Lydiawati

Lydiawati: Menjadi Kartini Masa Kini dalam Misi Menyelamatkan Bumi

Jakarta, INVESTOR IDN – Di sebuah ruangan tenang di salah satu kawasan bisnis sibuk Jakarta, Lydiawati menatap layar monitor yang menampilkan grafik emisi karbon dari klien industrinya. Angka-angka itu bukan sekadar data baginya—tetapi kompas. Kompas yang ia gunakan untuk menavigasi arah baru bagi dunia usaha Indonesia menuju ekonomi rendah karbon.

Sebagai Chief Executive Officer (CEO) Bumi Global Karbon (BGK), Lydia bukan sekadar pemimpin perusahaan—dia adalah motor perubahan. Di tengah gelombang krisis iklim global dan isu keberlanjutan yang makin mendesak, kepemimpinannya sebagai perempuan menjadi simbol kekuatan baru: strategis, inklusif, dan penuh visi jangka panjang.

“Perubahan iklim bukan sekadar tantangan teknis, ini soal kepemimpinan,” katanya dalam sebuah wawancara. “Dan dalam setiap transisi besar, suara perempuan harus ikut memandu arah.”

Melangkah dari Dasar Menuju Puncak Pengaruh

Perjalanan Lydiawati jauh dari kata instan. Kesuksesannya dibentuk oleh proses panjang—dari pendidikan, pelatihan teknis, hingga segudang sertifikasi yang menguatkan pijakannya. Ia mengantongi sertifikasi Certified Sustainability Reporting Specialist dari National Center for Sustainability Reporting, serta pelatihan tingkat lanjut seperti ISO 14064:2018 dan GRI Standards 2021.

Di bawah kepemimpinannya, BGK bukan hanya berkembang secara bisnis—tetapi menjadi garda depan dalam tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab. BGK kini menjadi anggota resmi Global Reporting Initiative (GRI) dan berperan aktif dalam mendampingi perusahaan menavigasi regulasi keberlanjutan sesuai standar global dan domestik, termasuk Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017.

Mengubah Data Menjadi Dampak

BGK bersama tim ahli bersertifikat tidak hanya menyusun laporan keberlanjutan—mereka membantu para pemimpin bisnis melihat realitas perubahan iklim secara utuh, dari jejak karbon, risiko iklim, hingga strategi mitigasi jangka panjang. Fokus kerja mereka nyata dan berdampak: meningkatkan efisiensi Total Factor Productivity (TFP) yang esensial dalam mewujudkan ekonomi hijau yang menarik bagi investor berorientasi keberlanjutan.

Namun bagi Lydiawati, efisiensi hanyalah satu sisi dari koin. Yang lebih penting adalah menciptakan nilai yang selaras antara profit dan planet.

“Setiap laporan yang kami bantu susun bukanlah formalitas,” ucapnya. “Itu adalah peta jalan—panduan strategis menuju masa depan bisnis yang adaptif, relevan, dan bertanggung jawab.”

Kartini Baru dalam Transisi Hijau

Dalam peringatan Hari Kartini, figur Lydiawati mencerminkan sosok perempuan masa kini yang tak hanya berdiri di tengah perubahan—tetapi memimpinnya. Di sektor lingkungan dan energi yang selama ini kerap didominasi laki-laki, kehadirannya menjadi penanda perubahan zaman.

Data dari McKinsey bahkan menguatkan bahwa perusahaan dengan keberagaman gender di level kepemimpinan mencatat kinerja finansial dan ESG yang lebih unggul. Dan Lydia adalah wajah nyata dari transformasi itu—seorang perempuan yang menjawab tantangan global dengan aksi konkret dan kepemimpinan beretika.

Menyiapkan Pemimpin Hijau Masa Depan

Saat ini, Lydiawati juga aktif mendorong lahirnya lebih banyak pemimpin muda, terutama perempuan, yang paham pentingnya transisi energi dan pelaporan keberlanjutan. Ia bukan hanya pimpinan, tapi juga mentor. Baginya, keberlanjutan sejati hanya bisa dibangun jika lebih banyak perspektif—terutama suara perempuan—ikut terlibat dan diakui.

“Kami butuh lebih banyak perempuan di ruang-ruang strategis ini,” ujarnya. “Karena keberagaman bukan pelengkap—ia adalah fondasi masa depan.”

Menjadi Penjaga Bumi, Menjadi Penjaga Harapan

Lydiawati telah menunjukkan bahwa dunia keberlanjutan tidak hanya dipenuhi angka, regulasi, dan grafik—tapi juga melibatkan empati, keberanian, dan pandangan jauh ke depan. Ia menjadikan kepemimpinannya bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi kontribusi nyata bagi masa depan yang lebih hijau dan lebih adil.

Di antara deretan tokoh yang mengubah arah industri, Lydiawati berdiri sebagai inspirasi perempuan Indonesia masa kini: berdaya, berilmu, dan berdampak. Seorang Kartini modern yang memimpin transisi hijau bukan dari mimbar politik atau panggung popularitas—tetapi dari meja kerja, angka-angka lingkungan, dan keputusan strategis yang menyelamatkan bumi.

Karena masa depan keberlanjutan bukan soal siapa yang paling kuat—tetapi siapa yang paling peduli.

More From Author

CUAN

Dinamika Corporate Action Emiten BEI – Momentum Maret 2025

IPO FORE

Catatan Corporate Action di Bursa Efek Indonesia: Tren dan Perkembangan April 2025

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan