PT Chandra Asri Pacific Tbk

Laba TPIA Meledak 2025 Gara-Gara Akuisisi Shell, Tapi Sahamnya Sudah Ketinggian?

Jakarta, Investor IDN – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat transformasi kinerja fenomenal di tahun 2025 yang membuat pasar terkejut: laba bersih melonjak 2.285% hingga semester I-2025 menjadi US$1,62 miliar atau sekitar Rp26 triliun, berbalik total dari rugi US$46,2 juta pada periode sama 2024.

Namun, di balik euforia laba mega ini, tersembunyi fakta kontroversial: sebagian besar keuntungan—US$1,75 miliar atau 108%—bukan berasal dari operasi bisnis inti petrokimia, melainkan dari keuntungan akuntansi pembelian dengan harga murah (bargain purchase accounting) atas akuisisi kilang raksasa Shell di Singapura.

Saham emiten petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu ini ditutup di level Rp7.000 pada akhir Desember 2025, turun 3,3% sepanjang tahun. Meski secara absolut penurunan tergolong moderat, valuasi TPIA masih diperdagangkan pada level premium yang menakjubkan: Price to Book Value (PBV) 10x—jauh di atas rata-rata industri 2,75x.

Akuisisi Mega: Beli Kilang Shell Rp3,3 Triliun, Dapat Keuntungan Rp28 Triliun

Katalis utama transformasi kinerja TPIA adalah penyelesaian akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (Aster)—sebelumnya Shell Energy and Chemicals Park di Singapura—pada 1 April 2025. Akuisisi ini dilakukan melalui perusahaan patungan CAPGC Pte. Ltd. bersama Glencore, dengan TPIA menguasai 80% dan Glencore 20%.

Nilai transaksi sangat menguntungkan: TPIA hanya membayar US$203 juta (sekitar Rp3,3 triliun) untuk menguasai aset senilai jauh lebih besar. Kawasan energi dan kimia ini mencakup kilang dengan kapasitas pemrosesan 237.000 barel per hari dan ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun di Pulau Bukom, serta aset kimia hilir di Pulau Jurong.

“Kontributor utama pencapaian ini adalah pencatatan keuntungan dari pembelian dengan harga rendah (bargain purchase accounting) atau negative goodwill yang berasal dari akuisisi Aster dari Shell. Hal ini mencerminkan nilai tambah yang luar biasa dari aksi korporasi kami,” ujar Andre Khor, CFO dan Direktur TPIA.

Akuisisi bargain purchase ini menghasilkan keuntungan akuntansi sebesar US$1,75 miliar atau Rp28 triliun yang langsung masuk ke laba bersih semester I-2025. Angka ini menjadi penggerak utama lonjakan laba 2.285% yang membuat pasar terpukau.

Bisnis Inti Masih Merah, Rugi Kotor US$99,5 Juta

Di balik gemerlap angka laba bersih, realitas operasional TPIA masih suram. Sebelum konsolidasi Aster, TPIA bahkan masih membukukan rugi US$23,58 juta pada kuartal I-2025. Lebih mengkhawatirkan, TPIA mencatat rugi kotor US$99,51 juta di semester I-2025, berbalik dari laba kotor US$12,84 juta pada periode sama tahun lalu.

Beban pokok pendapatan TPIA melonjak 248,4% menjadi US$2,97 miliar dibandingkan US$853,6 juta di 6M24, jauh melebihi pertumbuhan pendapatan. Beban keuangan turut naik 39,6% year-on-year menjadi US$107,80 juta, terutama akibat bunga utang bank yang melonjak dari US$36,84 juta menjadi US$72,99 juta.

Hingga kuartal III-2025, meski pendapatan bersih melesat 314,5% yoy menjadi US$5,1 miliar berkat konsolidasi segmen kilang yang menyumbang US$2,3 miliar, laba bersih tercatat US$1,7 miliar—sebagian besar masih dari efek negative goodwill.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai bisnis inti TPIA masih tertekan akibat kelebihan pasokan di Asia dan margin produk yang tipis. “Lonjakan laba TPIA terutama karena keuntungan non-operasional. Prospek TPIA akan sangat bergantung pada keberhasilan integrasi Aster dan perbaikan kinerja operasional,” ujar Ekky.

Dividen Interim US$20 Juta, Yield Hanya 0,7%

Meski mencatatkan laba bersih US$1,7 miliar hingga 9M25, TPIA hanya membagikan dividen interim sebesar US$20 juta atau setara Rp320 miliar dengan Rp3,83 per lembar saham yang dibayarkan pada 28 November 2025. Dengan harga saham sekitar Rp7.000-7.050, dividend yield interim ini hanya berkisar 0,05%—jauh di bawah rata-rata sektor.

Total dividen per saham untuk tahun 2025 tercatat sangat kecil, mencerminkan sikap konservatif manajemen yang lebih memilih mempertahankan kas untuk integrasi Aster dan ekspansi bisnis.

Anak Usaha CDIA IPO Sukses Rp2,37 Triliun

Pencapaian penting lain TPIA di 2025 adalah suksesnya Initial Public Offering (IPO) anak usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada 8 Juli 2025. CDIA, holding infrastruktur TPIA yang bergerak di sektor energi, air, kepelabuhan dan logistik, berhasil menghimpun dana hingga Rp2,37 triliun dengan oversubscription 15 kali lipat dari target awal.

IPO CDIA mencatat rekor dengan permintaan lebih dari 430 ribu pesanan dari sekitar 400 ribu investor, setara 564 kali e-pooling untuk investor ritel—mencerminkan tingginya kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis infrastruktur Chandra Asri Group.

“IPO CDIA mencapai keberhasilan luar biasa. Ini merefleksikan kepercayaan investor terhadap arah pertumbuhan CDIA dan memperkuat modal untuk pengembangan infrastruktur organik di sektor energi, air, kepelabuhanan & penyimpanan, serta logistik,” kata Andre Khor.

Setelah IPO, struktur pemegang saham CDIA menjadi TPIA 60%, Phoenix Power/EGCO Group Thailand 30%, dan publik 10%. Valuasi IPO CDIA sekitar 42,5-47,5x P/E 2024 dan PBV 1,7-1,8x—relatif moderat dibandingkan emiten infrastruktur lainnya.

Akuisisi Berlanjut: Kuasai SPBU Esso Singapura

Nafsu akuisisi TPIA tidak berhenti di Aster. Pada 1 Januari 2026, TPIA resmi mengumumkan penyelesaian akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura, melengkapi strategi hilirisasi dan integrasi vertikal di sektor energi dan kimia regional.

Akuisisi jaringan ritel bahan bakar ini memperkuat posisi TPIA sebagai pemain terintegrasi dari hulu (kilang) hingga hilir (distribusi ritel), memberikan kontrol penuh atas rantai nilai energi di kawasan Singapura.

Penghargaan Industri Hijau 2025: Komitmen Dekarbonisasi

Di tengah ekspansi agresif, TPIA tidak melupakan agenda keberlanjutan. Chandra Asri Group meraih Penghargaan Industri Hijau 2025 dari Kementerian Perindustrian atas keberhasilannya menurunkan emisi karbon sebesar 14,2% sejak tahun 2018.

Pabrik Chandra Asri di Pulo Ampel meraih peringkat pertama, sementara pabrik di Ciwandan menempati peringkat keempat dalam kategori Transformasi Menuju Industri Hijau. Pencapaian ini menegaskan kepemimpinan perusahaan dalam transformasi industri berkelanjutan.

“Penghargaan ini menandai konsistensi Chandra Asri Group dalam menghadirkan industri yang rendah karbon sekaligus membangun ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia. Langkah ini penting untuk mendukung target Net Zero Emission 2060,” kata Edi Rivai, Direktur Legal dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group.

Chandra Asri aktif menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui berbagai program: mengubah sampah plastik menjadi minyak pirolisis PLUSRI, menggunakan cacahan plastik untuk aspal melalui produk CIRCLO, dan memanfaatkan sampah menjadi bahan bakar alternatif Cofiring RDF.

Valuasi Premium Ekstrem: PBV 10x, PER 31x

Kontroversi terbesar saham TPIA di 2025 adalah valuasinya yang sangat premium. Price to Book Value mencapai 10x hingga 12,54x—jauh di atas rata-rata industri petrokimia 2,75x. Price to Earnings Ratio forward berada di 19,55x-31x, juga signifikan di atas rata-rata sektor 14,6x.

Lebih ekstrem lagi, Price to Sales Ratio (P/S) TPIA mencapai 23,30 kali, jauh di atas rata-rata sektor petrokimia global yang umumnya berada pada kisaran 1-3 kali. “P/S sebesar 23,30 kali berada jauh di atas rata-rata sektor. Valuasi ini biasanya hanya dijumpai pada saham teknologi disruptif atau platform digital, bukan pada industri bahan baku kimia yang padat modal,” tulis analis Kabar Bursa.

Per Oktober 2025, saham TPIA diperdagangkan di Rp7.250 dengan PER 31x dan PBV 10x—valuasi yang mencerminkan kepercayaan pasar pada ekspansi jangka panjang mengingat afiliasi dengan Barito Group milik Prajogo Pangestu.

Namun, dari sisi arus kas, tekanan masih signifikan. Price to cash flow negatif (-424,24) dan price to free cash flow -94,80 memperlihatkan bahwa TPIA masih membakar kas dalam operasionalnya. Rasio EV/EBIT -669,06 dan EV/EBITDA 759 menunjukkan struktur biaya yang belum efisien.

Rekomendasi Analis Terpolarisasi: Target Rp1.090-Rp11.000

Konsensus analis terhadap TPIA sangat terpecah, mencerminkan ketidakpastian valuasi. Berdasarkan TradingView, hanya 2 analis yang memberikan estimasi dengan target harga rata-rata Rp3.797 per saham—jauh di bawah harga saat ini Rp7.000, mengimplikasikan potensi downside 46%.

JP Morgan BNI Sekuritas memberikan rekomendasi “Underweight” dengan target harga sangat rendah di Rp1.090 per saham, menyiratkan potensi koreksi 84% dari harga saat ini. Proyeksi pesimis ini didasarkan pada kekhawatiran terhadap margin operasional yang masih negatif dan ketergantungan laba pada keuntungan non-operasional.

Di sisi lain, beberapa analis lokal lebih optimis. Bareksa merekomendasikan “Speculative Buy” di rentang harga Rp7.750-8.100 dengan target harga ambil untung Rp8.425-8.625. Lotus Sekuritas memberikan target lebih agresif di Rp11.000 berdasarkan analisis teknikal.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai valuasi TPIA saat ini tergolong mahal dengan PBV 8,7 kali. Ia menyarankan investor mempertimbangkan masuk pada kisaran harga Rp8.500 per saham—di bawah level saat ini.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, merekomendasikan sikap “wait and see” untuk saham TPIA mengingat lonjakan laba terutama didorong keuntungan non-operasional dan prospek sangat bergantung pada integrasi Aster.

Struktur Aset dan Utang: Total Aset US$10,7 Miliar

Integrasi Aster mengubah drastis neraca keuangan TPIA. Total aset per 30 Juni 2025 melonjak menjadi US$10,68 miliar dari US$5,66 miliar di akhir 2024—hampir dua kali lipat dalam enam bulan.

Liabilitas juga meningkat signifikan menjadi US$5,92 miliar, sementara ekuitas mencapai US$4,76 miliar. Posisi kas perusahaan per Juni 2025 tercatat US$2,82 miliar atau sekitar Rp45,7 triliun.

Debt to equity ratio berada di level 1,21x per September 2025, masih dalam batas wajar namun meningkat dari periode sebelumnya. Return on Equity (ROE) tercatat fantastis di 26,09% dan Return on Asset (ROA) 11,83% per 9M25—didorong terutama oleh keuntungan bargain purchase.

Tantangan ke Depan: Integrasi Aster dan Siklus Petrokimia Lemah

Tantangan terbesar TPIA di 2026 adalah membuktikan bahwa akuisisi Aster bisa memberikan kontribusi laba operasional berkelanjutan, bukan sekadar keuntungan akuntansi satu kali. Margin produk petrokimia yang masih tipis, kelebihan pasokan di Asia, dan harga bahan baku berbasis naphta yang tinggi tetap menjadi tekanan.

Utilisasi pabrik juga turun menjadi 88% karena perawatan dan rendahnya permintaan global. Wafi menyarankan TPIA perlu meningkatkan pemanfaatan kapasitas pabrik untuk menurunkan biaya per unit, mencari bahan baku yang lebih murah, serta memperbesar kontribusi produk bernilai tambah dan margin tinggi.

Risiko lain datang dari lemahnya siklus petrokimia global dan potensi tekanan biaya akibat aset tua di Singapura. Beban keuangan yang terus meningkat akibat utang akuisisi juga bisa membebani profitabilitas jika tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan operasional.

Proyeksi 2026: Pendapatan Bisa 4x Lipat, Tapi Laba?

Manajemen TPIA menargetkan pendapatan bisa meningkat hingga empat kali lipat pada tahun 2025 penuh berkat konsolidasi penuh Aster. Direktur Legal Chandra Asri Group, Edi Rivai, menyatakan jika akuisisi selesai pada kuartal II-2025, pendapatan perusahaan diproyeksikan meningkat signifikan.

Ciptadana Sekuritas memproyeksikan Aster dapat menyumbang hingga US$8 miliar pendapatan per tahun, yang secara teori dapat melipatgandakan pendapatan TPIA dari sekitar US$1,88 miliar pada 2024 menjadi US$9,89 miliar pada 2026.

Namun, pertanyaan krusial adalah: apakah revenue raksasa ini bisa ditranslasikan menjadi laba bersih operasional yang berkelanjutan? Atau TPIA akan kembali mencatatkan rugi operasional setelah efek bargain purchase habis?

Pasar akan mencermati laporan keuangan 2025 penuh dan proyeksi 2026 untuk menilai apakah valuasi premium saat ini—PBV 10x dan P/S 23x—bisa dibenarkan oleh fundamental operasional yang solid, atau sekadar euforia akuisisi yang berlebihan.

Disclaimer: Informasi ini bukan rekomendasi jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab investor.

More From Author

Gedung BRI

Saham BRI 2025: Harga Tertekan, Dividen Super Gemuk & Buyback Rp3 Triliun Bikin Ngiler

Harga Nickel 2026

Harga Nickel Menguat di Awal Januari 2026, Berkat Sinyal Pemangkasan Produksi Indonesia

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan