanfaatkan dividen yield yang menarik dari perbankan besar
Mengikuti stock split untuk mendapatkan likuiditas yang lebih baik
Mempertimbangkan partisipasi dalam rights issue perusahaan fundamental
Memantau buyback saham sebagai sinyal positif manajemen
Februari 2025 membuktikan bahwa pasar modal Indonesia tetap dinamis meskipun menghadapi tantangan global. Berbagai aksi korporasi yang dijalankan emiten menunjukkan komitmen untuk memperkuat fundamental bisnis dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

