Washington DC, Investor IDN – Indonesia dan Amerika Serikat resmi mencapai kesepakatan substansi perjanjian perdagangan resiprokal yang menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. Dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer di Washington DC, kedua pihak menyetujui penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen, serta memberikan pengecualian untuk sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia.
Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari Joint Statement yang diterbitkan pada 22 Juli 2025 dan diharapkan diteken langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump pada akhir Januari 2026 di Gedung Putih, Washington DC. “Kita harapkan sebelum akhir Januari, dokumen Agreement on Reciprocal Trade atau ART sudah bisa ditandatangani secara resmi,” ujar Airlangga.
Dampak bagi Ekspor Unggulan Indonesia
Amerika Serikat akan memberikan tarif preferensial dan pengecualian untuk produk-produk yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri seperti minyak sawit, kakao, kopi, dan teh. Langkah ini dinilai membuka peluang besar bagi perluasan ekspor komoditas Indonesia, terutama di tengah upaya diversifikasi pasar global.
“AS memberikan pengecualian kepada produk unggulan kita seperti minyak sawit, kopi, dan teh,” jelas Airlangga dalam konferensi pers virtual dari Washington DC.
Komitmen Timbal Balik dan Akses Pasar
Di sisi lain, Indonesia berkomitmen memberikan akses pasar lebih luas bagi produk-produk AS serta mengatasi hambatan non-tarif di sektor digital, teknologi, dan pertanian. Sebagai timbal balik, AS juga meminta akses terhadap mineral kritis Indonesia seperti nikel dan bauksit yang menjadi komponen penting dalam industri baterai listrik.
“AS sangat berharap bisa mendapatkan akses terhadap critical minerals Indonesia,” tambah Airlangga.
Tahap Akhir Negosiasi
Tahap selanjutnya, tim teknis dari kedua negara akan melanjutkan pembahasan legal drafting pada minggu kedua Januari 2026. Proses ini akan memfinalkan seluruh klausul perjanjian sebelum disampaikan kepada kedua kepala negara untuk penandatanganan resmi.
“Kuncinya adalah keseimbangan. Kami memastikan isu strategis Indonesia tetap terjaga, sambil mendengarkan kepentingan mitra AS. Pendekatannya adalah mencari jalan tengah,” tegas Airlangga.
Duta Besar Greer menyebut hasil pertemuan ini sebagai “hadiah Natal terbaik” bagi kedua negara. Investor memandang kesepakatan tersebut sebagai sinyal positif bagi perdagangan bilateral dan peluang peningkatan ekspor Indonesia di pasar AS.

