Jakarta, INVESTOR IDN– Masyarakat Investor Independen (MII) Indonesia resmi diluncurkan dalam acara bertajuk “Suara Investor Independen di Tengah Pasar Modal” yang digelar secara virtual. Inisiatif ini digagas oleh Thendri Supriatno selaku Chairman sekaligus Founder MII Indonesia, yang menilai perlunya wadah independen bagi investor ritel dan institusional untuk memperjuangkan literasi, etika, serta integritas di pasar modal Indonesia.
Menurut Thendri, MII Indonesia hadir untuk menjawab kesenjangan informasi dan ketimpangan kekuatan di pasar modal. “Selama ini banyak investor kecil yang tidak punya akses informasi yang memadai. MII hadir untuk memperkuat suara mereka,” tegasnya, Selasa (14/10/2025).
Thendri menambahkan bahwa investor independen berperan penting dalam menjaga transparansi dan keadilan di ekosistem investasi nasional. MII Indonesia diharapkan menjadi gerakan jangka panjang yang tak hanya melindungi kepentingan investor, tetapi juga mendorong transformasi budaya di dunia pasar modal. Program-program MII ke depan mencakup pelatihan literasi finansial, riset independen, advokasi kebijakan, serta kolaborasi dengan pelaku pasar dan lembaga regulator.

Sebagai Co-Founder MII Indonesia, Mas Achmad Daniri turut memperkuat fondasi intelektual dan arah strategis organisasi ini melalui peluncuran bukunya berjudul “Strategi GRC Terintegrasi”.Buku tersebut menjadi panduan penting dalam memahami bagaimana Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) dapat diintegrasikan untuk mendukung penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) secara komprehensif.
Daniri menekankan bahwa penerapan ESG tidak boleh berhenti pada jargon, melainkan harus menjadi budaya yang hidup di setiap aktivitas bisnis. “GRC terintegrasi itu bukan sekadar sistem kontrol, tapi alat untuk mencapai sasaran ESG. Kalau tidak dijalankan sehari-hari, ESG hanya akan jadi jargon,” kata Daniri.
Asal tahu saja, Daniri merupakan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (sekaran Bursa Efek Indonesia/BEI) periode periode 1991-2002. Melalui buku ini, Daniri mengajak perusahaan dan lembaga untuk membangun sistem pengelolaan yang berorientasi pada keberlanjutan dan akuntabilitas. Ia memperkenalkan konsep matriks integrasi GRC–ESG, sebuah pendekatan ilmiah yang memungkinkan perusahaan mengukur efektivitas tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan secara holistik.
Dari Norma Menuju Manfaat Strategis: Makna Nyata Penerapan GRC
Dalam sesi diskusi, Daniri mengungkapkan tantangan terbesar dalam penerapan GRC adalah mengubah paradigma dari sekadar kepatuhan formal menjadi manfaat strategis. Banyak perusahaan masih melihat GRC sebagai “hiasan kebijakan” tanpa memahami nilai tambahnya bagi bisnis.
“Jadi kalau bicara G (Governance), sebaiknya diikuti juga secara terintegrasi antara G, R dan C dengan tujuan untuk mencapai ESG,” kata Daniri.
Menimpali, Thendri yang juga berkecimpung di bidang keberlanjutan (sustainability), mengatakan implementasi GRC dan ESG harus sejalan dengan core business dan core competency perusahaan agar memberikan dampak nyata. Dengan cara itu, perusahaan tidak hanya memenuhi kewajiban sosial, tetapi juga memperkuat daya saing dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
“Kalau program CSR-nya cuma kasih bebek atau kambing, itu bagus untuk citra, tapi tidak memberi strategic benefit,” ujarnya mencontohkan. “Bayangkan kalau perusahaan migas membina UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok mereka—itulah yang menciptakan value creation nyata,” imbuh Thendri.
MII Indonesia Siap Perkuat Literasi dan Integritas Pasar Modal
Selain memperjuangkan kepentingan investor independen, MII Indonesia memiliki visi besar untuk membangun pasar modal yang berintegritas dan berlandaskan pengetahuan. Menurut Thendri Supriatno, banyak investor ritel di Indonesia yang masih berorientasi pada spekulasi jangka pendek tanpa memahami fundamental perusahaan.
“Kita tidak bisa membiarkan pasar modal hanya jadi arena tebak-tebakan. Investor perlu memahami apa yang mereka beli dan kenapa,” ujar Thendri.
Ke depan, MII Indonesia akan berfokus pada tiga pilar utama: edukasi publik melalui kelas literasi, riset dan advokasi kebijakan, serta kolaborasi lintas lembaga untuk menjaga etika di pasar modal. Dengan strategi ini, MII Indonesia tidak hanya menjadi wadah, tapi juga movement yang memperkuat posisi investor independen sebagai elemen penting dalam menjaga ekosistem pasar yang transparan dan berkelanjutan.
