blank

Quo Vadis Pasar Saham Indonesia?

Jakarta, Investor IDN – Pasar modal seharusnya menjadi sarana investasi jangka panjang bagi perusahaan serta wadah investasi produktif bagi masyarakat. Namun, realitas yang terjadi berbeda. Fenomena goreng saham atau pump and dump masih sering terjadi meskipun melibatkan emiten yang sudah lama menjadi perhatian regulator. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: kemana arah pasar modal Indonesia selanjutnya?

Mengapa Praktik Goreng Saham Sulit Diberantas?
Ada beberapa faktor pokok yang menyebabkan manipulasi harga saham terus berulang. Pertama, likuiditas yang rendah pada saham-saham tier 3, bahkan sebagian saham tier 1 dengan free float kecil, membuat harga mudah dikendalikan karena volume perdagangan terbatas. Kedua, informasi yang tidak merata membuat investor ritel kerap hanya mengandalkan rumor tanpa analisis fundamental. Ketiga, adanya spekulasi soal merger, akuisisi, dan masuknya investor besar yang memicu kenaikan harga sementara, kemudian kembali turun saat rumor mereda. Terakhir, banyak emiten yang bisnis intinya lemah sehingga harga saham lebih banyak dipengaruhi sentimen daripada kinerja riil perusahaan.

Dampak yang Merusak Kepercayaan Pasar
Praktik pump and dump menimbulkan dampak serius pada ekosistem pasar modal. Kepercayaan publik menurun karena pasar saham dianggap sebagai arena spekulasi bukan sebagai sarana pendanaan jangka panjang. Investor ritel yang literasi keuangannya terbatas sering dirugikan dengan membeli di harga tinggi lalu merugi saat harga jatuh. Akibatnya, pasar menjadi tidak efisien karena harga saham lebih mencerminkan rumor dan permainan jangka pendek ketimbang fundamental perusahaan.

Peran Otoritas Bursa dalam Menjaga Integritas Pasar
Regulasi yang ada, seperti suspensi perdagangan (Auto Rejection Atas dan Auto Rejection Bawah), dinilai belum cukup efektif menekan praktik manipulasi. Otoritas bursa perlu mengambil langkah lebih tegas, antara lain: memperbesar free float agar pasar lebih likuid dan harga lebih mencerminkan fundamental; menindak tegas pihak yang menyebarkan rumor menyesatkan demi keuntungan pribadi; meningkatkan edukasi investor ritel agar tidak mudah terjebak permainan harga; serta mendorong transparansi emiten dengan menampilkan kinerja nyata, bukan sekadar wacana atau rumor.

Arah Pasar Saham Indonesia
Pasar saham seharusnya menjadi wadah investasi yang produktif, bukan arena spekulasi dan permainan untung rugi semu. Tanpa langkah tegas dari regulator dan peningkatan literasi investor, praktik goreng saham akan terus mencederai kepercayaan publik. Jawaban atas pertanyaan Quo Vadis pasar saham Indonesia bergantung pada komitmen bersama: regulator yang berani, emiten yang transparan, dan investor yang cerdas. Dengan itu, pasar modal Indonesia dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan.

More From Author

Ira Puspadewi

Kasus Ira Puspadewi dan Pengabaian Business Judgment Rule

Garuda Indonesia

Suntikan Rp23,7 Triliun dari Danantara, Mengapa Saham Garuda Indonesia Tetap Tertekan?

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan