Jakarta, INVESTOR IDN – Pertanyaan mengenai kecenderungan pelaku pasar saham—apakah lebih menyukai pasar yang teratur dan transparan, atau justru pasar yang penuh gejolak—merefleksikan kompleksitas psikologi investasi masa kini. Berdasarkan berbagai riset, preferensi ini sangat bergantung pada jenis investor, kondisi pasar, serta strategi investasi yang digunakan.
Spektrum Preferensi Berdasarkan Tipe Investor
Investor Institusional: Stabilitas Adalah Kunci
Investor institusional umumnya mengutamakan transparansi dan keteraturan pasar. Studi menunjukkan bahwa investor institusional lebih memerhatikan kinerja jangka panjang perusahaan demi menjaga imbal hasil investasi yang stabil. Mereka mencari perusahaan dengan fundamental kokoh dan kinerja ESG yang baik untuk membangun portofolio berkelanjutan.
Meski siap mengambil risiko lebih tinggi, investor institusional melakukannya dalam konteks yang terukur dan terkontrol. Pasar yang transparan memungkinkan mereka melakukan analisis mendalam dan pengambilan keputusan yang lebih matang.
Investor Ritel: Paradoks Stabilitas dan Peluang
Investor ritel menunjukkan perilaku yang lebih beragam. Di satu sisi, mereka cenderung menghindari risiko karena keterbatasan pengetahuan mengenai pasar. Namun, riset terbaru mengungkapkan bahwa investor ritel justru mampu menurunkan risiko crash saham dengan menyediakan likuiditas di tengah tekanan pasar.
Menariknya, secara kolektif, investor ritel mampu menstabilkan harga saham, terutama di masa gejolak pasar. Ini menunjukkan bahwa meski secara individu mereka mungkin tidak menyukai volatilitas, secara keseluruhan mereka justru berperan sebagai penyeimbang pasar.
Hedge Fund dan Trader Profesional: Volatilitas sebagai Ladang Peluang
Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, hedge fund dan trader profesional justru memanfaatkan volatilitas sebagai peluang meraih keuntungan. Perdagangan berbasis volatilitas menawarkan banyak keunggulan, karena memungkinkan profit dalam kondisi pasar naik maupun turun.
Volatilitas pasar membuka kesempatan untuk meraih keuntungan dalam waktu singkat, sehingga menjadi preferensi utama bagi trader profesional yang memiliki infrastruktur dan keahlian dalam mengelola risiko tinggi.
Dinamika Preferensi Berdasarkan Kondisi Pasar
Masa Stabil vs Masa Krisis
Preferensi investor dapat berubah drastis tergantung kondisi pasar. Di masa stabil, perilaku investor cenderung mengikuti prinsip keuangan tradisional, di mana transparansi dan efisiensi pasar menjadi prioritas.
Namun, di masa volatilitas ekstrem, investor lebih rentan terhadap bias perilaku. Di Asia, misalnya, investor semakin menghindari risiko dan berupaya mendiversifikasi portofolio saat volatilitas meningkat.
Pengaruh Psikologis dalam Preferensi Pasar
Bias perilaku sangat memengaruhi keputusan investasi. Herd behavior atau perilaku ikut-ikutan memiliki dampak signifikan terhadap keputusan investor. Riset menunjukkan bahwa overconfidence dapat meningkatkan volatilitas, sementara loss aversion justru menurunkan volatilitas. Artinya, investor yang sangat takut rugi cenderung lebih menyukai pasar yang stabil.
Perspektif Regional: Studi Kasus Indonesia dan Asia
Karakteristik Pasar Indonesia
Pasar saham Indonesia memiliki karakteristik unik. Pertumbuhan jumlah investor di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia, dengan total investor telah mencapai 15 juta. Namun, transparansi dan konsistensi kebijakan sangat penting untuk menjaga stabilitas IHSG.
