Gedung BRI

Saham BRI 2025: Harga Tertekan, Dividen Super Gemuk & Buyback Rp3 Triliun Bikin Ngiler

Jakarta, Investor IDN – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menutup tahun 2025 dengan catatan kontras: kinerja harga saham yang tertekan namun fundamental bisnis yang tetap solid dan dividen menggiurkan yang terus mengalir kepada pemegang saham.

Saham bank pelat merah spesialis UMKM ini ditutup di level Rp3.660 per lembar pada akhir Desember 2025, turun 19,06% sepanjang tahun dari Rp4.520 di awal 2025. Penurunan ini membuat valuasi BBRI semakin menarik bagi investor jangka panjang yang mencari kombinasi value investing dan dividend yield tinggi.

Meski harga saham terkoreksi, BRI tetap konsisten memberikan pengembalian kepada pemegang saham melalui dividen interim sebesar Rp20,63 triliun atau Rp137 per saham yang dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dividen ini mencerminkan sekitar 50% dari laba bersih perseroan per kuartal III-2025 yang tercatat Rp40,77 triliun.

Laba Tertekan, Tapi Operasional Mulai Pulih

Tantangan terbesar BRI di 2025 adalah penurunan laba bersih yang signifikan. Berdasarkan data hingga November 2025, laba bersih BRI mencapai Rp45,44 triliun, turun 9,12% year-on-year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba bersih semester I-2025 bahkan terkontraksi 11,5% yoy menjadi Rp26,3 triliun dari Rp29,7 triliun pada 6M24.

Penyebab utama penurunan laba adalah tingginya biaya pencadangan kredit atau cost of credit (CoC) yang mencapai 3,29% hingga November 2025, sedikit di atas target manajemen 3-3,2%. Pembentukan cadangan kerugian pinjaman naik 6,53% yoy menjadi Rp37,84 triliun pada periode 11M25.

“Kinerja Grup pada semester pertama tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring dengan kondisi bisnis yang menantang,” ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam keterangan resmi.

Namun, tren perbaikan mulai terlihat sejak pertengahan tahun. Net Interest Margin (NIM) yang sempat tertekan di awal tahun mulai membaik ke level 6,8% di Juli 2025, meski masih di bawah target 7,3-7,7%. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) naik 2,50% yoy menjadi Rp103,40 triliun pada 11M25.

Kredit Tumbuh, DPK Tersendat

Dari sisi pertumbuhan bisnis, penyaluran kredit BRI hingga November 2025 mencapai Rp1.306,53 triliun, tumbuh 7,16% yoy—pertama kalinya masuk ke rentang target manajemen 7-9% di tahun 2025. Pertumbuhan kredit ini terutama didorong segmen mikro, korporasi, dan konsumer yang mulai pulih seiring penurunan suku bunga BI Rate.

Namun, Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya tumbuh 5,28% yoy menjadi Rp1.459,98 triliun hingga November 2025, tertinggal dari pertumbuhan kredit. Kondisi ini membuat rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat ke 89,49%—level tertinggi sepanjang tahun.

Yang menggembirakan, strategi BRI untuk memperbesar dana murah (Current Account Saving Account/CASA) membuahkan hasil. Komposisi CASA mencapai 65,5% dari total DPK per Juni 2025, meningkat dari tahun sebelumnya. Dana murah secara kontrak menembus Rp1.018,53 triliun pada November 2025, rekor baru untuk BRI.

“Komposisi ini menunjukkan strategi BRI yang konsisten dalam mendorong penghimpunan dana murah melalui optimalisasi transaction banking. Dengan CASA yang semakin dominan, biaya dana (Cost of Fund) BRI dapat ditekan sehingga mendukung profitabilitas jangka panjang,” ujar Hery dalam siaran pers.

Kualitas Aset Terjaga di Tengah Tekanan

Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) BRI tercatat 3,08% per September 2025, naik dari 2,90% pada September 2024. Meski meningkat, BRI menyediakan pencadangan yang sangat memadai dengan NPL coverage ratio mencapai 183,1% per kuartal III-2025 dan bahkan 188,84% per Juni 2025.

“Dengan coverage ratio yang sangat memadai ini, kami tidak hanya mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan, tetapi juga memberikan keyakinan kepada investor, regulator, dan seluruh stakeholders bahwa perseroan memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi,” kata Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom.

Per September 2025, total aset BRI mencapai Rp2.123,4 triliun, tumbuh 8,2% yoy. Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga solid di level 25,4%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Return on Equity (ROE) tercatat 16,55% dan Return on Asset (ROA) 2,61% per November 2025.

Dividen Yield Menggiurkan: 8,9% per Tahun

Daya tarik utama saham BBRI di tengah koreksi harga adalah dividend yield yang fantastis. Untuk tahun buku 2024, BRI membagikan total dividen Rp51,73 triliun atau Rp343,4 per saham, setara dengan 85% dari laba bersih konsolidasi. Angka ini terdiri dari dividen interim Rp135 per saham (dibayar Januari 2025) dan dividen final Rp208,4 per saham (dibayar April 2025).

Untuk tahun buku 2025, BRI kembali membagikan dividen interim Rp137 per saham dengan total Rp20,63 triliun yang dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dengan harga saham di kisaran Rp3.660, ini menghasilkan dividend yield tahunan sekitar 8,9%—salah satu yang tertinggi di sektor perbankan.

“Rencana pembagian dividen interim Tahun Buku 2025 mencerminkan fundamental BRI yang kuat serta keseimbangan antara ekspansi bisnis, penguatan UMKM, dan pengelolasan risiko yang pruden. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Perseroan dalam memberikan imbal hasil yang berkelanjutan kepada negara dan para pemegang saham,” kata Corporate Secretary BRI Dhanny.

Program Buyback Rp3 Triliun Siap Dieksekusi

Sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang, BRI telah mendapat persetujuan dari RUPST 24 Maret 2025 untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp3 triliun. Program ini dilaksanakan baik di Bursa Efek Indonesia maupun di luar bursa, secara bertahap dalam periode 12 bulan setelah RUPST.

“Kami masih memiliki alokasi anggaran untuk melakukan buyback saham. Kami memperoleh budget kurang lebih sekitar Rp3 triliun, dan saat ini kami masih memiliki budget yang dapat kami pakai sesegera mungkin jika melihat situasi pergerakan undervalue,” ujar Direktur Finance & Strategy BRI Viviana Dyah Ayu.

Buyback ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham sekaligus mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris yang telah dijalankan BRI sejak 2015.

Valuasi Menarik: PBV 1,8x dan PER 10x

Koreksi harga saham membuat valuasi BBRI semakin atraktif. Price to Book Value (PBV) BRI berada di level 1,79x-1,80x per akhir Juli 2025, masih di bawah rata-rata historis 5 tahun sebesar 2,0x. Sementara Price to Earnings Ratio (PER) hanya 10,75x dengan EPS disetahunkan Rp348—jauh lebih murah dibandingkan bank besar lainnya.

“Valuasi PBV BBRI saat ini 1,8 kali per 31 Oktober 2025 atau masih di bawah rata-rata PBV 5 tahun sehingga undervalue,” kata Viviana Dyah Ayu dalam paparan kepada media.

Konsensus analis menunjukkan sentimen positif kuat terhadap BBRI. Dari 37 analis yang memberikan rekomendasi, sebanyak 29 analis merekomendasikan BUY, 6 analis HOLD, dan hanya 2 analis SELL. Target harga rata-rata analis untuk 12 bulan ke depan berada di Rp4.531 per saham, dengan estimasi tertinggi Rp5.400 dan terendah Rp3.340.​​

MNC Sekuritas merekomendasikan HOLD dengan target harga Rp4.400, menyiratkan proyeksi PBV 2025 dan 2026 masing-masing 1,8x dan 1,7x. Sementara beberapa analis lain seperti Refinitiv Consensus menetapkan target lebih tinggi di Rp5.510 per saham.

Transformasi Digital: BRImo Pengguna 43,9 Juta

Pilar kekuatan BRI di masa depan adalah transformasi digital yang masif. Hingga Agustus 2025, sebanyak 99,1% transaksi BRI sudah dilakukan melalui layanan digital, dengan kurang dari 1% transaksi di outlet konvensional. Ini menunjukkan keberhasilan digitalisasi BRI yang menyediakan akses perbankan hingga ke pelosok nusantara.

Super app BRImo menjadi pilar utama transformasi digital dengan pengguna mencapai 43,9 juta per Agustus 2025, tumbuh 20,35% yoy. Nilai transaksi BRImo melonjak 25,05% yoy menjadi Rp4.436,49 triliun dengan volume 3,51 miliar transaksi (naik 27,22% yoy).

“Seluruh kanal yang ada menjadi pilihan utama nasabah dalam bertransaksi dengan mudah, cepat, dan aman. Ke depan, BRI akan terus memperkuat ekosistem digital agar semakin relevan sebagai solusi kebutuhan transaksi masyarakat,” kata Corporate Secretary BRI Dhanny.

Ekosistem digital banking BRI mencakup 702 ribu unit e-channel yang terdiri dari 10.650 unit ATM, 9.007 unit CRM, dan 682.370 merchant. Jaringan AgenBRILink telah tersebar di lebih dari 66 ribu desa, mendukung inklusi keuangan hingga pelosok Indonesia.

Strategi 2026: Optimis NIM Tembus 7,7%

Memasuki 2026, BRI optimistis dapat memperbaiki kinerja dengan beberapa strategi kunci. Manajemen yakin NIM tahun ini bisa tembus di atas 7,7%, lebih tinggi dari rata-rata industri, didorong penurunan BI Rate ke 5% yang mendukung pertumbuhan kredit dan likuiditas.

“Target NIM kami tahun ini sekitar 7,3% hingga 7,7%. Mungkin pada tahun ini bisa di atas 7,7% atau paling rendah di kisaran target atau masih relatif lebih tinggi dibandingkan industri perbankan,” kata Head of Investor Relations BRI Siaga Ridha.

Strategi lain meliputi penguatan CASA untuk menekan cost of fund, ekspansi kredit selektif terutama di segmen UMKM yang menjadi tulang punggung BRI, dan percepatan digitalisasi melalui platform BRImo dan QLola.​​

BRI juga akan terus memperkuat manajemen risiko melalui model asesmen kredit yang lebih prediktif, early warning system, digital collection, serta risk-based decision making untuk menjaga kualitas aset.

Rekomendasi Analis: Buy dengan Potensi Upside 24%

Mayoritas analis sekuritas merekomendasikan BUY untuk BBRI dengan potensi kenaikan 24% dari harga saat ini. Dengan target harga rata-rata Rp4.693 per saham, terdapat peluang keuntungan (potential return) hingga 24,13% dari harga penutupan Rp3.780.

Beberapa analis bahkan memberikan target lebih agresif. Verdhana Sekuritas merekomendasikan BUY dengan target harga Rp5.400 berdasarkan analisis DuPont dengan asumsi PBV 2,5x dan PER 13,1x. Sucor Sekuritas memberikan target Rp6.400 per saham, didukung proyeksi ROE berkelanjutan 23% dengan cost of equity 12%.

Dari perhitungan fundamental menggunakan metode PER historis (rata-rata 12x) dengan proyeksi EPS 2025 sebesar Rp412, estimasi harga wajar saham BBRI adalah Rp4.944—mengimplikasikan potensi upside sekitar 32% dari harga sekarang.

Risiko dan Tantangan ke Depan

Meski prospek positif, BBRI menghadapi sejumlah risiko. Tekanan makro eksternal, persaingan ketat di sektor perbankan digital, dan potensi penurunan kualitas aset jika ekonomi melambat menjadi ancaman utama.

Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dari penghimpunan DPK juga membuat LDR meningkat ke 89,49%, mendekati batas maksimum 92% yang ditetapkan regulator. Kondisi ini bisa membatasi ruang ekspansi kredit jika tidak diimbangi strategi penghimpunan dana yang lebih agresif.

Namun, dengan fundamental solid yang ditunjukkan oleh CAR 25,4%, NPL coverage ratio 183%, dan komitmen dividen yang konsisten, BBRI tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari kombinasi capital gain dan dividend yield tinggi.

Posisi BBRI sebagai bank dengan jangkauan terluas di Indonesia—melayani 148 juta nasabah tabungan dengan fokus pada segmen UMKM—memberikan competitive moat yang sulit ditiru pesaing. Transformasi digital yang masif melalui BRImo juga memposisikan BRI sebagai pemain kuat di era banking 4.0.

Disclaimer: Informasi ini bukan rekomendasi jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab investor.

More From Author

Saham ASII

Kinerja Saham Astra Di Tahun 2025: Rally 35% di Tengah Lesunya Pasar Otomotif

PT Chandra Asri Pacific Tbk

Laba TPIA Meledak 2025 Gara-Gara Akuisisi Shell, Tapi Sahamnya Sudah Ketinggian?

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan