blank

Geliat Saham Syariah BUMN: Indeks IDX-MES BUMN 17 di Tengah Dinamika Pasar Oktober 2025

Jakarta, INVESTOR IDN – Di tengah gejolak pasar modal global dan ketidakpastian ekonomi domestik, Indeks IDX-MES BUMN 17 menampilkan kisah yang menarik tentang ketahanan dan volatilitas saham-saham Badan Usaha Milik Negara berbasis syariah. Indeks ini, yang mengukur kinerja 17 saham syariah BUMN dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, telah menjadi barometer penting bagi investor yang mencari kombinasi antara nilai-nilai syariah dan fundamental perusahaan pelat merah.​

Kinerja Spektakuler Saham Syariah BUMN

Sepanjang tahun 2025, Indeks Saham Syariah Indonesia mencatatkan pertumbuhan mengejutkan sebesar 22,81% year-to-date hingga akhir Agustus, melampaui kinerja IHSG yang hanya tumbuh 9,32%. Kapitalisasi pasar modal syariah mencapai Rp8.856,95 triliun, setara dengan 62,55% dari total kapitalisasi pasar Indonesia. Keberhasilan ini membuktikan bahwa instrumen syariah mampu memberikan imbal hasil kompetitif, bahkan superior dibandingkan instrumen konvensional.​

Sementara pada Oktober 2025, IDX-MES BUMN 17 menunjukkan pertumbuhan 1,18% di tengah IHSG yang bergerak sideways. Performa ini didorong oleh beberapa emiten unggulan yang berhasil memanfaatkan momentum pasar.​

ANTM: Penguasa Emas di Tengah Reli Logam Mulia

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi bintang terang dalam konstelasi IDX-MES BUMN 17. Harga saham ANTM menguat 1,17% menjadi Rp3.470 pada perdagangan 17 Oktober 2025, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp83,387 triliun. Performa gemilang ini sejalan dengan lonjakan harga emas global yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$4.300 per troy ounce.​

Kinerja keuangan ANTM pada semester I-2025 sungguh memukau. Perusahaan membukukan pendapatan Rp59,02 triliun, melonjak 154,51% secara tahunan, dengan laba bersih mencapai Rp5,19 triliun atau tumbuh lebih dari tiga kali lipat. Segmen emas berkontribusi 83,9% terhadap total pendapatan, sementara segmen nikel mendominasi profitabilitas dengan kontribusi 68,6% terhadap laba bersih meskipun hanya menyumbang 13,3% penjualan.​

Harga emas Antam domestik ikut melonjak, mencapai Rp2.485.000 per gram pada 17 Oktober 2025, naik Rp78.000 dari hari sebelumnya. Reli emas dipicu oleh kombinasi faktor: spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik AS-China, tren dedolarisasi, dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral global.​

PGEO: Energi Bersih yang Prospektif

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menampilkan narasi transisi energi yang menjanjikan. Saham PGEO menguat tajam 3,32% menjadi Rp1.400 pada perdagangan Oktober, dengan kapitalisasi pasar Rp51,433 triliun. Meskipun sempat mengalami volatilitas ekstrem dengan penurunan 7,17% beberapa hari sebelumnya, prospek jangka panjang PGEO tetap solid.​

Pada semester I-2025, PGEO membukukan pendapatan US$204,85 juta, tumbuh 0,53% secara tahunan, dengan laba bersih US$68,93 juta. Utilisasi PLTP Kamojang mencapai 90%, jauh di atas rata-rata normal 70%, menunjukkan efisiensi operasional yang luar biasa.​

PGEO tengah menjalankan ekspansi ambisius melalui kerja sama dengan PLN Indonesia Power untuk pengembangan kapasitas tambahan 530 MW, yang akan mempercepat pembangunan 19 proyek panas bumi sesuai RUPTL 2025-2034. Dengan kapasitas terpasang saat ini 727 MW yang dikelola langsung dan target mencapai 1 GW dalam dua hingga tiga tahun, PGEO berada dalam posisi strategis untuk menangkap peluang transisi energi nasional.​

TLKM: Raksasa Telekomunikasi Hadapi Tantangan

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menghadapi tahun yang menantang. Saham TLKM terkoreksi 1,69% menjadi Rp2.900, dengan kapitalisasi pasar Rp287,280 triliun — tetap menjadi emiten terbesar dalam indeks.​

Kinerja semester I-2025 menunjukkan tekanan: pendapatan turun 3,04% menjadi Rp73 triliun, sementara laba bersih menyusut 6,68% menjadi Rp10,97 triliun. Manajemen merevisi proyeksi pendapatan 2025 menjadi flat dan berupaya menjaga margin EBITDA di sekitar 50%.​

Namun, TLKM tidak tinggal diam. Perusahaan memperkuat posisinya sebagai tulang punggung ekosistem digital nasional melalui ekspansi agresif di sektor data center. NeutraDC mencatat okupansi hampir 90% dan menargetkan peningkatan kapasitas operasional hingga 80 MW pada akhir 2025, dengan ambisi mencapai 400-500 MW pada 2030. Investasi Rp1,4 triliun untuk membangun data center berteknologi AI di Batam dijadwalkan operasional kuartal III-2025, menargetkan pasar Singapura dan regional.​

BRIS: Bank Syariah dengan Pertumbuhan Double Digit

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membuktikan ketahanan perbankan syariah di tengah perlambatan industri. Saham BRIS terkoreksi tipis 0,79% menjadi Rp2.500, dengan kapitalisasi pasar Rp115,323 triliun.​

BSI membukukan laba bersih Rp3,74 triliun pada semester I-2025, tumbuh double digit 10,22% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi aset 10,82% menjadi Rp400 triliun, pembiayaan 13,93% menjadi Rp293,24 triliun, dan DPK 8,83% menjadi Rp323 triliun — semuanya melampaui pertumbuhan industri perbankan.​

Kualitas aset BSI membaik dengan NPF gross turun menjadi 1,87% dari 1,99%, sementara FDR naik menjadi 90,75%. Transformasi digital menjadi pendorong utama: pengguna aplikasi BYOND mencapai 4,49 juta, tumbuh 126% year-to-date.​

Yang unik, BSI mengandalkan “unique sharia product” sebagai mesin pertumbuhan: tabungan haji dan bisnis emas. Dari 203 ribu jemaah haji Indonesia, 84% merupakan nasabah BSI. Tabungan haji mencapai 6,2 juta nasabah dengan outstanding Rp14,2 triliun. Setelah memperoleh lisensi Bullion Bank pada Februari 2025, kontribusi bisnis emas terhadap pendapatan naik menjadi 5% per Juni 2025.​

JSMR: Operator Tol Hadapi Tahun Berat

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengalami tahun yang penuh tantangan. Saham JSMR melonjak 13,29% dalam satu hari menjadi Rp3.920, menunjukkan volatilitas tinggi. Dengan kapitalisasi pasar Rp27,362 triliun dan posisi market leader dengan 1.294 km jalan tol (42% dari total nasional), JSMR tetap menjadi pemain dominan.​

Namun, kinerja semester I-2025 mengecewakan: pendapatan turun 1% menjadi Rp12,9 triliun, laba bersih anjlok 20,3% menjadi Rp1,87 triliun. Meski demikian, laba inti tumbuh 7,1% menjadi Rp1,9 triliun, didukung penurunan biaya keuangan 20,4% sebagai dampak positif equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol.​

Manajemen optimistis semester II-2025 akan membaik, didukung oleh 637,3 juta kendaraan selama semester I (rata-rata 3,5 juta kendaraan harian), peningkatan volume lalu lintas, penyesuaian tarif tol, dan peningkatan pendapatan non-tol. JSMR fokus pada lima proyek jalan tol strategis, termasuk operasionalisasi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo segmen Klaten-Prambanan sepanjang 7,85 km pada 6 Agustus 2025.​

Emiten Konstruksi: Bangkit di Tengah Restrukturisasi Danantara

Saham-saham BUMN konstruksi menunjukkan penguatan signifikan, meski kinerja keuangan masih terbebani utang. PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) terkoreksi 2,33% menjadi Rp252, dengan kapitalisasi pasar Rp2,117 triliun. PT PP (Persero) Tbk (PTPP) turun 2,66% ke Rp366, dengan kapitalisasi pasar Rp2,269 triliun. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) terkoreksi 3,03% ke Rp96, dengan kapitalisasi pasar Rp837 miliar.​

Namun, dalam sebulan terakhir, ADHI naik 10,69%, PTPP naik 1%, dan WTON naik 14,13%. Kenaikan ini didorong oleh harapan perbaikan struktur perusahaan melalui wacana merger dan restrukturisasi di bawah Danantara.​

Danantara merencanakan konsolidasi menyeluruh BUMN konstruksi, mengurangi tujuh entitas menjadi tiga perusahaan kontraktor yang solid. COO Danantara Dony Oskaria menegaskan, bisnis akan dipusatkan pada konstruksi, tanpa lagi memiliki bisnis hotel, air minum, tol, atau perumahan. “Ini akan memakan energi yang banyak, tapi perlu dilakukan demi keselamatan BUMN yang dimiliki Indonesia,” ujar Dony.​

Hingga September 2025, PTPP mencatatkan kontrak baru Rp14,78 triliun, ADHI Rp3,5 triliun (dengan kontribusi BUMN 58% dan pemerintah 22%), dan WTON Rp2,79 triliun (naik 2,88%). Proyek-proyek strategis seperti Tol Bogor-Serpong via Parung senilai Rp12,35 triliun memberikan sentimen positif.​

Emiten yang Tertekan: PTBA, SMGR, dan PGAS

Tidak semua emiten dalam indeks menampilkan kisah sukses. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terkoreksi 1,36% menjadi Rp2.180, dengan kapitalisasi pasar Rp25,115 triliun. Meskipun produksi batu bara meningkat 16% menjadi 21,73 juta ton pada semester I-2025, laba bersih anjlok 59% menjadi hanya Rp833,04 miliar.​

Penurunan ini dipicu oleh harga batu bara global yang melemah: indeks ICI-3 turun 14% menjadi US$65,15 per ton, sementara Newcastle merosot 22% menjadi US$102,51 per ton. Dengan rasio pembayaran dividen 75%, dividend yield PTBA berpotensi turun di bawah 10% pada 2025.​

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) juga menghadapi tahun yang berat. Saham SMGR turun 0,41% ke Rp2.410, dengan kapitalisasi pasar Rp16,271 triliun. Pada semester I-2025, pendapatan turun 5% menjadi Rp15,6 triliun, sementara laba bersih ambruk 92% menjadi hanya Rp40 miliar.​

Permintaan semen domestik turun 3,1% menjadi 27,16 juta ton, dengan penurunan tajam 22,2% di luar Jawa. SMGR kehilangan 2,9% pangsa pasar di semen sak dan 2% di semen curah. Meski demikian, manajemen optimistis permintaan akan pulih di semester II-2025, didorong oleh belanja pemerintah dan konsumsi domestik.​

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terkoreksi 0,62% ke Rp1.615, dengan kapitalisasi pasar Rp39,150 triliun. Pada semester I-2025, pendapatan tumbuh 5,4% menjadi US$1,94 miliar, namun laba bersih turun 22,6% menjadi US$144,4 juta akibat kenaikan beban pokok 13,3%. Konsensus analis menunjukkan keraguan: hanya 45,8% merekomendasikan beli, 45,8% hold, dan 8,4% sell.​

Kejutan TINS: Roket yang Terbang Terlalu Tinggi

PT Timah Tbk (TINS) menjadi fenomena pasar dengan lonjakan harga 148% dalam sebulan terakhir, mencapai Rp2.880 sebelum disuspensi pada 10 Oktober 2025. Kenaikan spektakuler ini terjadi di tengah penurunan kinerja: laba bersih semester I-2025 turun 30,93% menjadi Rp300,07 miliar, sementara pendapatan turun 19% menjadi Rp4,22 triliun.​

Lonjakan dipicu oleh sentimen positif: penyerahan enam smelter rampasan negara kepada TINS. Dengan PER 33,63x dan PBV 2,77x, analis menilai valuasi sudah over-extended dan pasar sedang “membayar ekspektasi” atas potensi masa depan, bukan kinerja historis. Dalam jangka pendek, saham rawan aksi ambil untung, namun jangka menengah masih punya ruang naik moderat jika dikonfirmasi outlook produksi yang lebih jelas.​

Wajah Lain IDX-MES BUMN 17

Emiten-emiten lain dalam indeks juga menampilkan dinamika menarik. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) terkoreksi 1,79% ke Rp550 dengan kapitalisasi pasar Rp45,958 triliun. PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) turun 1,16% ke Rp850 dengan kapitalisasi pasar Rp10,974 triliun.​

Emiten seperti PT Elnusa Tbk (ELSA) turun 1,23% ke Rp482 dengan kapitalisasi pasar Rp3,518 triliun, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) turun 0,94% ke Rp1.055 dengan kapitalisasi pasar Rp1,918 triliun, dan PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) turun 2,41% ke Rp81 dengan kapitalisasi pasar Rp1,321 triliun.​

ELSA menunjukkan kinerja operasional positif dengan pendapatan semester I-2025 tumbuh 10% menjadi Rp6,9 triliun dan laba bersih Rp336 miliar. Perusahaan mengoptimalkan bisnis trading BBM industri dan jasa transportasi BBM, serta melakukan diversifikasi ke usaha pertambangan dan ekspansi pasar global.​

Prospek dan Tantangan ke Depan

Memasuki kuartal IV-2025, IDX-MES BUMN 17 menghadapi lanskap yang kompleks. Di satu sisi, indeks saham syariah telah membuktikan kemampuannya memberikan imbal hasil superior. Proyeksi IHSG Oktober 2025 menunjukkan peluang penguatan terbatas di level 8.035–8.250 dengan probabilitas penguatan 80%, didukung prospek ekonomi stabil, stimulus fiskal, dan investasi Danantara.​

Sentimen positif datang dari harga emas global yang terus mencetak rekor, ekspektasi penurunan suku bunga BI pada awal 2026, serta reformasi struktural BUMN di bawah Danantara. Restrukturisasi BUMN karya yang ditargetkan rampung akhir 2025 berpotensi menciptakan tiga entitas konstruksi yang lebih kompetitif.​

Namun, risiko tetap mengintai: ketidakpastian politik domestik, regulasi tambang yang dinamis, defisit transaksi berjalan, sentimen negatif korporasi BUMN yang terlilit utang, serta ketergantungan pada harga komoditas global. Untuk emiten seperti PTBA dan PGAS yang sensitif terhadap harga, pemulihan akan sangat bergantung pada kondisi pasar global.​

Kesimpulan

Indeks IDX-MES BUMN 17 mencerminkan kompleksitas dan keragaman lanskap korporasi BUMN Indonesia. Dari ANTM yang melejit bersama harga emas hingga SMGR yang terpuruk akibat lemahnya permintaan domestik, dari PGEO yang mengambil peran strategis dalam transisi energi hingga emiten konstruksi yang berharap pada restrukturisasi Danantara — setiap saham menceritakan narasi uniknya sendiri.

Bagi investor syariah, indeks ini menawarkan kombinasi menarik antara kepatuhan prinsip syariah dan eksposur terhadap sektor-sektor strategis ekonomi nasional. Dengan kapitalisasi pasar syariah yang mencapai 62,55% dari total pasar dan kinerja yang melampaui IHSG, saham-saham syariah BUMN telah membuktikan bahwa investasi berbasis nilai dapat berjalan beriringan dengan imbal hasil yang kompetitif.​

Ke depan, kesuksesan indeks ini akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen BUMN beradaptasi dengan perubahan struktural, memanfaatkan momentum transisi energi dan digitalisasi, serta mengeksekusi reformasi korporasi di bawah Danantara. Dalam kata-kata COO Danantara Dony Oskaria, “Ini akan memakan energi yang banyak untuk melakukan proses ini sehingga perusahaan-perusahaan ini menjadi perusahaan yang berjalan sesuai koridornya” — sebuah perjalanan transformasi yang akan menentukan masa depan saham-saham syariah BUMN Indonesia.​

More From Author

blank

Profil Glenny H. Kairupan, Purnawirawan Jenderal Dekat Prabowo yang Jadi Dirut Garuda Indonesia

blank

Proyek Whoosh Jadi Beban Berat WIKA, Investor Publik Terjebak Suspensi Saham

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan