Jakarta, INVESTOR IDN – Harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) terus menunjukkan momentum penguatan yang solid, menciptakan prospek cerah bagi emiten-emiten perkebunan Indonesia hingga akhir tahun. Tren positif ini tidak hanya didorong oleh dinamika pasar global, tetapi juga dukungan kuat dari kebijakan energi terbarukan yang mulai implementasi di dalam negeri.
Prospek CPO: Penawaran Terbatas, Permintaan Membludak
Riset terbaru mencatat proyeksi harga CPO akan terus berada dalam tren kuat sepanjang tahun fiskal 2025-2027. Pendukung utama adalah dinamika penawaran-permintaan yang semakin menguntungkan. Rata-rata harga CPO pada akhir tahun 2025 diperkirakan akan naik 2% secara tahunan, mencapai level MYR 4.300 per ton—angka yang mencerminkan kebangkitan sektor perkebunan.
Penguatan harga didorong oleh beberapa faktor fundamental. Pertama, implementasi mandatori bahan bakar nabati (B40) dengan komposisi 40% CPO sepanjang tahun terus menyerap volume produksi domestik. Kedua, substitusi kedelai yang berkelanjutan memungkinkan CPO mengisi celah pasar alternatif. Ketiga, permintaan yang robust dari India menambah tekanan positif pada harga. Keempat, pasokan CPO global masih terkendala keterbatasan lahan dan tenaga kerja, meski ada risiko dampak La Niña yang dapat meningkatkan produksi.
Dalam perspektif jangka panjang, harga CPO diperkirakan akan stabil di sekitar MYR 4 ribu per ton. Stabilitas ini dijamin oleh pertumbuhan permintaan struktural yang cukup seimbang dengan keterbatasan pasokan berkelanjutan. Kondisi ini menciptakan floor harga yang relatif aman bagi investor.
Pertumbuhan Laba Emiten: Ganda digit Menanti
Proyeksi pertumbuhan laba emiten sektor CPO sangat menggembirakan. Secara keseluruhan, keuntungan bersih (net profit) inti emiten diperkirakan akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 15% pada periode fiskal 2025-2027—sebuah pertumbuhan yang signifikan dalam konteks ekonomi makro yang penuh ketidakpastian.
Kontribusi terdepan dalam pertumbuhan ini akan datang dari PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), yang diprediksi memimpin sektor dengan CAGR mencapai 36%. Momentum ini didukung oleh strategi deleveraging agresif perusahaan dan perbaikan operasional berkelanjutan. Proyeksi ini menunjukkan bahwa DSNG tidak hanya menuai keuntungan dari naiknya harga komoditas, tetapi juga melakukan efisiensi internal yang mendalam.
Indikator keuangan lainnya juga menunjukkan pemulihan sektor. Neraca industri perkebunan diperkirakan akan sehat pada 2027, dengan kas bersih yang meningkat menjadi rasio 0,1x–0,2x. Kondisi ini mengindikasikan likuiditas yang lebih kuat dan kemampuan emiten untuk memberikan return kepada pemegang saham.
Katalis Pertumbuhan: Mandat B50 dan Keterbatasan HGU
Salah satu katalis pertumbuhan terpenting datang dari mandat Bahan Bakar Nabati 50% (B50) yang dijadwalkan berlaku pada 2026. Implementasi mandatori ini diproyeksikan dapat menyerap 3-4 juta kiloliter CPO per tahun, secara fundamental memperketat neraca penawaran-permintaan global. Jika skenario ini terealisasi dengan lancar, harga CPO berpotensi meningkat 8%-12% pada periode fiskal 2026-2027, yang pada gilirannya akan mendorong peningkatan laba emiten sebesar 10%-48%.
Di sisi penawaran, keterbatasan Hak Guna Usaha (HGU) Indonesia dapat membatasi ekspansi produksi, memberikan dukungan harga dari sisi supply yang terkontrol.
Risiko Terukur: Brasil dan Regulasi Eropa
Meski prospek optimis mendominasi, investor tetap perlu mempertimbangkan beberapa risiko potensial. Ekspansi lahan perkebunan di Brasil dan implementasi Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) dapat menekan permintaan global. Namun, analisis menunjukkan dampak tersebut mungkin terbatas karena India dan Indonesia memiliki kapasitas untuk menyerap volume tambahan dari ekspansi lahan baru.
Dalam skenario tekanan ekstrem—ketika kedua negara gagal menyerap volume tambahan—harga CPO dapat terkoreksi 3%-13% pada 2026-2027, dengan potensi penurunan pendapatan emiten sebesar 3%-35%. Meskipun risiko ini ada, probabilitasnya dianggap rendah mengingat trajectory permintaan global yang terus meningkat.
Rekomendasi Saham: Tiga Pilihan Strategis
Untuk investor yang ingin memanfaatkan momentum sektor CPO, tiga saham direkomendasikan sebagai fokus investasi.
PT Dharma Satya Nusantara (DSNG) ditetapkan sebagai top pick dengan target harga Rp 2.400 per saham. Saham ini menawarkan pertumbuhan paling agresif di sektor dengan CAGR 36%, didukung program deleveraging dan efisiensi operasional yang jelas.
PT Triputra Agro Persada (TAPG) masuk dalam daftar rekomendasi beli dengan target harga Rp 2.100 per saham, menawarkan kombinasi pertumbuhan solid dan valuasi yang masih reasonable.
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia (LSIP) juga direkomendasikan dengan target harga Rp 1.500 per saham, memberikan akses terhadap eksposur sektor perkebunan dengan profil risiko yang berbeda.
Secara keseluruhan, sektor CPO menerima rating Overweight,mencerminkan optimisme atas prospek pertumbuhan dan pengembalian modal yang menarik bagi investor di tengah ketidakpastian pasar makro.

