Jakarta, Investor IDN – Fenomena aneh terjadi di bursa saham Indonesia: harga naik 50% dalam sebulan, perusahaan tetap menuai kerugian. Inilah mengapa tata kelola emiten menjadi masalah serius yang menggerogoti kepercayaan investor.
Bayangkan Anda melihat seorang penjual nasi goreng yang biasa menjual 100 porsi sehari tiba-tiba menjual hanya 50 porsi—tapi tiba-tiba anaknya memberitahu bahwa harga piring nasi gorengnya naik 100% di pasar gelap. Harga piring melonjak, tapi bisnis malah menurun. Itulah yang terjadi di pasar saham Indonesia.
Fenomena ketidaksinkronan antara harga saham dan kinerja bisnis yang sebenarnya adalah salah satu tantangan tata kelola emiten paling serius di Indonesia saat ini. Ketika harga saham bergerak tidak sesuai dengan kenyataan bisnis perusahaan, pasar modal kehilangan fungsi fundamentalnya—menjadi cerminan nilai ekonomi yang sesungguhnya.
Harga Saham Terbang, Kinerja Bisnis Tertidur Pulas
Sepanjang 2024 dan 2025, pasar modal Indonesia menampilkan pertunjukan yang mengkhawatirkan. Indeks saham utama sering melonjak drastis, menciptakan buzz di media sosial dan menggairahkan investor pemula. Namun di balik angka-angka hijau itu, kisah yang lebih suram terungkap.
Banyak perusahaan yang sahamnya naik 30-50% dalam waktu singkat justru melaporkan penurunan pendapatan. Margin keuntungan turun. Investasi pada ekspansi dan riset malah dikurangi. Pertanyaannya sederhana: jika bisnis tidak tumbuh, dari mana asal naiknya harga saham?
Jawabannya terletak pada struktur pasar modal Indonesia yang masih rentan terhadap sentimen dan spekulasi. Investor ritel—yang kini menguasai 18,2% dari total transaksi pasar saham—sering memilih saham berdasarkan hype dan momentum, bukan analisis mendalam terhadap kesehatan perusahaan. Ketika puluhan ribu investor muda membeli saham yang sama berdasarkan tips dari media sosial, harga melonjak. Tapi nilai fundamental perusahaan tetap stabil atau bahkan menurun.
Itulah perbedaan mendasar antara “harga bergerak” dan “bisnis tumbuh.” Yang pertama sesaat dan mudah hilang. Yang kedua berkelanjutan dan menciptakan nilai nyata.
Pemilik Bisnis Tidak Lagi Percaya pada Bisnis Mereka Sendiri
Salah satu indikasi tata kelola emiten yang lemah terletak pada tujuan perusahaan saat melakukan IPO (initial public offering). Idealnya, IPO adalah komitmen untuk menggunakan dana publik guna memperkuat dan mengembangkan bisnis. Namun di banyak kasus Indonesia, IPO justru menjadi cara pemilik awal untuk keluar dari bisnis mereka.
Pemilik Perusahaan A mengumpulkan Rp 500 miliar dari IPO. Alih-alih menginvestasikan dana tersebut untuk membangun pabrik baru atau mengembangkan produk inovatif, mereka menggunakannya untuk melunasi utang lama dan memberikan komisi exit bagi investor awal. Hasilnya? Perusahaan Publik sejak hari pertama, tapi tidak memiliki rencana pertumbuhan yang jelas.
Inilah manifestasi dari misalignment incentive—ketika kepentingan pemegang saham pengendali tidak sejalan dengan pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Ketika fokusnya bergeser dari “membangun bisnis” ke “mengejar kenaikan harga saham jangka pendek,” perusahaan kehilangan direksional strategisnya.
Investor institusional yang cerdas mulai menyadari pola ini. Mereka bertanya: jika manajemen sendiri tidak yakin dengan masa depan bisnis ini—mengapa mereka menjual semua saham mereka setelah IPO?—mengapa saya harus membeli?
Dewan Komisaris yang Lemah, Pengawasan yang Mandul
Struktur tata kelola yang kuat dimulai dari dewan komisaris yang independen dan berfungsi efektif. Dewan komisaris seharusnya menjadi “penjaga gawang” yang memastikan manajemen tidak melakukan tindakan yang merugikan perusahaan jangka panjang.
Namun di banyak emiten Indonesia, struktur dewan masih didominasi oleh orang-orang yang dipilih oleh pemegang saham pengendali. Dengan kata lain, yang menjadi “penjaga gawang” adalah teman dari pembuat kebijakan. Independensi hilang. Pengawasan menjadi mandul.
Ketika ada rencana untuk memberikan kontrak bernilai miliaran rupiah kepada perusahaan afiliasi pemilik saham, dewan komisaris hanya manggut-manggut. Ketika ada permintaan untuk mengurangi investasi R&D demi meningkatkan laba jangka pendek, tidak ada yang menantang. Budaya kepatuhan mengatasi budaya pengawasan yang sehat.
Akibatnya, keputusan-keputusan yang seharusnya diambil untuk kepentingan jangka panjang perusahaan sering dikorbankan demi target laba pendek yang bisa mendorong harga saham naik bulan ini—lalu turun bulan depan ketika realisasi investor bahwa pertumbuhan itu tidak berkelanjutan.
Pasar yang Mudah Dimanipulasi, Investor Ritel yang Rentan
Indonesia memiliki 16,99 juta investor ritel per Juni 2025—naik drastis dari 2,5 juta pada 2019. Pertumbuhan ini adalah kabar baik untuk inklusi keuangan. Namun tanpa edukasi yang memadai, angka ini juga menjadi kerentanan serius.
Banyak investor ritel, terutama dari generasi milenial yang baru pertama kali berinvestasi, membeli saham berdasarkan cerita di media sosial, bukan analisis fundamental. Ketika sebuah saham “gorengan” naik 50%, mereka lihat sebagai bukti bahwa saham itu bagus. Ketika turun 40%, mereka panic sell dan rugi puluhan juta.
Dalam dinamika ini, pihak-pihak yang mengerti cara memanipulasi sentimen pasar menjadi sangat untung. Mereka bisa mengangkat harga saham melalui kampanye di media sosial, menciptakan ilusi likuiditas yang tinggi, dan keluar pada puncak dengan keuntungan besar—sementara investor ritel yang datang belakangan terperangkap dengan harga mahal.
Ini adalah manifestasi dari “goreng-mengoreng”—praktik yang merusak kredibilitas pasar modal secara keseluruhan. Ketika investor pemula terjebak berkali-kali, mereka tidak akan percaya pada bursa lagi.
Harga Saham Tinggi Tidak Sama dengan Bisnis Sehat
Sebuah saham bisa memiliki harga tinggi karena dua alasan yang sangat berbeda. Pertama, karena bisnis benar-benar berkembang, profit meningkat, dan prospek masa depan cerah. Ini adalah fundamental yang solid.
Kedua, karena ada banyak orang yang ingin membeli saham itu hari ini—entah berdasarkan analisis yang benar atau hanya karena sedang trending di Twitter. Harga tinggi karena spekulasi, bukan karena bisnis bagus.
Sayangnya, bagi investor pemula, keduanya terlihat identik. Keduanya menampilkan angka yang naik. Mereka tidak tahu bahwa saham perusahaan A yang naik 20% karena bisnis benar-benar tumbuh secara fundamental sangat berbeda dengan saham perusahaan B yang naik 20% karena pasar sedang euforia.
Perbedaan itu akan terlihat jelas lima tahun kemudian. Perusahaan A akan masih naik—bahkan lebih tinggi. Perusahaan B akan kembali ke harga sebelumnya, atau bahkan lebih rendah. Investor yang beruntung dalam spkulasi perusahaan B akan cepat-cepat jual. Yang kurang beruntung akan jadi bagian dari “korban” pasar modal yang kecewa dan tidak lagi berinvestasi.
Dampak Sistemik: Pasar yang Dangkal dan Tidak Dipercaya
Fenomena harga saham yang bergerak tidak sesuai fundamental menciptakan efek riak yang luas di seluruh ekosistem pasar modal. Kepercayaan investor menurun, terutama bagi investor pemula yang merasa dirugikan oleh volatilitas yang tidak wajar.
Ketika kepercayaan menurun, investor menuntut “premi risiko” yang lebih tinggi—artinya cost of capital bagi emiten menjadi lebih mahal. Perusahaan berkualitas yang ingin go public menjadi enggan karena khawatir akan disamakan dengan emiten yang tidak sehat. Hasilnya, pasar menjadi dangkal—didominasi oleh saham-saham spekulatif dan sekitar yang tidak memberikan kontribusi nyata pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Ini adalah ironi yang dalam. Pasar modal seharusnya menjadi mesin pembiayaan produktif untuk ekonomi Indonesia. Seharusnya, ketika PT Manufaktur berkembang membutuhkan Rp 1 triliun untuk ekspansi, mereka bisa go public dan menggunakan dana untuk membangun pabrik, membuka lapangan kerja, meningkatkan output ekonomi.
Namun ketika pasar penuh dengan saham gorengan dan investor tidak percaya pada fundamental, perusahaan berkualitas malah menghindari pasar. Mereka lebih memilih pinjaman bank dengan bunga tinggi atau private equity yang rumit—karena mereka tahu bahwa pasar publik sudah tidak berfungsi dengan baik.
Solusi Dimulai dari Tata Kelola yang Serius
Perbaikan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Diperlukan komitmen serious dari berbagai pihak. Pertama, dewan komisaris harus betul-betul independen dan memiliki wewenang nyata untuk mengawasi manajemen. OJK telah mengeluarkan regulasi tentang ini, tapi penegakannya masih lemah.
Kedua, penggunaan dana IPO harus transparan dan diawasi ketat. Jika perusahaan ingin menggunakan dana IPO untuk exit bagi pemilik awal, itu harus dinyatakan jelas dalam prospektus, dan investor tahu dengan pasti bahwa mereka sedang membeli “dapur bekas” bukan “rumah baru.”
Ketiga, transaksi pihak berelasi—ketika pemilik saham mengalihkan kontrak besar ke perusahaan miliknya sendiri—harus diawasi ketat. Praktik ini sering menjadi saluran untuk mengambil kekayaan perusahaan publik untuk kepentingan pribadi.
Regulasi yang ada di OJK sebenarnya sudah cukup ketat. Masalahnya terletak pada penegakan. Ketika ada pelanggaran, hukuman sering kali tidak membuat jera.
Edukasi Investor Sebagai Fondasi Perubahan
Tidak cukup hanya mengubah sistem. Investor sendiri harus belajar membedakan antara “harga yang bergerak” dan “bisnis yang tumbuh.” Ini bukan pekerjaan mudah, tapi penting untuk masa depan pasar modal Indonesia.
Investor perlu belajar membaca laporan keuangan—setidaknya secara basic. Mereka perlu memahami apa itu “profit margin,” “return on equity,” dan “pertumbuhan revenue year-over-year.” Mereka perlu tahu bahwa saham yang naik 100% dalam sebulan itu red flag, bukan good news.
Di sinilah peran organisasi edukasi pasar modal menjadi krusial. Bukan sekadar memberikan informasi teknis tentang cara membuka rekening atau cara membeli saham, tapi memberikan pemahaman mendalam tentang fundamental perusahaan dan bagaimana menilai apakah investasi itu benar-benar bagus atau hanya sedang trending.
Edukasi investor berbasis data—bukannya opini atau tips dari influencer—adalah kunci untuk memutus siklus saham gorengan yang merusak pasar modal.
Memberikan Insentif Kepada Perusahaan Berkualitas
Pihak regulator juga harus menciptakan insentif positif bagi perusahaan yang menunjukkan komitmen pada tata kelola yang baik dan kinerja yang berkelanjutan.
Misalnya, perusahaan dengan tata kelola ungul dan pertumbuhan konsisten bisa mendapatkan akses ke pembiayaan yang lebih murah—melalui program special listing atau fast-track untuk corporate action tertentu. Atau, investor institusional besar bisa diberikan insentif untuk berinvestasi di indeks yang berbasis fundamental, bukan hanya market cap.
Ketika sistem memberikan reward kepada perusahaan berkualitas dan penalti kepada yang memalsu, pasar akan secara alami self-correct. Perusahaan akan mulai berpikir dua kali sebelum menggunakan IPO hanya untuk exit pemilik awal.
Penutup: Memilih antara Harga atau Nilai
Pasar modal Indonesia berada di titik balik. Di satu sisi, pertumbuhan jumlah investor ritel membuka peluang inklusi keuangan yang luar biasa. Di sisi lain, jika tata kelola emiten dan edukasi investor tidak ditingkatkan, pasar akan terus diisi dengan spekulasi yang merusak kredibilitas.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apakah pasar modal Indonesia ingin menjadi mesin pembiayaan produktif untuk pertumbuhan ekonomi, ataukah akan terus menjadi arena spekulasi yang menguntungkan beberapa orang tapi merugikan mayoritas?
Perbedaannya sederhana. Pada opsi pertama, harga saham bergerak karena bisnis tumbuh. Pada opsi kedua, harga bergerak karena sentiment, dan investor ritel yang datang belakangan yang banyak kalah.
Investor cerdas memahami perbedaan itu. Mereka tahu bahwa naik turunnya harga saham dalam sebulan tidak penting. Yang penting adalah pertanyaan fundamental: apakah bisnis perusahaan ini benar-benar tumbuh? Apakah manajemennya dapat dipercaya? Apakah tata kelola cukup ketat untuk melindungi kepentingan saya sebagai pemegang saham?
Dengan menjawab ketiga pertanyaan itu secara jujur, investor akan terhindar dari jebakan “harga yang bergerak tapi bisnis yang diam.” Dan ketika cukup banyak investor yang berpikir demikian, pasar modal akan perlahan bergeser ke arah yang lebih sehat—sebuah pasar yang benar-benar mencerminkan nilai ekonomi riil dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjut

