Jakarta, INVESTOR IDN – Indonesian SDGs Award (ISDA) tak hanya menjadi panggung apresiasi bagi korporasi di Indonesia, tetapi juga mencerminkan geliat global menuju pembangunan berkelanjutan yang semakin nyata di tahun 2025. Tahun ini, dunia bisnis dan investasi internasional mengalami transformasi besar dalam memandang isu keberlanjutan, ESG (Environment, Social, Governance), dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Di tingkat global, investasi pada energi terbarukan mencapai rekor tertinggi, menembus angka 2 triliun dolar AS pada 2024, dua kali lipat dari investasi di sektor bahan bakar fosil. Sektor-sektor seperti tenaga surya dan kendaraan listrik terus mendominasi, dengan penjualan mobil listrik global melampaui 17 juta unit dan mencakup 20% dari seluruh penjualan mobil baru di dunia. Perusahaan-perusahaan besar dunia kini berlomba-lomba mengalihkan portofolio mereka ke arah infrastruktur rendah karbon dan meningkatkan efisiensi energi, sejalan dengan target net-zero emissions pada 2050.
Tren lain yang menonjol adalah pergeseran dari sekadar kampanye pemasaran hijau menuju aksi nyata dan terintegrasi. Tahun 2025 menandai penurunan praktik greenwashing, karena konsumen dan investor semakin menuntut transparansi serta bukti dampak yang terukur. Sebanyak 72% konsumen global kini bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan, dan generasi muda menjadi motor penggerak perubahan, baik sebagai konsumen maupun tenaga kerja yang menuntut praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Dari sisi regulasi, Uni Eropa memperketat pelaporan keberlanjutan melalui Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) yang mulai berlaku bagi hampir 50.000 perusahaan pada 2025. Negara-negara seperti Kanada, Inggris, dan Jepang juga mengadopsi standar pelaporan internasional yang lebih ketat. Sementara itu, di Amerika Serikat, meski terjadi tarik-ulur politik, permintaan investor terhadap data ESG yang andal tetap tinggi, dengan 80% investor berencana meningkatkan investasi berkelanjutan dalam dua tahun ke depan.
Isu keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) tetap menjadi perhatian utama, meski menghadapi tantangan politik di beberapa negara. Data menunjukkan 67% konsumen lebih percaya pada perusahaan yang berkomitmen pada isu sosial, sehingga integrasi nilai-nilai ini dalam produk dan layanan menjadi kunci memenangkan kepercayaan pasar.
Inovasi teknologi juga mempercepat transformasi keberlanjutan. Dari pengembangan daging laboratorium dan protein nabati untuk mengurangi emisi pertanian, hingga penggunaan kecerdasan buatan dalam mengelola jejak karbon dan efisiensi rantai pasok, perusahaan-perusahaan inovatif membuktikan bahwa keberlanjutan bisa berjalan seiring dengan profitabilitas. Contohnya, perusahaan yang berhasil mengurangi limbah makanan dan emisi karbon tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga menghemat biaya operasional dan meningkatkan penjualan.
Secara keseluruhan, ISDA hadir di tengah gelombang global yang menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan strategis dan kompetitif. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa perusahaan Indonesia mampu bersaing di panggung dunia, menginspirasi lebih banyak aksi nyata demi masa depan yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan.

