blank

Cahayasakti Investindo Sukses: Dari Furnitur hingga Menjadi Kekuatan Utama Real Estate di 2025

Jakarta, Investor IDN – PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS), emiten dari Grup Olympic yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, sedang mengalami transformasi strategis yang mencolok di tahun 2025. Dari perusahaan furnitur yang sempat menjadi pemain utama, CSIS kini mengarahkan energi besarnya ke sektor real estate, terutama pengembangan kawasan industri dan properti komersial yang menjanjikan pertumbuhan eksponensial.

Kisah transformasi ini dimulai dari momentum kuat yang diraih CSIS sepanjang sembilan bulan pertama 2025, ketika perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 5,4 persen, mencapai Rp 69,314 miliar dibandingkan Rp 65,9 miliar pada periode sama tahun 2024. Meskipun angka tersebut terlihat moderat, perhatian sejati terletak pada komposisi pertumbuhan tersebut. Penjualan satuan bangunan—bagian dari portofolio real estate—melonjak 11 persen menjadi Rp 34,186 miliar, sementara kontribusi biaya layanan naik 3,2 persen menjadi Rp 8,1 miliar. Laba bersih perusahaan mencapai Rp 24,6 miliar pada periode yang sama, tumbuh 16,6 persen dibandingkan tahun lalu—melampaui pertumbuhan pendapatan, yang mengindikasikan peningkatan efisiensi operasional yang signifikan.

Sentimen Pasar yang Eksplosif

Kinerja fundamental yang solid ini tercermin dalam respons pasar yang dramatis. Harga saham CSIS yang pernah berada di kisaran Rp 80 per lembar menembus lapis Rp 109 pada akhir Oktober hingga pertengahan November 2025. Dalam satu hari perdagangan saja, saham ini sempat melompat 25 persen, menciptakan momentum yang menarik perhatian investor ritel dan institusional. Sepanjang tahun 2025, CSIS telah memberikan kenaikan 271,83 persen, menjadikan emiten ini sebagai salah satu pengali terbaik di papan bursa ketika momentum positif merebak.

Fenomena ini bukan sekadar bergeraknya harga di pasar spekulatif, melainkan refleksi dari strategi bisnis yang fundamental berubah. Investor mulai memahami bahwa CSIS tengah memposisikan diri sebagai penerima manfaat dari megatren industri real estate Indonesia, terlebih ketika sektor properti konvensional tengah menghadapi tekanan permintaan.

Strategi Perusahaan Induk Real Estate: Langkah Restrukturisasi Strategis

Pada tanggal 12 November 2025, CSIS mengumumkan langkah strategis yang menjadi titik balik untuk transformasi perusahaan: penambahan dua klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) baru. Direktur Utama Tjoea Aubintoro menegaskan bahwa penambahan KBLI 64200 (Aktivitas Perusahaan Induk) dan KBLI 70209 (Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya) adalah bagian dari persiapan CSIS menjadi perusahaan induk real estate untuk seluruh Grup Olympic.

Langkah ini memiliki signifikansi yang jauh lebih mendalam daripada sekadar penambahan klasifikasi usaha. CSIS sedang membangun struktur perusahaan induk yang terpusat untuk mengelola berbagai aset real estate dan properti investasi grup dengan lebih terkoordinasi dan efisien. Restrukturisasi ini tidak akan memberikan dampak material terhadap operasional sehari-hari, namun fokusnya adalah pada penyesuaian struktur korporat untuk mempersiapkan pertumbuhan yang lebih kokoh di masa depan.

Rencana ini memerlukan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS Luar Biasa) yang dijadwalkan pada 19 Desember 2025.

Suntik Modal untuk Perluasan Agresif: Proyek Cikembang

Momentum transformasi ini diperkuat dengan pengambilan keputusan investasi yang sangat material pada November 2025. CSIS mengumumkan rencana penyertaan modal tambahan sebesar Rp 195,83 miliar ke PT Bogorindo Cemerlang, anak usaha dengan kepemilikan mayoritas 52,50 persen. Dana ini bersumber dari penerbitan 522,8 juta saham baru dalam penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu dengan nominal Rp 100 per saham.

Alokasi dana ini dirancang untuk mendorong pengembangan kawasan industri secara agresif. Rp 93 miliar akan digunakan untuk membangun infrastruktur Kawasan Industri Cikembang—proyek unggulan yang berdiri di atas lahan seluas 220 hektare. Kawasan ini digambarkan sebagai kawasan industri paling terintegrasi dan terbesar di selatan Jakarta dengan konsep ekologi hijau, menampilkan fasilitas-fasilitas modern seperti ruang milik jalan yang luas, desain bangunan berkelanjutan, dan area bebas limbah bahan berbahaya dan beracun.

Sebesar Rp 10 miliar dialokasikan untuk infrastruktur Bukit Panenjoan, sementara Rp 7 miliar untuk pembangunan gudang di Kawasan Industri Sentul. Sisanya digunakan untuk akuisisi cadangan lahan strategis di sekitar kawasan untuk perluasan masa depan.

Signifikansi aksi korporat ini terletak pada skala transaksinya. Dengan ekuitas CSIS sebesar Rp 354,05 miliar per 30 Juni 2025, transaksi ini akan mencapai 55,31 persen dari ekuitas perusahaan, menjadikannya transaksi material. Akan tetapi, CSIS telah memperoleh pendapat kewajaran dari Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang & Rekan yang menegaskan tidak ada benturan kepentingan dan kerugian material.

Transaksi ini memerlukan persetujuan pemegang saham dalam RUPS Luar Biasa yang sama, maka pemegang saham yang berhak berpartisipasi adalah yang tercatat hingga 26 November 2025.

Momentum dari Divisi Kawasan Industri yang Menguntungkan

Pertumbuhan fundamental CSIS tidak terlepas dari kinerja luar biasa divisi kawasan industrinya. Bogorindo Cemerlang di Kawasan Industri Sentul telah mencapai penjualan 98 persen dari total luas yang tersedia seluas 100 hektare, mencerminkan tingkat absorpsi pasar yang sangat tinggi. Kawasan Industri Cikembang, yang baru berkembang dengan luas 220 hektare, baru mencatat penjualan 15 persen, yang berarti masih memiliki peluang pertumbuhan yang sangat besar.​

Direktur Utama Tjoea Aubintoro mengungkapkan bahwa pertumbuhan kinerja CSIS pada semester pertama 2025 yang mencatat pendapatan tumbuh 6,9 persen menjadi Rp 60,51 miliar dan laba bersih naik 14 persen menjadi Rp 12,3 miliar terutama didorong oleh bisnis kawasan industri melalui anak perusahaan. Ini menunjukkan bahwa diversifikasi dari furnitur menuju real estate bukan sekadar strategi diversifikasi, melainkan perpindahan fundamental ke inti bisnis yang lebih menguntungkan.​

More From Author

BEL Grup

Bel S.A Tender Offer Saham KEJU: Strategi Penguasa Baru Perkuat Ekspansi Pabrik Raksasa di Sumedang

PT Indo American Seafoods Tbk

Udang Mahal Emas Dunia? ISEA Tunjukkan Pemain Indonesia Siap Rebut Pasar Global

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan