Genting Malaysia Berhad

Genting Malaysia Gelontorkan Rp 2,05 Triliun untuk Lahan Sentul City: Berkah atau Perangkap bagi Investor Ritel?

Jakarta, Investor IDN – Pasar modal Indonesia kembali dihebohkan oleh aksi korporasi berskala besar yang melibatkan PT Sentul City Tbk (BKSL) dan raksasa hiburan Malaysia, Genting Group. Dalam transaksi yang diteken Juli 2024 dan direncanakan rampung akhir 2025, Genting Malaysia melalui anak usahanya PT Genting Properti Abadi resmi mengakuisisi lahan seluas 152 hektare di kawasan Sentul City, Bogor, dengan nilai mencapai Rp 2,05 triliun. Angka ini setara dengan RM593 juta dan menjadikan transaksi ini salah satu akuisisi properti terbesar di kawasan Jabodetabek dalam beberapa tahun terakhir.

Perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sale and Purchase Agreement/CSPA) telah ditandatangani pada 19 Juli 2024, dengan Akta Jual Beli dijadwalkan selesai pada akhir 2025. Transaksi ini bukan sekadar perpindahan kepemilikan aset, tetapi menandai ekspansi strategis Genting Group ke pasar properti komersial Indonesia, sekaligus memberikan suntikan likuiditas signifikan bagi BKSL yang selama ini terbebani kinerja keuangan yang fluktuatif.

Anatomi Transaksi: Dua Lahan, Satu Strategi Besar

Detail transaksi menunjukkan kompleksitas aksi korporasi ini. Lahan yang diakuisisi terdiri dari dua bidang dengan valuasi berbeda. Lahan pertama seluas 80 hektare berlokasi di Desa Sumur Batu, Babakan Madang, dan Hambalang, dimiliki oleh PT Aftanesia Raya (anak usaha BKSL) dan PT Primatama Cahaya Sentosa, dengan nilai transaksi Rp 1,76 triliun atau setara RM509,8 juta. Lahan kedua seluas 72 hektare yang berdekatan dengan lahan pertama dinilai Rp 288 miliar atau RM83,2 juta.

Menariknya, harga per meter persegi lahan ini mencapai sekitar Rp 1,35 juta—angka yang mencerminkan premi lokasi strategis Sentul City sebagai kawasan penyangga ibu kota. Namun, yang mengejutkan adalah bahwa harga sebesar Rp 2,05 triliun merupakan hasil kesepakatan para pihak tanpa melibatkan penilai independen. Nilai buku lahan pertama per 31 Maret 2024 hanya tercatat Rp 6 miliar, sementara lahan kedua bernilai buku Rp 5,4 miliar—mengindikasikan capital gain yang luar biasa besar bagi BKSL.

Mekanisme pembayaran dilakukan secara bertahap: Rp 800 miliar pada awal Juli 2024, disusul Rp 400 miliar pada Maret 2025, dengan sisa pembayaran dijadwalkan menjelang penandatanganan Akta Jual Beli akhir tahun 2025. Pembayaran ini didanai dari kas internal Genting dan pinjaman bank, meskipun akan meningkatkan rasio utang bersih Genting Plantations menjadi RM1,7 miliar dari sebelumnya RM1,2 miliar.

Genting Group: Dari Kasino Genting Highlands ke Lifestyle Centre Sentul

Genting Group bukanlah pemain baru di industri properti dan hospitaliti. Didirikan tahun 1965 oleh almarhum Tan Sri Lim Goh Tong, konglomerat ini kini dipimpin oleh Tan Sri Lim Kok Thay dan memiliki operasi global mencakup Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Bahamas, Britania Raya, hingga Indonesia. Dengan kapitalisasi pasar mencapai US$37,87 miliar pada 2017, Genting Group mengelola berbagai segmen bisnis mulai dari leisure & hospitality, perkebunan kelapa sawit (melalui Genting Plantations Bhd), pembangkit listrik, hingga bioteknologi.

Genting Malaysia Berhad, anak usaha utama yang terlibat dalam akuisisi ini, terkenal mengoperasikan Resorts World Genting di Malaysia—sebuah resor terintegrasi dengan kasino, theme park, hotel, dan lebih dari 150 outlet belanja dan kuliner. Di luar Malaysia, Genting Malaysia mengelola lebih dari 30 kasino di Britania Raya, Resorts World Birmingham, serta properti di Mesir, Amerika Serikat, dan Bahamas.

Namun, fokus investasi Genting di Sentul City bukan membangun kasino seperti di Malaysia—sebuah strategi yang menjawab keterbatasan regulasi Indonesia terkait perjudian. Sebaliknya, Genting menegaskan rencana membangun lifestyle centre premium yang mengintegrasikan komponen leisure, entertainment, pusat perbelanjaan, residensial premium, dan lapangan golf. Proyek ini diposisikan sebagai destinasi gaya hidup baru yang melengkapi kehadiran IKEA dan Aeon Mall di kawasan Sentul City, menjadikan kawasan tersebut sebagai eco city modern yang memadukan alam dengan gaya hidup urban.

Presiden Komisaris BKSL, Basaria Panjaitan, menilai investasi Genting sebagai penanda kepercayaan investor mancanegara pada peluang bisnis di kawasan Jabodetabek. “Kehadiran mereka dapat menjadi katalis pengembangan wilayah Jabodetabek melalui pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Basaria.

Respon Pasar: Lonjakan Saham hingga 91% Sepanjang 2025

Kabar transaksi ini langsung memicu euforia di pasar modal. Sepanjang 2025, saham BKSL mencatatkan kenaikan spektakuler hingga 91,55% dari level Rp 71 pada awal Januari menjadi Rp 136 per lembar saham pada 17 Desember 2025. Bahkan, saham BKSL sempat menyentuh level tertinggi tahunan di Rp 193 pada pertengahan tahun, sebelum mengalami koreksi dan berkonsolidasi di kisaran Rp 129-137 pada akhir Desember 2025.

Volume perdagangan BKSL juga melonjak drastis. Pada pekan 15-19 Desember 2025, BKSL mencatatkan volume transaksi 12,22 miliar saham atau sekitar 5,20% dari total volume pasar, menempatkan saham ini di posisi keempat paling aktif setelah BUMI, GOTO, dan MDIY. Transaksi harian pada 23 Desember mencapai 672,86 juta saham dengan nilai transaksi signifikan.

Investor asing pun turut berburu saham BKSL. Data menunjukkan net buy asing yang konsisten sepanjang semester kedua 2025, dengan nilai pembelian mencapai puluhan miliar rupiah melalui berbagai broker sekuritas. Fenomena ini menciptakan bandwagon effect, di mana investor ritel ikut-ikutan membeli tanpa perhitungan fundamental yang matang.

Dari perspektif teknikal, analis melihat BKSL membentuk pola rounding bottom—sinyal klasik perubahan tren dari akumulasi menuju reli naik. Keberhasilan menembus resistance di Rp 95 dengan volume tinggi menjadi validasi bahwa sentimen positif mendominasi. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 58-70, mengindikasikan momentum kuat namun belum memasuki zona overbought. Bahkan, berdasarkan Minervini Trend Template—metode seleksi saham yang ketat—BKSL mencatatkan skor sempurna 8 dari 8, artinya seluruh kriteria tren naik terpenuhi.

Kinerja Keuangan BKSL: Pembalikan Dramatis di 2025

Lonjakan harga saham BKSL tampak paradoks jika dibandingkan dengan track record kinerja keuangan perusahaan yang penuh gejolak. Sejak pandemi COVID-19, BKSL terus membukukan kerugian berulang. Tahun 2020, perseroan mencatat rugi bersih Rp 556,3 miliar. Meskipun sempat membalik menjadi laba Rp 261,47 miliar di 2021, BKSL kembali merugi Rp 163,15 miliar pada 2022. Tahun 2023 menunjukkan perbaikan dengan laba bersih Rp 332,3 miliar, namun tahun 2024 kembali anjlok dengan laba hanya Rp 17,4 miliar—turun 94,8% dibanding tahun sebelumnya.

Namun, kuartal I hingga III 2025 menunjukkan pembalikan dramatis. Pada Q3 2025, BKSL membukukan laba bersih sebesar Rp 71,9 miliar, melonjak 186,22% secara year-on-year (YoY) dari Rp 27,5 miliar di periode sama tahun 2024. Pendapatan perseroan tumbuh 96,28% YoY menjadi Rp 836,97 miliar pada 9 bulan pertama 2025. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan serah terima unit properti dan kepercayaan pasar terhadap Sentul City.

Secara segmental, pendapatan BKSL berasal dari penjualan properti (kontributor terbesar), segmen hotel-restoran-taman hiburan (Rp 135,85 miliar), dan town management (Rp 52,41 miliar). Laba bruto pada 9M 2025 mencapai Rp 463,9 miliar dengan margin laba kotor 55,4%, naik signifikan dari Rp 230,9 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, struktur keuangan BKSL masih rapuh. Total liabilitas per September 2025 mencapai Rp 6,08 triliun, dengan utang jangka pendek Rp 4,27 triliun dan utang jangka panjang Rp 1,81 triliun. Debt-to-Equity Ratio (DER) tercatat 0,40 atau 40%—angka yang relatif moderat namun tetap membebani mengingat beban bunga mencapai Rp 191,5 miliar pada 9M 2025. Hampir 60% utang BKSL berasal dari Bank Mayapada dengan bunga 12%-14% per tahun, menciptakan tekanan signifikan pada profitabilitas.

Return on Equity (ROE) BKSL hanya 0,47% per Q3 2025—jauh di bawah standar industri properti yang sehat di atas 15%. Return on Assets (ROA) tercatat 0,34%, mengindikasikan efisiensi penggunaan aset yang sangat rendah. Current ratio sebesar 0,89 menunjukkan aset lancar lebih kecil dari liabilitas jangka pendek, menciptakan risiko likuiditas.

Penggunaan Dana: Strategi Restrukturisasi ?

Manajemen BKSL menyatakan bahwa seluruh dana hasil penjualan lahan akan digunakan untuk memperbaiki kinerja keuangan perseroan, termasuk memperkuat likuiditas dan mendukung pengembangan usaha ke depan. Lebih spesifik, dana tersebut direncanakan untuk melunasi sebagian besar utang kepada Bank Mayapada yang mencapai Rp 932 miliar. Jika utang tersebut dilunasi, BKSL dapat menghemat beban bunga sekitar Rp 121 miliar per tahun—angka yang signifikan mengingat laba bersih 2024 hanya Rp 17,4 miliar.

Selain deleveraging, BKSL menargetkan percepatan pengembangan kawasan baru. Pada 2024, perseroan meluncurkan “Kawasan Spring City” seluas 34 hektare di area R13, menawarkan 1.065 unit perumahan dan 78 unit ruko. Target marketing sales tahun 2025 dinaikkan menjadi Rp 2 triliun—naik 53,4% dibanding target sebelumnya. BKSL juga menargetkan 20.000-40.000 penghuni di area Sentul City untuk menjadikannya pusat gravitasi (center of gravity) di daerah selatan Jakarta dan hub kegiatan di Bogor.

Konektivitas infrastruktur juga menjadi katalis positif. Kehadiran rute TransJakarta P11 Blok M-Bogor yang berhenti di Bellanova Country Mall sejak Juni 2025 meningkatkan aksesibilitas Sentul City. Proyek tol Sentul-Cipanas dan perluasan LRT Jabodetabek yang direncanakan akan semakin memperkuat posisi kawasan ini. Lebih jauh, BKSL tengah menjajaki pembangunan jalan penghubung antara area Sentul dan jalur Puncak II, yang diharapkan mengurangi kemacetan di kawasan Puncak dan menciptakan destinasi wisata baru yang mudah diakses dari Jakarta.

Dampak pada Investor Ritel: Antara Momentum dan Fundamental

Bagi investor ritel Indonesia yang mendominasi 99,7% dari total 15,5 juta investor di pasar modal per awal 2025, transaksi Genting-BKSL ini menghadirkan dilema klasik: mengejar momentum harga atau berpegang pada fundamental.

Sisi Positif:

  1. Injeksi Likuiditas Masif: Dana Rp 2,05 triliun memberikan ruang napas bagi BKSL untuk restrukturisasi keuangan. Jika dikelola dengan baik, deleveraging dapat meningkatkan profitabilitas jangka panjang.
  2. Validasi Nilai Aset: Kesediaan Genting membayar premi signifikan (nilai buku lahan hanya Rp 11,4 miliar, dijual Rp 2,05 triliun) menunjukkan bahwa nilai intrinsik aset BKSL jauh lebih tinggi dari pencatatan akuntansi. Ini mengindikasikan bahwa lahan-lahan lain yang dimiliki BKSL (total 3.000+ hektare) berpotensi memiliki hidden value serupa.
  3. Katalis Pengembangan Kawasan: Investasi Genting akan menarik pemain-pemain besar lainnya ke Sentul City, menciptakan efek multiplier pada nilai properti di sekitarnya. Pembangunan lifestyle centre premium dapat meningkatkan foot traffic, okupansi hotel-komersial, dan harga jual properti residensial BKSL.
  4. Momentum Teknikal Kuat: Pola teknikal yang terbentuk dan dukungan indikator seperti RSI, MACD, dan Minervini Template memberikan sinyal bahwa tren naik masih berlanjut dalam jangka pendek-menengah. Analis dari berbagai sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga konservatif Rp 145-147 dan target agresif Rp 154-170.
  5. Kinerja Q3 2025 yang Impresif: Lonjakan laba bersih 186% YoY dan pertumbuhan pendapatan 96% menunjukkan bahwa manajemen BKSL mulai menjalankan strategi operasional yang efektif.

Sisi Negatif:

  1. Valuasi Overvalued: Price-to-Earnings Ratio (PER) BKSL mencapai 162x hingga 369x—jauh di atas rata-rata industri properti di 8,3x-9,5x. Price-to-Book Value (PBV) sebesar 1,4x-1,58x juga mengindikasikan bahwa pasar sudah price in ekspektasi positif, meninggalkan sedikit margin of safety.
  2. Fundamental yang Masih Rapuh: Meskipun Q3 2025 menunjukkan perbaikan, track record kerugian berulang sejak 2020 dan ROE yang sangat rendah (0,47%) menunjukkan bahwa BKSL masih jauh dari perusahaan properti berkelas. Current ratio di bawah 1,0 menciptakan risiko likuiditas jangka pendek.
  3. Ketergantungan pada Transaksi Tunggal: Sebagian besar optimisme pasar terhadap BKSL bergantung pada realisasi dana Rp 2,05 triliun dari Genting. Jika pembeli gagal memenuhi kewajiban atau terjadi hambatan legal-perizinan, dampaknya bisa katastrofik terhadap harga saham. Meskipun manajemen menyatakan optimistis, tidak ada mekanisme proteksi formal yang diungkapkan jika terjadi default.
  4. Risiko Spekulatif Tinggi: Kenaikan harga saham 91% dalam setahun lebih banyak didorong oleh sentimen dan rumor (seperti rumor keterlibatan Danantara, perusahaan holding BUMN), bukan oleh perbaikan fundamental yang terukur. Ini menciptakan risiko koreksi tajam jika ekspektasi tidak terpenuhi.
  5. Beban Utang yang Masih Tinggi: Meskipun DER 40% tergolong moderat, beban bunga yang besar (Rp 191,5 miliar per 9M 2025) tetap menggerus profitabilitas. Jika dana penjualan lahan tidak segera digunakan untuk deleveraging, tekanan finansial akan terus berlanjut.

Perspektif Analis: Antara Trading Buy dan Wait and See

Rekomendasi analis terhadap BKSL terpolarisasi antara optimisme teknikal dan kehati-hatian fundamental. Tim Analis Bareksa memberikan rekomendasi Trading Buy dengan kisaran entry Rp 140-148, target price Rp 160-170, dan stop loss di Rp 130. Achmad Yaki dari BCA Sekuritas juga merekomendasikan trading buy dengan support di Rp 119 dan resistance di Rp 144. Analis lain menyarankan strategi buy on weakness dengan target konservatif Rp 145-147 dan agresif Rp 154.

Namun, penekanan pada kata “trading” (bukan “investing”) sangat penting. Rekomendasi ini lebih cocok untuk trader jangka pendek yang memahami analisis teknikal dan siap keluar cepat jika momentum berbalik. Bagi investor jangka panjang yang fokus pada fundamental, BKSL masih memerlukan pembuktian lebih lanjut bahwa perbaikan kinerja bisa berkelanjutan.

Robin Sutanto dan Danif Nouval Esfandiari dari Mandiri Sekuritas menekankan bahwa lonjakan harga BKSL lebih mencerminkan harapan pasar terhadap transformasi kawasan Sentul pasca keterlibatan mitra strategis seperti Genting. Mereka menyarankan investor untuk memantau eksekusi rencana penggunaan dana dan realisasi proyek-proyek baru sebelum mengambil posisi jangka panjang.

Lessons Learned: Apa yang Harus Dilakukan Investor Ritel?

Kasus BKSL-Genting ini memberikan pelajaran berharga bagi investor ritel Indonesia:

1. Jangan Terjebak FOMO (Fear of Missing Out): Kenaikan harga 91% memang menggoda, tetapi membeli di puncak bisa berakibat fatal jika terjadi koreksi. Investor ritel yang masuk di level Rp 180-193 kini mengalami unrealized loss signifikan.

2. Pahami Perbedaan Trading vs Investing: Jika Anda adalah trader yang memahami analisis teknikal, moving average, RSI, dan MACD, strategi trading buy dengan target jangka pendek masuk akal. Namun jika Anda investor jangka panjang yang mengutamakan fundamental, BKSL masih terlalu berisiko dengan ROE 0,47% dan PER di atas 300x.

3. Diversifikasi, Jangan All-In: Jangan menempatkan seluruh portofolio pada satu saham spekulatif. Maksimal 5-10% dari portofolio untuk saham berisiko tinggi seperti BKSL sudah cukup.

4. Tunggu Realisasi, Bukan Rumor: Investor cerdas membeli setelah melihat eksekusi nyata—seperti setelah dana Rp 2,05 triliun benar-benar diterima dan digunakan untuk deleveraging. Membeli berdasarkan rumor berisiko tinggi.

5. Monitor Indikator Kunci: Perhatikan laporan keuangan kuartalan BKSL ke depan. Apakah utang benar-benar berkurang? Apakah ROE meningkat? Apakah marketing sales mencapai target Rp 2 triliun? Ini adalah indikator objektif untuk menilai apakah transformasi benar-benar terjadi.

6. Set Stop Loss: Jika Anda sudah masuk posisi, pasang stop loss di level support krusial (misalnya Rp 119-130 sesuai rekomendasi analis). Ini melindungi Anda dari kerugian besar jika momentum berbalik.

Kesimpulan: Peluang dengan Catatan

Transaksi Genting-BKSL senilai Rp 2,05 triliun adalah katalis positif yang dapat mengubah trajektori Sentul City dalam jangka panjang. Injeksi likuiditas, validasi nilai aset, dan kehadiran pemain global seperti Genting memberikan momentum optimisme yang tidak bisa diabaikan. Kinerja Q3 2025 yang impresif juga menunjukkan bahwa manajemen BKSL mulai menjalankan strategi yang tepat.

Namun, bagi investor ritel, euforia harus diimbangi dengan kehati-hatian. Valuasi yang sudah mahal, fundamental yang masih rapuh, dan ketergantungan pada realisasi satu transaksi besar menciptakan risiko signifikan. Lonjakan harga saham 91% dalam setahun lebih mencerminkan spekulasi masa depan ketimbang kinerja saat ini—sebuah fenomena klasik di pasar modal Indonesia di mana narasi sering kali mendahului realitas.

Investor ritel perlu memahami bahwa BKSL saat ini adalah momentum stock, bukan value stock. Jika Anda memiliki risk appetite tinggi, memahami analisis teknikal, dan siap keluar cepat, trading jangka pendek di kisaran support-resistance masuk akal. Namun jika Anda mencari investasi jangka panjang yang solid, menunggu hingga melihat bukti nyata transformasi fundamental—seperti deleveraging yang terealisasi, ROE yang meningkat di atas 10%, dan eksekusi proyek-proyek baru—adalah strategi yang lebih bijak.

Pada akhirnya, transaksi Genting-BKSL membuktikan bahwa Sentul City memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Namun potensi saja tidak cukup—eksekusi adalah kuncinya. Investor ritel yang cerdas adalah mereka yang membeli ketika eksekusi sudah terlihat jelas, bukan ketika rumor masih mengambang.

Disclaimer: Artikel ini adalah analisis jurnalistik berdasarkan data publik dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing investor. Konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi.

More From Author

Gambaran Sawit Indonesia

Gambaran Besar Industri Sawit Indonesia

Kantor Baru WIKA Beton 2026

WIKA Beton: Kenaikan Harga Saham Hingga Kantor Baru Sebagai Bukti Pertumbuhan

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan