Jakarta, INVESTOR IDN – Setelah 40 hari berkubang dalam kebuntuan anggaran, Amerika Serikat akhirnya menemukan cahaya. Senat AS pada Minggu malam (10/11) mengambil suara final dan menyetujui rancangan undang-undang anggaran untuk menghentikan penutupan pemerintah, dengan hasil 60-40. Rancangan undang-undang ini kini akan dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat yang dijadwalkan untuk disahkan pada Rabu (12/11), sebelum akhirnya ditandatangani Presiden Donald Trump dan berlaku menjadi undang-undang.
Berita tentang berakhirnya shutdown ini langsung memberikan sentimen positif kepada pasar keuangan global. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 559,33 poin atau 1,18%, sementara S&P 500 mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru. Indeks MSCI untuk saham di seluruh dunia justru naik moderat 0,41% menjadi 1.009,12 karena investor menantikan berakhirnya ketidakpastian.
Shutdown sepanjang 40 hari ini mencatat rekor sebagai penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah Amerika, melampaui episode 34 hari pada era pertama Trump. Dampaknya sangat masif: 750 ribu pegawai federal dirumahkan tanpa gaji, puluhan juta warga terancam kelaparan karena subsidi makanan SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program) tidak disalurkan bulan November, ratusan penerbangan dibatalkan, dan data ekonomi penting seperti laporan Non-Farm Payrolls tertunda rilisnya.
Ketidakpastian Ekonomi yang Mengganggu Pasar
Persoalan bukan hanya pada dampak ekonomi langsung. Shutdown menciptakan “kabut kebijakan” yang membuat investor global bingung menentukan arah strategi. The Fed, otoritas moneter AS, kehilangan data ekonomi krusial untuk menentukan langkah suku bunga selanjutnya. Penundaan pelaporan Non-Farm Payrolls berarti The Fed tidak memiliki salah satu indikator utama untuk mengambil keputusan moneter, meningkatkan risiko kesalahan kebijakan (policy error).
Ketidakpastian ini membuat investor global bersikap defensif. Praktik “risk-off” mulai meningkat, dengan dana asing kabur dari emerging markets termasuk Indonesia menuju aset-aset safe haven seperti emas. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun turun ke 4,098%, menandakan kepanikan investor mencari instrumen aman. Nilai dolar AS juga melemah karena investor mengkhawatirkan kelemahan struktural perekonomian AS yang tidak mampu mengelola keuangannya sendiri.
Dampak ke Pasar Modal Indonesia
Untuk Bursa Efek Indonesia, shutdown AS membawa dampak bertubi-tubi. Net outflow asing meningkat signifikan karena investor global menarik dana dari emerging markets. Saham-saham blue chips Indonesia tertekan, terutama sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi global. Tekanan ini dipicu kekhawatiran bahwa jika shutdown berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi AS akan melambat, yang kemudian mengurangi permintaan global dan berdampak pada ekspor Indonesia.
Analis Tim Riset Kiwoom Sekuritas memproyeksikan bahwa jika shutdown berkepanjangan, IHSG berpotensi memasuki fase sideways sampai koreksi ke level 7.800-7.900. Meski shutdown kini akan berakhir, trauma pasar masih akan bertahan beberapa hari ke depan karena investor perlu memastikan rancangan undang-undang benar-benar ditandatangani Trump tanpa hambatan.
Perpaduan Genting: Shutdown Berakhir, MSCI Rebalancing Dimulai
Yang menarik, berakhirnya shutdown bertepatan dengan rebalancing MSCI November 2025 yang baru saja diumumkan pada 5 November lalu. Perubahan konstituen MSCI ini akan berlaku efektif pada 25 November 2025, hanya dua minggu setelah shutdown resmi berakhir.
Dalam rebalancing kali ini, dua saham Indonesia menjadi pemenang: PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) resmi masuk ke MSCI Global Standard Index. Sementara itu, dua nama besar juga mengalami penyesuaian: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) keluar dari indeks, sementara PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun kelas dari Global Standard ke Small Cap.
Perubahan ini berpotensi memicu arus modal masuk ke BREN dan BRMS karena otomatis akan dibeli oleh manajer dana global yang mengikuti indeks MSCI. Sebaliknya, ICBP dan KLBF berpotensi mengalami outflow dana pasif karena investor global yang mengikuti indeks akan mengurangi atau menjual posisi mereka.
Saham ICBP sempat terkoreksi 0,57% setelah pengumuman rebalancing MSCI, mencerminkan penjualan teknis dari investor index-tracking. Sementara BREN dan BRMS bergerak positif karena antisipasi masuknya dana baru dari investor global yang harus menambah posisi untuk mengikuti perubahan indeks.
Strategi Investor Memanfaatkan Momentum Ganda
Berakhirnya shutdown dan bersamaan dengan rebalancing MSCI menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi investor lokal. Beberapa strategi yang perlu dipertimbangkan:
Pertama, ambil keuntungan dari koreksi jangka pendek akibat sentiment shutdown. Saham-saham berkualitas yang terkoreksi memberikan entry point menarik sebelum MSCI rebalancing mulai membawa aliran dana masuk.
Kedua, perhatikan saham-saham yang masuk atau keluar MSCI. BREN dan BRMS berpotensi mengalami rally teknis dari automatic buy orders manajer dana global, sementara ICBP dan KLBF perlu dimonitor ketat karena potensi jual teknis.
Ketiga, diversifikasikan portofolio ke sektor-sektor yang tidak terpengaruh berat oleh pergerakan global, seperti consumer staples dan utilities, yang lebih resilient di tengah ketidakpastian ekonomi.
Keempat, manfaatkan melemahnya dolar untuk membeli saham-saham dengan earners USD yang akan lebih menguntungkan jika dolar melemah lebih lanjut.
Ekosistem Pasar Normalkan Diri Bertahap
Analis mengharapkan pasar global akan secara bertahap menormalkan diri seiring dengan berakhirnya shutdown AS. Namun proses normalisasi ini bukan instan. Data ekonomi tertinggal akan dilaporkan bertahap, The Fed akan mencerna ulang kondisi ekonomi real yang sesungguhnya, dan kepercayaan investor terhadap stabilitas finansial AS perlu dipulihkan.
Untuk pasar Indonesia khususnya, the moment of truth akan tiba ketika data Non-Farm Payrolls akhirnya dirilis. Data ini akan menentukan apakah perlambatan ekonomi AS semudah yang dikhawatirkan investor, atau lebih serius dari proyeksi. Sementara itu, panen dua momentum positif dari berakhirnya shutdown dan rebalancing MSCI menjadi strategi cerdas untuk investor lokal yang ingin maximizing returns di sisa kuartal IVl IV 2025.