Stabilitas politik juga berperan penting dalam meredam dampak negatif fluktuasi nilai tukar, suku bunga, dan inflasi terhadap perkembangan pasar saham di Indonesia. Ini menandakan bahwa investor Indonesia sangat menghargai stabilitas politik dan kebijakan.
Pola Asia-Pasifik
Pasar saham Asia-Pasifik cenderung bereaksi berlebihan terhadap ketidakpastian. Volatilitas di kawasan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik, dengan faktor regional dan global hanya menjelaskan sebagian kecil volatilitas dalam jangka pendek.
Pentingnya Transparansi dan Regulasi
Transparansi sebagai Pilar Utama
Transparansi membantu mengurangi ketidakpastian dan fluktuasi harga yang liar, karena semua pelaku pasar dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang sama. Investor menilai bahwa manfaat transparansi dan kehati-hatian dalam laporan keuangan jauh lebih besar dibandingkan biaya regulasi yang ketat.
Transparansi pasar dianggap sebagai fondasi utama dalam menciptakan keadilan dan efisiensi, sehingga menjadi preferensi utama bagi banyak investor.
Regulasi dan Efisiensi Pasar
Kerangka regulasi sangat penting untuk menjaga stabilitas, keadilan, dan efisiensi pasar. Regulasi yang efektif adalah yang mampu mengurangi volatilitas tanpa menghambat mekanisme berbagi risiko. Di sini, terdapat keseimbangan antara kebutuhan akan stabilitas dan efisiensi pasar.
Implikasi untuk Strategi Investasi
Diversifikasi Sesuai Preferensi
Investor institusional secara umum optimistis terhadap kinerja saham dalam jangka menengah, walaupun mereka memperkirakan volatilitas akan meningkat dalam 18 bulan ke depan. Ini menunjukkan bahwa mereka mampu membedakan antara volatilitas jangka pendek dan prospek jangka panjang.
Market maker berperan penting dalam menjaga likuiditas dan menjembatani perbedaan preferensi antara investor yang menyukai stabilitas dan mereka yang mencari peluang dari volatilitas.
Strategi Adaptif
Hedge fund menggunakan model analitis canggih untuk memprediksi dan menghadapi volatilitas pasar. Mereka memanfaatkan alat seperti Bollinger Bands dan Average True Range (ATR) untuk mengidentifikasi tren volatilitas.
Untuk meraih keuntungan konsisten di pasar yang volatil, diperlukan strategi seperti trading algoritmik, memahami efek “rubber band”, dan menetapkan skenario mitigasi risiko. Preferensi terhadap volatilitas menuntut strategi yang lebih adaptif dan terukur.
Kesimpulan: Preferensi yang Kontekstual
Preferensi pelaku pasar saham terhadap keteraturan atau volatilitas bukanlah pilihan hitam-putih, melainkan spektrum kompleks yang dipengaruhi oleh:
- Jenis investor – Institusional cenderung memilih stabilitas, sedangkan trader profesional mencari peluang dari volatilitas.
- Kondisi pasar – Preferensi dapat berubah sesuai siklus dan tingkat ketidakpastian pasar.
- Kemampuan mengelola risiko – Investor dengan infrastruktur dan keahlian tinggi lebih nyaman menghadapi volatilitas.
- Jangka waktu investasi – Investor jangka panjang lebih toleran terhadap fluktuasi jangka pendek.
Secara umum, pelaku pasar lebih memilih transparansi dan kejelasan regulasi, dengan tingkat volatilitas yang disesuaikan dengan strategi dan kapasitas masing-masing. Pasar yang ideal adalah yang menggabungkan transparansi dan likuiditas memadai, sehingga mampu mengakomodasi berbagai preferensi investor.
Khusus di Indonesia, menjaga likuiditas pasar dan menstabilkan sentimen dapat meningkatkan efisiensi dan stabilitas pasar. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi terhadap stabilitas dengan transparansi tinggi masih menjadi arus utama dalam lanskap investasi nasional.

