Jakarta, INVESTOR IDN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 3,25 poin atau 0,04% ke level 8.166,03 pada perdagangan Rabu (8/10).
Koreksi kecil ini terjadi setelah IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sebelumnya, di tengah aksi ambil untung investor dan pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke posisi 115 — level terendah sejak Mei 2022. Meski begitu, nilai transaksi harian tetap tinggi mencapai Rp29,01 triliun, mencerminkan minat beli yang masih solid di tengah tekanan jangka pendek.
Dari sisi makro, pelemahan rupiah ke Rp16.606 per dolar AS berdasarkan kurs JISDOR menunjukkan tekanan eksternal dari penguatan dolar global masih kuat. Kondisi ini menambah kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, meski aliran dana asing belum sepenuhnya keluar dari pasar domestik.
Secara teknikal, Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan IHSG masih bertahan di atas area support kuat di kisaran MA20 pada 8.044 hingga lower wedge di 8.000. “Selama level tersebut tidak ditembus, peluang rebound masih terbuka apabila tekanan jual mereda,” imbuh dia, Kamis (9/10/2025).
Saham Energi dan Teknologi Jadi Penopang, ADRO dan ANTM Bersinar
Sektor energi dan teknologi menjadi motor utama penggerak pasar di tengah koreksi indeks. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melonjak 12,12%, didorong sentimen positif dari kenaikan harga batu bara dan peningkatan ekspor. Sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 6,05% berkat lonjakan harga emas dunia yang menembus rekor baru di atas US$4.000 per troy ounce dan prospek permintaan logam yang kian meningkat seiring percepatan transisi energi global.
Menurut Hendra, rotasi sektor yang terjadi merupakan fenomena alami setelah fase reli panjang di saham-saham big cap. “Investor mulai melakukan rotasi ke saham-saham komoditas dan energi yang tengah menikmati momentum harga tinggi. Ini sinyal bahwa pasar sedang mencari sektor baru yang punya potensi upside lebih besar,” jelas Hendra.
Sebaliknya, saham-saham perbankan justru menjadi penekan IHSG. BBCA terkoreksi 2,64% dan BMRI turun 0,93% akibat aksi profit taking investor asing. Saham Barito Renewables Energy (BREN) juga turun 3,26%, menandakan pergeseran minat pasar dari sektor defensif ke sektor siklikal seperti energi dan bahan baku. “Koreksi di saham perbankan bersifat teknikal dan bukan karena faktor fundamental,” tambah Hendra.
Rekomendasi Saham Kamis: ADRO, SCMA, hingga CBDK Layak Dikoleksi
Menjelang perdagangan Kamis (9/10), Hendra menilai sejumlah saham masih berpeluang menguat dan menarik untuk dikoleksi. Saham ADRO direkomendasikan buy dengan target harga Rp2.000 per lembar, seiring tren kenaikan harga batu bara dan stabilnya permintaan global.
Sementara itu, SCMA disarankan akumulasi dengan target Rp500, didukung aksi korporasi grup EMTK yang terus memperkuat kepemilikan dan rumor positif mengenai rencana IPO Superbank serta pengembangan platform Vidio.
Untuk saham lain, MINA dinilai berpotensi rebound secara teknikal menuju resistance di level Rp270. Sementara CBDK direkomendasikan dengan target Rp8.000 karena prospek pertumbuhan bisnis ritel premiumnya yang menjanjikan.
“Koreksi yang terjadi saat ini justru bisa menjadi momentum akumulasi bertahap bagi investor jangka menengah,” ujar Hendra.
Secara keseluruhan, Hendra menilai arah IHSG masih positif dalam jangka pendek. “Potensi penguatan IHSG masih terbuka menuju area resistance 8.247. Fokus tetap pada saham-saham berfundamental kuat di sektor energi, media, dan konsumsi yang berpeluang outperform di tengah rotasi sektor,” pungkasnya.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham maupun instrumen investasi lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
(Penulis: Pipit Ramadhani/Foto: Designed by Freepik)

