Jakarta, Investor IDN – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja saham yang memukau sepanjang tahun 2025, menguat 35,2% year-to-date (ytd) menjadi Rp6.625 per lembar pada pertengahan Desember 2025. Pencapaian ini kontras dengan tekanan yang dihadapi pasar otomotif nasional yang justru melemah di tahun yang sama.
Saham konglomerasi terbesar Indonesia ini ditutup di level Rp6.700 pada akhir perdagangan 30 Desember 2025, memberikan return fantastis bagi investor yang masuk di awal tahun ketika harga masih berada di kisaran Rp4.750. Performa ini jauh melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya menguat 0,03% ke level 8.646,93 pada penutupan tahun 2025.
Paradoks Kinerja: Bisnis Lesu, Saham Meroket
Fenomena ini menarik perhatian pelaku pasar mengingat bisnis inti ASII di sektor otomotif justru menghadapi tantangan berat. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2025, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ASII turun 5,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp24,47 triliun pada periode sembilan bulan pertama 2025, dibandingkan Rp25,85 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih konsolidasi ASII juga terkoreksi 1,1% yoy menjadi Rp243,6 triliun hingga September 2025 dari Rp246,3 triliun pada 9M24. Tekanan ini terutama berasal dari penurunan harga komoditas batubara dan melemahnya pasar mobil nasional.
“Kinerja Grup pada semester pertama tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring dengan kondisi bisnis yang menantang,” ujar Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan tertulis.
Penjualan mobil nasional mencatatkan kontraksi signifikan di 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales hanya mencapai 710.084 unit hingga November 2025, turun 9,6% dibandingkan 785.917 unit pada periode sama tahun 2024. Proyeksi akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 780.000 unit, jauh dari target awal 900.000 unit.
Tiga Katalis Utama Dongkrak Harga Saham
Meski fundamental bisnis tertekan, saham ASII justru melesat berkat tiga katalis kunci yang mengubah persepsi investor:
1. Program Buyback Rp2 Triliun
ASII mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp2 triliun pada 3 November 2025, dengan periode pelaksanaan hingga 30 Januari 2026. Aksi korporasi ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham di tengah volatilitas pasar sekaligus meningkatkan return on equity (ROE) perusahaan.
“Pembelian kembali saham memberikan keyakinan kepada investor terhadap nilai fundamental saham ASII dan fleksibilitas bagi Perseroan dalam mengelola modal jangka panjang,” kata Sekretaris Perusahaan ASII, Gita Tiffany Boer.
Program buyback ini menggunakan dana internal perusahaan, bukan dari pinjaman, menunjukkan soliditas posisi kas ASII yang mencapai Rp54,69 triliun per September 2025. Analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan langkah ini dapat secara signifikan meningkatkan ROE yang tahun ini diperkirakan mencapai 13,6%.
2. Dividen Yield Menggiurkan
ASII konsisten membagikan dividen dengan yield yang menarik. Untuk tahun buku 2024, ASII membagikan dividen final sebesar Rp308 per saham dengan yield 8,35%, setelah sebelumnya membagikan dividen interim Rp98 per saham pada Oktober 2024 dengan yield lebih dari 10%.
Total dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2024 mencapai Rp16,43 triliun atau Rp406 per lembar. Untuk tahun 2025, ASII kembali membagikan dividen interim sebesar Rp3,96 triliun atau Rp98 per saham yang dibayarkan pada 31 Oktober 2025.
JP Morgan memproyeksikan rasio dividend payout ratio ASII akan meningkat menjadi 65% pada 2026 dibandingkan 50% pada periode sebelumnya. Astra diperkirakan menghasilkan free cash flow tahunan sebesar Rp25 triliun sampai Rp30 triliun pada 2025-2027, yang menyiratkan 86-95% dari laba bersih.
3. Resiliensi Portofolio Bisnis Terdiversifikasi
Meski segmen otomotif tertekan, kontribusi solid dari bisnis lain menopang kinerja konsolidasi ASII. Segmen jasa keuangan mencatatkan pertumbuhan laba bersih 8% yoy menjadi Rp6,7 triliun hingga 9M25, didorong peningkatan bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.
Segmen agribisnis juga memberikan kontribusi positif dengan laba bersih PT Astra Agro Lestari (AALI) yang meningkat 40% menjadi Rp559 miliar.
Valuasi Masih Menarik Meski Rally 35%
Meski telah menguat 35% sepanjang tahun, analis sekuritas menilai valuasi ASII masih menarik. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga dinaikkan ke Rp7.450 (9,2x FY26F P/E; +1SD), mencerminkan potensi upside 14,2% dari harga saat ini dan dividend yield sekitar 7%.
“Valuasi masih menarik karena ASII diperdagangkan di kisaran rata-rata historis 5 tahun meski memiliki pricing power dan visibilitas laba yang meningkat,” tulis analis BRI Danareksa dalam risetnya November 2025.
Berdasarkan data per Oktober 2025, Price to Earnings Ratio (PER) ASII sebesar 10,47x masih berada di bawah rata-rata historis, sementara Price to Book Value (PBV) hanya 0,74x, menunjukkan valuasi diskon terhadap nilai bukunya.
CGS International Indonesia memproyeksikan pendapatan ASII akhir 2025 mencapai Rp339,26 triliun, naik tipis 2,52% yoy, namun laba bersih diprediksi terkoreksi 8,07% yoy menjadi Rp31,30 triliun.
Pangsa Pasar Otomotif Tetap Dominan
Di tengah penurunan pasar otomotif, ASII berhasil mempertahankan dominasinya dengan pangsa pasar 52% hingga November 2025. Grup Astra mencatatkan penjualan 368.426 unit mobil, dengan kontributor utama Toyota Lexus (225.458 unit) dan Daihatsu (118.774 unit).
Yang lebih impresif, pangsa pasar ASII di segmen Low Cost Green Car (LCGC) mencapai 75%, dengan penjualan 84.015 unit menjadi tulang punggung segmen kendaraan terjangkau.
Windy Riswantyo, Head of Corporate Communications Astra International, mengakui tantangan daya beli menjadi hambatan utama. “Kami berharap kondisi pasar dapat berangsur membaik pada tahun depan,” ujarnya.
Strategi 2026: Elektrifikasi dan Diversifikasi Kesehatan
Memasuki 2026, ASII menyiapkan dua strategi kunci untuk mendongkrak pertumbuhan:
Pertama, memperkuat lini kendaraan hybrid dan elektrifikasi. Direktur Astra International Henry Tanoto mengungkapkan perseroan telah menyiapkan strategi menghadapi serbuan mobil listrik asal China dengan menyediakan berbagai segmen kendaraan elektrifikasi, mulai dari battery electric vehicle (BEV), plug-in hybrid vehicle (PHEV), hingga hybrid electric vehicle (HEV).
“Di luar itu, sebenarnya kami juga sedang menyiapkan produk hybrid lainnya yang akan berada di mass market side [segmen pasar massal],” jelas Henry. Saat ini ASII telah memasarkan Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, Corolla Cross Hybrid, hingga Alphard HEV.
Kedua, ekspansi agresif ke sektor kesehatan. Total investasi Grup Astra di bidang jasa kesehatan telah mencapai sekitar Rp8,6 triliun yang terdiri dari Halodoc, Rumah Sakit Hermina, dan Rumah Sakit Heartology. Belum lama ini, ASII menginvestasikan Rp2,69 triliun untuk menambah kepemilikan tidak langsung di emiten rumah sakit HEAL.
“Layanan kesehatan akan tetap menjadi salah satu fokus pertumbuhan strategis Astra ke depan,” kata Windy Riswantyo. Sektor ini dinilai strategis untuk meningkatkan produktivitas aset serta mengkompensasi tekanan imbal hasil ekuitas di sektor bisnis tradisional Astra.
Rekomendasi Analis: Buy dengan Target Rp7.100-Rp7.450
Mayoritas analis sekuritas memberikan rekomendasi positif untuk ASII. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan BUY dengan target harga Rp7.450, didorong prospek pemulihan volume 4W dan kenaikan margin pada FY26F seiring penguatan pricing power merek Astra dan kontribusi lini hybrid.
KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan resistance di Rp6.000 dan support di Rp5.750. Sementara Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan buy dengan target resistance Rp7.000 dan support Rp6.400.
Dari sisi teknikal, ASII masih dalam tren bullish atau bergerak di atas MA50/6.450 dengan MACD berpotensi terjadi golden cross yang dapat membuka peluang penguatan berlanjut menuju target resistance Rp7.000.
Risiko dan Tantangan ke Depan
Meski prospek positif, ASII menghadapi sejumlah risiko. Volatilitas harga komoditas, terutama batubara, menjadi ancaman terhadap kontribusi laba dari anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mencatatkan penurunan laba bersih 26% yoy hingga kuartal III-2025.
Persaingan ketat dari mobil listrik China dan melemahnya daya beli masyarakat juga menjadi tantangan berkelanjutan. Kemenperin dan Gaikindo kompak memproyeksikan tingkat penjualan mobil sepanjang tahun 2025 tidak akan menembus level psikologis 800.000 unit.
Namun, dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, rasio debt to equity yang sehat di 0,74x, dan komitmen pengembalian nilai kepada pemegang saham melalui dividen dan buyback, ASII tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari kombinasi capital gain dan dividend yield tinggi.
Posisi kas yang solid di Rp54,69 triliun dan total aset mencapai Rp505,44 triliun per September 2025 memberikan ruang gerak bagi ASII untuk terus berinvestasi di area pertumbuhan baru sambil mempertahankan kebijakan dividen yang atraktif.
Disclaimer: Informasi ini bukan rekomendasi jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab investor.

