Fundamental Economy

Fundamental Economy is Dead

Jakarta, INVESTOR IDN – Begitulah ungkapan yang kerap muncul dari banyak analis, komentator, hingga selebritas saham di Indonesia belakangan ini. Ironisnya, saham-saham blue chip yang selama ini dikenal punya fundamental bisnis kokoh justru yang tumbang. Padahal merekalah motor penggerak utama IHSG. Anehnya, posisinya kini digantikan oleh saham-saham bubble yang hanya menjual cerita mimpi tentang “masa depan cemerlang”, dan justru merekalah yang mendorong laju indeks.

Struktur IHSG memang rapuh. Pergerakannya sangat dipengaruhi oleh saham konglomerasi besar dengan kapitalisasi pasar raksasa dan likuiditas tinggi. Gambaran umumnya, kondisi pasar modal Indonesia saat ini sedang “tidak sehat.”

Lalu pertanyaannya: apa dampak bagi ekonomi jika IHSG tidak lagi mencerminkan fundamental ekonomi? Hati-hati, sebab efeknya bisa serius dan luas.

Pertama, akan muncul distorsi dalam pengambilan keputusan. Ketika IHSG tampil terlalu optimis atau sebaliknya terlalu pesimis dibanding kondisi riil, investor bisa keliru membaca risiko. Keputusan yang diambil tak lagi rasional. Dan sayangnya, hal ini sudah terjadi sekarang.

Kedua, alokasi modal jadi tidak efisien. Uang bisa mengalir ke sektor yang digerakkan spekulasi semata, bukan kinerja nyata. Padahal di saat ekonomi nasional sedang haus likuiditas, dana justru hilang ke sektor yang belum tentu menyumbang pertumbuhan, apalagi membuka lapangan kerja. Startup hingga UMKM makin kesulitan modal, sebab pasar sibuk menumpuk dana di saham besar yang tidak menggambarkan ekonomi riil. Akibatnya, yang kecil makin terpinggirkan.

Ketiga, muncul perasaan gamang dalam menentukan arah kebijakan. Ada kabar bahwa pemerintah ingin mendorong naiknya IHSG. Untuk apa? Tidak jelas. Kita tahu, IHSG sering dipoles layaknya kosmetik: terlihat cantik di luar, padahal rapuh di dalam. Ekonomi sesungguhnya bisa melemah, tetapi indeks dipaksa tampil gagah.

Dan kini mulai terdengar pula kegelisahan: risiko bubble semakin nyata. Ketika jurang antara pasar modal dan ekonomi riil melebar, potensi krisis pun mengintai. Gelembung bisa pecah, diiringi koreksi tajam, bahkan krisis kepercayaan.

Apa jadinya jika IHSG meroket, sementara daya beli masyarakat terus turun? Publik bisa merasa sistem ekonomi timpang. Percaya atau tidak, perasaan ketidakadilan ini bisa memicu kecemburuan sosial. Karena yang meraup untung hanya segelintir pemain besar, sementara mayoritas tak merasakan apa-apa.

Kalau kita tengok sejarah, bukan sekali ini dunia mengalaminya. Jepang di dekade 1980-an pernah diterpa gelembung ekonomi besar hingga masuk era “The Lost Decade.” Amerika, giliran 2008, dihantam krisis finansial lantaran pasar modal sudah terlalu jauh melenceng dari fondasi ekonomi riil.

Keduanya memberi pelajaran berharga: pasar saham yang dibiarkan lepas kendali dari fundamental hanya akan berujung pada bencana.

Bagaimana dengan Indonesia? Ada beberapa poin penting yang bisa dipetik dari pengalaman Jepang dan Amerika. Pertama, penting menjaga kebijakan ekonomi berbasis fundamental. Pertumbuhan IHSG mestinya mencerminkan kinerja perusahaan dan daya tahan ekonomi, bukan euforia jangka pendek. Transparansi mutlak diperlukan, agar publik tidak kembali dikejutkan dengan krisis mendadak seperti 1998 atau 2008.

Kedua, perlunya pengawasan dan regulasi yang ketat. OJK harus benar-benar jadi garda depan, memastikan produk keuangan berisiko bisa dikendalikan, bukan dibiarkan membengkak jadi bom waktu.

Ketiga, diversifikasi ekonomi mutlak. Jangan bergantung hanya pada ekspor atau satu sektor, karena ketika permintaan global melemah, kita bisa ikut terseret. Sektor domestik dan UMKM harus diperkuat.

Keempat, kolaborasi regional dan global. Indonesia perlu memaksimalkan posisi di ASEAN dan G20 untuk memastikan sistem keuangan lebih tangguh menghadapi badai global.

Di sisi lain, reformasi pasar modal dalam negeri terus berjalan. Jumlah investor ritel meningkat tajam hingga 16,9 juta orang per Juni 2025. Bursa Efek Indonesia sekarang makin gencar menggelar edukasi, simulasi trading, hingga program Sekolah Pasar Modal berbasis online maupun syariah.

Tujuannya jelas: mencetak investor yang melek risiko, bukan sekadar ikut-ikutan. Pasar modal Indonesia butuh kualitas, bukan cuma kuantitas.

Untuk investor pemula, strategi dasarnya sederhana: pilih saham karena kinerja perusahaan, bukan karena euforia. Pelajari laporan keuangan. Fokus pada laba bersih, utang, dan arus kas. Jangan tergoda FOMO. Ingat, investasi bukan jalan pintas untuk jadi kaya, tapi cara bertumbuh konsisten dalam jangka panjang.

Kalau mau membahas sektornya lebih detail, ada beberapa pilihan menarik. Sektor energi sedang tertekan, tapi peluang rebound tetap ada jika harga global kembali stabil. Sektor teknologi mencuri sorotan, terutama karena tren AI dan digitalisasi. Sementara consumer goods tetap jadi pilihan aman karena produknya menyangkut kebutuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, investasi yang cerdas selalu berpijak pada data, bukan emosi. Pasar modal boleh penuh gejolak, tapi pegangan paling kokoh tetap satu: fundamental.

More From Author

blank

WIKA Beton hadir di WOCA 2025, Memperkuat Inovasi Indonesia di Panggung Dunia

blank

Rekomendasi Buku Keberlanjutan 2025: “Menuju Indonesia yang Berkelanjutan”

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan