Jakarta, INVESTOR IDN – Perjalanan investasi Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau Asabri adalah kisah yang penuh warna, drama, dan pelajaran berharga bagi industri keuangan Indonesia. Di tahun 2025 ini, portofolio saham yang dipegang oleh lembaga yang mengelola dana pensiun dan asuransi ribuan anggota TNI dan Polri masih terus menjadi sorotan publik—terutama setelah skandal korupsi yang merugikan negara mencapai Rp22,78 triliun.
Latar Belakang: Dari Mula Hingga Krisis
Asabri bukan perusahaan biasa. Lembaga ini mengelola dana yang berasal dari potongan gaji prajurit TNI dan POLRI setiap bulannya, dana yang nilainya mencapai Rp35 triliun. Setiap rupiah dari dana tersebut adalah hasil kerja keras, keringat, dan dedikasi mereka yang berada di garis depan. Namun, apa yang terjadi selama bertahun-tahun adalah cerita investasi yang bermasalah, dikelola dengan strategi yang dipertanyakan, dan pada akhirnya merugikan jutaan orang.
Pada awal 2020, publik terkejut ketika terungkap bahwa Asabri mengalami kerugian investasi yang diperkirakan mencapai Rp10 triliun akibat pengelolaan saham yang buruk. Investigasi lebih lanjut oleh Kejaksaan Agung menemukan bahwa kerugian sebenarnya jauh lebih besar, mencapai Rp22,78 triliun. Skandal ini melibatkan tidak hanya manajemen Asabri, tetapi juga puluhan manajer investasi yang seharusnya melindungi dana publik namun justru turut serta dalam pengelolaan aset yang tidak profesional dan merugikan.
Portofolio Saat Ini: Saham-Saham Berisiko Tinggi
Memasuki tahun 2025, portofolio Asabri masih menampilkan karakteristik yang mengkhawatirkan. Data dari Mei hingga Oktober 2025 menunjukkan bahwa perusahaan terus memegang saham-saham dari emiten-emiten dengan profil risiko yang tinggi dan likuiditas terbatas.
Berdasarkan pencatatan perubahan kepemilikan saham di atas 5% di Bursa Efek Indonesia hingga Mei 2025, ada sebelas saham yang masih dipegang Asabri dengan nilai total mencapai Rp1,14 triliun. Kesebelas saham tersebut adalah PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), PT Inti Agro Resources Tbk (IIKP), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL), PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO), PT SMR Utama Tbk (SMRU), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM).
Namun, cerita di balik angka-angka ini lebih pelik. Dari sebelas saham itu, delapan di antaranya sedang mengalami suspensi—penghentian sementara perdagangan di bursa. Ini berarti pemegang saham tidak bisa menjual atau membeli saham-saham tersebut, akibatnya dana mereka terkunci tanpa bisa dikelola dengan fleksibel.
Penambahan Portofolio: Strategi Lama atau Harapan Baru?
Pada pertengahan Mei 2025, terjadi momen penting ketika Asabri sekaligus menambah kepemilikan di sembilan saham berbeda. Penambahan kepemilikan terbesar adalah di PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO), perusahaan properti dan real estate, di mana Asabri membeli 1,06 miliar saham sehingga kepemilikannya naik dari 6 persen menjadi 8,4 persen.
Selain RIMO, Asabri juga membeli saham di perusahaan-perusahaan lain yang sebagian besar masih berada dalam sektor properti dan real estate, termasuk PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT PP Properti Tbk (PPRO), dan PT Agung Semesta Sejahtera Tbk (TARA). Kepemilikan di ketiga emiten ini meningkat secara marginal, masing-masing menjadi 5,43 persen, 5,48 persen, dan bergerak naik di TARA.
Transaksi yang menarik perhatian adalah ketika Asabri menjadi investor baru di PT Meta Epsi Tbk (MTPS), sebuah perusahaan engineering dan konstruksi. Dengan membeli lebih dari 104,79 juta saham, Asabri langsung memiliki 5,03 persen dari MTPS. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah ini merupakan strategi diversifikasi yang terukur, atau sekadar upaya untuk merestrukturisasi portofolio yang sudah rusak?
Mengingat sejarah Asabri, beberapa pengamat melihat penambahan ini dengan mata sceptis. Pada tahun-tahun sebelumnya, diungkap bahwa manajer investasi yang mengelola dana Asabri melakukan kesepakatan dengan pihak internal Asabri untuk menempatkan dana sebesar Rp300 miliar ke dalam reksa dana OSO Moluccas Equity Fund, bertujuan untuk merestrukturisasi saham-saham yang performanya menurun. Saham-saham seperti Hanson International (MYRX) dengan harga IPO Rp9.900 per saham kini jauh di bawah harga tersebut, BTEK, LCGP, dan lainnya menjadi simbol dari strategi investasi yang gagal.
Pembubaran Reksadana: Perubahan Strategi atau Pengakuan Kekalahan?
Salah satu perkembangan signifikan pada 2025 adalah pembubaran reksadana yang dilaksanakan manajer investasi atas perintah regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembubaran ini menghasilkan pengembalian aset kepada Asabri dalam bentuk uang tunai dan saham. Kepala Bidang Komunikasi Asabri, Kartika Rahmadayanti, menjelaskan bahwa penambahan kepemilikan saham di berbagai emiten merupakan konsekuensi langsung dari pembubaran reksadana ini.
Dalam satu perspektif, ini adalah tindakan positif dari regulator untuk membersihkan instrumen investasi yang bermasalah. Namun dari perspektif lain, pembubaran reksadana ini juga mencerminkan pengakuan bahwa strategi investasi melalui reksa dana telah gagal dan perlu dibongkar total. Dana yang semula diinvestasikan melalui intermediary kini kembali langsung kepada Asabri, meninggalkan pertanyaan besar: bagaimana Asabri akan mengelola dana ini ke depannya agar tidak terulang kesalahan yang sama?
Emiten Suspensi: Cerminan Investasi yang Salah Arah
Dari semua saham yang Asabri pegang, delapan di antaranya sedang tersuspensi. Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan karena suspensi biasanya terjadi karena perusahaan mengalami masalah fundamental, seperti gagal lapor, masalah dengan regulator, atau kondisi keuangan yang sangat memburuk. IIKP dan MYRX adalah dua contoh nyata saham yang sudah sangat lama tersuspensi dan tidak ada tanda-tanda normalisasi dalam waktu dekat.
Daftar saham yang masih memberikan kerugian mencakup Hanson International (MYRX) dengan harga IPO Rp9.900 kini jauh turun, PP Properti (PPRO) dari IPO Rp185 jatuh ke Rp66, Hartadinata Abadi (HRTA) dari Rp300 menjadi Rp204, dan beberapa emiten lainnya. Dari perhitungan BEI, dari 13 saham yang sempat dimiliki Asabri pada Januari 2020, delapan di antaranya memberikan return negatif.
Meskipun ada beberapa saham yang masih menunjukkan kinerja positif seperti Prima Cakrawala Abadi (PCAR) yang naik dari IPO Rp150 menjadi Rp338, namun ini adalah pengecualian, bukan aturan.
Nilai Investasi dan Kerugian Realitis
Total nilai kepemilikan Asabri pada sebelas saham utama hingga Mei 2025 adalah Rp1,14 triliun. Angka ini hanya mencakup saham-saham dengan kepemilikan di atas 5 persen. Jika ditambahkan dengan saham-saham lain yang mungkin dipegang dengan persentase di bawah 5 persen, total portofolio bisa jauh lebih besar lagi. Namun, yang paling penting bukan hanya nilai nominal, melainkan kerugian potensial yang tersembunyi di dalamnya.

