Harga Nickel 2026

Harga Nickel Menguat di Awal Januari 2026, Berkat Sinyal Pemangkasan Produksi Indonesia

Jakarta, Investor IDN – Harga nickel dunia menunjukkan tren perbaikan di awal Januari 2026, melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025 di kisaran US$15.600 per ton. Kenaikan ini dipicu sinyal kuat dari Indonesia, produsen nickel terbesar dunia, yang merencanakan pemangkasan produksi sebesar 34% pada 2026.

Futures nickel di London Metal Exchange (LME) melonjak mencapai US$15.600 per ton, tertinggi dalam hampir delapan bulan setelah sempat menguji level terendah empat tahun di US$14.350 pada 16 Desember 2025. Rebound ini menandai perubahan sentimen pasar pasca pemerintah Indonesia mengumumkan rencana kerja dan anggaran (RKAB) 2026 yang menargetkan produksi bijih nikel hanya 250 juta ton—turun drastis dari 379 juta ton pada 2025.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Wahyu mengutarakan analisis pasar bahwa pemangkasan produksi sebesar 34% ini dapat mendorong harga nickel ke level US$17.500-US$18.500 per ton pada 2026. “Sejumlah lembaga keuangan seperti DBS dan analis pasar memperkirakan harga bisa kembali terangkat ke level US$17.500-US$18.500 per ton pada 2026,” ungkapnya.

Kebijakan pemangkasan produksi ini diambil untuk mengatasi kelebihan pasokan global dan melindungi harga yang telah tertekan sepanjang 2025. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menargetkan kenaikan harga nickel global melalui pengendalian produksi ini.

Meski prospek positif jangka pendek, analis mengingatkan bahwa surplus nickel global masih fundamental. Research house SMM Jepang memproyeksikan pasar nickel akan tetap surplus 256.000 metrik ton di 2026, meski sedikit lebih rendah dari 263.000 ton tahun 2025. Proyeksi harga rata-rata 2026 dari World Bank adalah US$15.500 per ton, hanya naik 1% year-on-year.

Harga nickel pada 31 Desember 2025 tercatat di US$16.750 per ton, naik 12,61% dalam sebulan terakhir dan 9,48% dibandingkan periode sama tahun lalu. Namun, untuk pembentukan medium term outlook, volatilitas supply-demand global dan transisi permintaan baterai kendaraan listrik tetap menjadi faktor kunci yang perlu dicermati investor dan industri penambangan.

More From Author

PT Chandra Asri Pacific Tbk

Laba TPIA Meledak 2025 Gara-Gara Akuisisi Shell, Tapi Sahamnya Sudah Ketinggian?

blank

Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 20,32 Juta SID, Tumbuh 37% di Tengah Dominasi Generasi Muda

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan