Jakarta, Investor IDN – Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan pencapaian monumental setelah jumlah investor resmi menembus angka 20,32 juta Single Investor Identification (SID) per 29 Desember 2025. Capaian ini mencerminkan lonjakan sebesar 37% secara tahunan dibandingkan posisi akhir 2024 yang tercatat 14,87 juta SID, menandai akselerasi tertinggi dalam pertumbuhan basis investor domestik sejak pandemi Covid-19.
PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan angka tersebut merupakan konsolidasi investor dari berbagai instrumen pasar modal, mencakup saham, surat utang, reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN), serta efek lain yang tercatat di sistem The Central Securities and Book-Entry Settlement System (C-BEST). Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menegaskan pertumbuhan ini hampir dua kali lipat dibandingkan penambahan investor pada 2024, dengan 5,35 juta investor baru bergabung sepanjang tahun 2025.
Reksa Dana Memimpin Ekspansi, Saham dan SBN Ikut Melesat
Rincian komposisi investor menunjukkan reksa dana menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan pasar modal Indonesia di 2025. Jumlah investor reksa dana mencapai 19,17 juta SID, melonjak 37% dari 14,03 juta investor di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan Asset Under Management (AUM) reksa dana yang naik 23% year-on-year (yoy) menjadi Rp996 triliun, dengan jumlah produk investasi tercatat mencapai 2.317 produk atau naik 2% dibandingkan 2024.
Investor saham dan efek lainnya turut mencatatkan pertumbuhan solid dengan 8,59 juta SID, meningkat 35% dari 6,38 juta investor pada akhir 2024. Sementara itu, investor SBN tumbuh 18% dari 1,2 juta menjadi 1,41 juta investor sepanjang 2025. Ekspansi di hampir seluruh kelas aset ini menunjukkan pematangan ekosistem pasar modal domestik yang semakin inklusif dan beragam.
Total aset yang tercatat di KSEI meningkat menjadi Rp10.438 triliun per 24 Desember 2025, atau menguat 27% dibandingkan akhir tahun 2024. Jumlah efek yang tercatat di sistem C-BEST mencapai 3.627 efek, tumbuh 11% year-on-year. Peningkatan ini sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mencatatkan 24 rekor All Time High (ATH) sepanjang 2025 dengan kapitalisasi pasar sempat menyentuh Rp16.000 triliun.
Milenial dan Gen Z Mendominasi, Investor Lokal Kuasai 99,78%
Dari sisi demografi, generasi muda menjadi tulang punggung pertumbuhan investor pasar modal Indonesia. Data KSEI menunjukkan 52,59% investor baru berusia di bawah 30 tahun, diikuti kelompok usia 31-40 tahun sebesar 24,88%. Komposisi gender didominasi laki-laki dengan porsi 66,35%, sementara dari sisi pekerjaan, 66,20% merupakan pegawai atau profesional.
Profil penghasilan investor juga mencerminkan penetrasi ke kelas menengah, dengan 57,29% investor berpenghasilan antara Rp10 juta hingga Rp100 juta per bulan. Dari sisi pendidikan, 15,15% investor merupakan lulusan SMA atau sederajat, menandakan demokratisasi akses investasi yang semakin luas.
Dominasi investor domestik semakin menguat sepanjang 2025. KSEI mencatat komposisi investor pasar modal terdiri dari 99,78% investor lokal dan hanya 0,22% investor asing, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 99,73%. Dominasi ini juga tercermin pada komposisi aset investor di sistem C-BEST lokal yang mencapai 60,37%, naik dari 59,96% pada 2024.
Pertumbuhan Regional: Sumatera Selatan dan Sulawesi Barat Memimpin
Dari perspektif geografis, pertumbuhan investor tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sumatera Selatan mencatatkan pertumbuhan SID tertinggi dengan 50,71%, disusul Aceh (50,44%), Riau (48,65%), Kalimantan Tengah (48,19%), dan Jambi (47,56%). Sementara dari sisi pertumbuhan aset, Sulawesi Barat mencatatkan kenaikan paling signifikan dengan 132,87%, menandakan ekspansi ekonomi dan literasi keuangan di wilayah tersebut.
Pola pertumbuhan regional ini mencerminkan keberhasilan program edukasi dan inklusi keuangan yang menjangkau daerah di luar Jawa, sejalan dengan strategi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pelaku industri pasar modal untuk memperluas basis investor secara nasional.
IHSG Menguat 22,13% di Tengah Tekanan Asing Net Sell
Meski investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp17,34 triliun sepanjang 2025, IHSG tetap mampu menguat 22,13% secara year-to-date dan ditutup di level 8.646,94 pada perdagangan terakhir. Reli pasar saham ini digerakkan sepenuhnya oleh investor domestik, khususnya ritel, dengan rata-rata investor aktif bertransaksi mencapai lebih dari 901 ribu per bulan dan lebih dari 250 ribu investor bertransaksi harian.
Dari sisi transaksi, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham melampaui target dengan tembus Rp18,06 triliun, jauh di atas target awal sebesar Rp13,3 triliun. Investor ritel mendominasi dengan porsi 49,9% dari total transaksi, sementara investor institusi asing berkontribusi 36,3% terhadap total rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.
BEI mencatat terdapat 956 emiten tercatat di bursa dengan total penggalangan dana mencapai Rp278 triliun sepanjang 2025, meningkat signifikan dibandingkan rata-rata tahunan Rp200 triliun. Meski jumlah Initial Public Offering (IPO) hanya 26 emiten—di bawah target 45 emiten—dana yang dihimpun mencapai Rp18 triliun, didorong oleh kehadiran enam perusahaan lighthouse yang melampaui target awal lima perusahaan.
Momentum Historis: Dari 3,8 Juta di 2020 Menjadi 20,32 Juta di 2025
Pertumbuhan investor pasar modal Indonesia dalam lima tahun terakhir mencatatkan momentum historis. Pada 2020, di tengah pandemi Covid-19, jumlah SID baru mencapai 3,89 juta. Angka ini kemudian meningkat pesat menjadi 7,49 juta SID pada 2021, 10,31 juta SID pada 2022, 12,17 juta SID pada 2023, dan 14,87 juta SID pada 2024. Lonjakan menjadi 20,32 juta SID di 2025 menandai pertumbuhan lebih dari 400% sejak pandemi, mencerminkan transformasi struktural dalam perilaku investasi masyarakat Indonesia.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menyatakan pencapaian ini merupakan hasil dari upaya konsisten dalam memperkenalkan industri pasar modal kepada masyarakat, yang kini mendapat respons positif dan kesadaran yang semakin tinggi. “Kalau kita lihat tahun 2024, angkanya baru 14,8 juta dan saat ini angkanya sudah mencapai 20,12 juta, bertumbuh sekitar 35% hanya di tahun 2025,” ujar Samsul dalam acara media gathering HUT ke-28 KSEI di Jakarta.
Strategi 2026: Pendalaman Pasar dan Perlindungan Investor
Menatap 2026, OJK dan BEI menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat integritas dan memperdalam pasar modal Indonesia. OJK akan fokus pada peningkatan kualitas perusahaan tercatat melalui penyempurnaan kebijakan pencatatan awal, peningkatan free float dan continuous free float, transparansi ultimate beneficial owner, hingga kejelasan exit policy bagi emiten.
BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp15 triliun pada 2026, dengan proyeksi kehadiran enam perusahaan lighthouse dan 50 IPO baru. Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan BEI telah menyiapkan masterplan pengembangan pasar modal 2026-2030 untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan dan meningkatkan daya saing global, dengan target ambisius membangun pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, serta tumbuh secara global.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menekankan komitmen untuk mengimplementasikan program strategis yang difokuskan pada peningkatan integritas dan kedalaman pasar, termasuk penguatan perlindungan investor minoritas dan ritel yang saat ini menopang IHSG, serta penegakan aspek perilaku termasuk pengawasan terhadap financial influencer (finfluencer).
Pencapaian 20,32 juta SID investor di akhir 2025 bukan hanya sekadar angka, tetapi cerminan dari transformasi struktural pasar modal Indonesia menuju ekosistem yang lebih inklusif, likuid, dan berkelanjutan. Dengan dominasi generasi muda dan investor domestik yang semakin solid, pasar modal Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan ASEAN dalam dekade mendatang.

