OJK 2025

IHSG Sepanjang 2025 Naik 22 Persen

Jakarta, Investor IDN – Pasar modal Indonesia menutup 2025 dengan momentum menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan 22,10 persen year to date dan parkir di level 8.644,26, sementara basis investor domestik menembus rekor 20,2 juta Single Investor Identification (SID) dengan penambahan 5,34 juta investor sepanjang tahun. Pencapaian ganda ini menandai momentum ekspansi yang jarang terjadi di pasar modal negara berkembang, yakni pertumbuhan valuasi yang berjalan seiring dengan pelebaran basis investor ritel.

Kapitalisasi pasar menembus Rp15.810 triliun, melonjak 28,16 persen secara tahunan dan melampaui target strategis yang ditetapkan dalam Peta Jalan Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Lebih signifikan lagi, rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB 2024 mencapai 71,41 persen, meningkat dari sekitar 62,6 persen pada 2024, sehingga menegaskan peran pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan utama perekonomian nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa ketahanan pasar modal Indonesia teruji di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global, tensi geopolitik, dan volatilitas sentimen perdagangan pada awal tahun. “Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” ujar Inarno dalam Konferensi Pers Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025 di Jakarta, Selasa (30/12).

Penghimpunan Dana Lampaui Target, Aset Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp1 Kuadriliun

Dari sisi suplai, minat korporasi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap kuat. Penghimpunan dana sepanjang 2025 mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum, melampaui target Rp220 triliun. Capaian ini mencakup 18 emiten baru yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) dan dua emiten efek beragun aset (EBA), menunjukkan diversifikasi instrumen dan kualitas pipeline emiten yang semakin baik.

Pada industri pengelolaan investasi, dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana mencapai Rp1.039 triliun, tumbuh 24,16 persen year to date. Pertumbuhan dana kelolaan ini sejalan dengan ekspansi basis investor ritel yang menjadikan reksa dana sebagai pintu masuk utama ke pasar modal. Sementara itu, pendanaan melalui securities crowdfunding (SCF) secara akumulatif mencatat Rp1,808 triliun dari 968 penerbit, menandakan peran teknologi finansial yang makin menguat dalam ekosistem pembiayaan.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga menguat 12,10 persen year to date ke level 440,19. Kinerja positif di pasar surat utang ini menunjukkan minat yang terjaga baik pada instrumen utang korporasi maupun surat berharga negara di tengah dinamika suku bunga global.

Generasi Muda Mendominasi, Inklusi Investor Makin Dalam

Dari sisi permintaan, pertumbuhan investor ritel menjadi sorotan utama. Jumlah SID bertambah 5,34 juta sepanjang 2025 sehingga total mencapai 20,2 juta SID. Sebanyak 79 persen di antaranya berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, menegaskan bahwa generasi milenial dan generasi Z menjadi motor utama pendalaman pasar.

Dominasi investor muda memiliki beberapa implikasi strategis. Pertama, horizon investasi yang lebih panjang berpotensi menambah stabilitas pasar. Kedua, pemanfaatan platform digital dan aplikasi investasi mendorong efisiensi biaya dan mempercepat proses transaksi. Ketiga, basis investor yang luas di kelompok usia produktif memperbesar potensi akumulasi aset jangka panjang dan aliran dana yang lebih stabil ke pasar modal.

Tren Positif di Pasar Karbon dan Inovasi Regulasi

Segmen baru, seperti pasar karbon, mulai memberikan kontribusi tersendiri. Volume transaksi akumulatif di bursa karbon sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar. Partisipasi 150 perusahaan dan ketersediaan unit karbon 2,67 juta ton CO₂ ekuivalen menunjukkan minat yang tumbuh terhadap instrumen berbasis keberlanjutan dan agenda keuangan hijau.

Dari sisi regulasi, OJK menerbitkan sepuluh peraturan OJK (POJK) dan enam surat edaran/ketentuan pelaksanaan yang menjadi fondasi penguatan pasar, antara lain POJK tentang derivatif keuangan berbasis efek, dematerialisasi efek ekuitas dan aset tidak diklaim, serta pemeringkatan reksa dana dan manajer investasi berbasis peringkat. OJK juga meluncurkan buku “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan” sebagai rujukan industri dan publik untuk memperkuat ekosistem ekonomi hijau.

Pengawasan Integritas dan Sanksi

Untuk menjaga integritas pasar, sepanjang 2025 OJK melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus atas dugaan pelanggaran, dengan 116 kasus terkait transaksi saham. Atas temuan tersebut, OJK menjatuhkan 120 sanksi administratif atas pelanggaran, 1.180 sanksi keterlambatan laporan, dan 65 sanksi nonkasus. Bentuk sanksi mencakup enam pencabutan izin, enam perintah tertulis, dan 329 peringatan tertulis, dengan total denda administratif mencapai Rp123,3 miliar.

Langkah penegakan hukum ini menjadi sinyal bahwa regulator tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kuantitatif, tetapi juga pada kualitas tata kelola dan perlindungan investor. Penindakan terhadap pelanggaran diharapkan memperkuat kepercayaan investor dan menekan praktik manipulatif yang berpotensi merusak integritas pasar.

Empat Agenda Strategis 2026

Memasuki 2026, OJK menetapkan empat agenda strategis untuk memperdalam dan memperkuat pasar modal, yakni pendalaman pasar, peningkatan integritas pasar, penguatan kelembagaan perusahaan efek dan manajer investasi, serta pengembangan keuangan berkelanjutan. Pendalaman pasar ditempuh melalui penguatan sisi suplai, permintaan, dan infrastruktur pengawasan. Peningkatan integritas pasar difokuskan pada efektivitas sanksi dan peningkatan kualitas emiten.

Di sisi kelembagaan, OJK mendorong penguatan ketahanan siber dan pengendalian internal perusahaan efek dan manajer investasi. Sementara itu, agenda keuangan berkelanjutan diarahkan pada perluasan pengguna jasa bursa karbon dan implementasi peta jalan keberlanjutan 2026–2030. Sinergi OJK, lembaga pengatur mandiri, pemerintah, dan pelaku industri menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

More From Author

blank

Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 20,32 Juta SID, Tumbuh 37% di Tengah Dominasi Generasi Muda

Pelabuhan WIKA Beton

Pelabuhan WIKA Beton Kembali Melayani Lonjakan Nataru 2025/2026

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan