Jakarta, Investor IDN – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan dua saham blue-chip sector energi dalam satu hari yang sama. Keputusan ini diambil setelah PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) dan PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) mencatat lonjakan harga kumulatif yang sangat signifikan di sesi penutupan Senin (5 Januari 2026), memicu mekanisme perlindungan investor yang dikenal sebagai cooling down.
Suspensi perdagangan kedua emiten mulai berlaku sejak sesi I hari Selasa (6 Januari 2026) hingga ada pengumuman lebih lanjut dari otoritas bursa. Penghentian sementara ini diterapkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai sekaligus.
Lonjakan Luar Biasa Memicu Alat Pengaman Pasar
PKPK memimpin dengan lonjakan harga sebesar 24,74%, ditutup di level Rp1.790 per saham, naik 355 poin dari penutupan Jumat (2 Januari 2026) di Rp1.435. Volume transaksi mencapai rekor 16,9 juta saham dengan pergerakan harga sepanjang hari berkisar antara Rp1.460 hingga Rp1.790.
Sementara itu, FIRE menunjukkan kinerja yang lebih eksplosif dengan peningkatan 34,48% dalam sehari. Saham emiten pertambangan batubara ini ditutup di Rp234, melompat dari harga sebelumnya Rp174. Volume perdagangan FIRE mencapai 245,8 juta saham—volume yang jauh lebih tinggi dibanding PKPK—mencerminkan antusiasme pembeli yang masif di pasar sekunder.
Dua lonjakan bersamaan ini tidak luput dari pantauan sistem real-time BEI, yang merancang mekanisme otomatis untuk melindungi kepentingan investor ketika pergerakan harga melampaui tingkat normalitas.
Cooling Down: Waktu Berpikir untuk Investor
“Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I tanggal 6 Januari 2026 sampai dengan Pengumuman Bursa lebih lanjut,” ujar Pande Made Kusuma Ari A., Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, dalam keterangan resminya.
Mekanisme cooling down berfungsi sebagai “pemutus sirkuit” pasar yang memberikan jeda waktu bagi pelaku pasar untuk mengevaluasi informasi fundamental perusahaan sebelum melanjutkan transaksi. Tidak seperti circuit breaker yang biasa menghentikan perdagangan akibat jatuh/naik harga indeks, cooling down difokuskan pada anomali pergerakan saham individual yang dinilai berisiko melukai investor retail yang kurang berpengalaman.
“Bursa ingin memberikan waktu yang cukup bagi pelaku pasar untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan investasi berdasarkan informasi yang ada,” sambung Pande, menekankan bahwa suspensi ini bukan penalti terhadap emiten, melainkan instrumen proteksi pasar yang terukur.
Fundamentals di Balik Lonjakan Harga
Tidak ada pengumuman material atau publikasi informasi penting dari kedua perusahaan yang mendahului lonjakan harga pada saat publikasi penelitian ini. Namun, data terakhir menunjukkan dinamika yang berbeda di antara kedua emiten.
PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK), yang beroperasi di segmen konstruksi migas, pertambangan batubara, dan penyewaan alat berat, baru-baru ini mengumumkan rencana strategis akuisisi untuk tahun 2026. Direktur Utama Haryanto Sofian telah memberitahu pasar melalui mekanisme keterbukaan informasi BEI bahwa perusahaan sedang menyiapkan strategi ekspansi signifikan, meskipun rincian target dan valuasi akuisisi belum diungkapkan ke publik.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp2,148 triliun setelah lonjakan kemarin, PKPK memasuki awal tahun dengan momentum positif. Harga saham kini berada di level tertinggi tahun 2026 (Rp1.790), sementara rentang 52 minggu menunjukkan volatilitas signifikan dari Rp492 hingga level baru hari ini.
PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) menjalankan bisnis investasi dan perdagangan di sektor pertambangan batubara, dengan anak perusahaan PT Alfara Delta Persada dan PT Berkat Bara Jaya mengelola operasi tambang batubara di Kalimantan Timur. Perusahaan juga memiliki aset pembangkit listrik tenaga batubara melalui PT Alfa Daya Energi, yang memberikan eksposur ke sektor energi terbarukan transisi.
Capitalisasi pasar FIRE sekarang mencapai Rp345,2 miliar, meningkat signifikan dari akumulasi harga. Rentang 52 minggu terakhir menunjukkan pergerakan dari Rp65 hingga Rp234 saat ini, mengindikasikan saham ini sebelumnya sangat illiquid dan kini mendapat perhatian pasar yang baru.
Investor Diminta Waspada dan Ikuti Informasi Resmi
BEI mengimbau semua investor dan pemangku kepentingan untuk terus memantau pengumuman resmi yang akan dikeluarkan oleh bursa terkait perkembangan terbaru dari kedua perusahaan tersebut. Perusahaan emiten juga diminta untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan mengenai faktor-faktor yang mendorong lonjakan harga tersebut.
“Bursa mengimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan,” tutur Pande, menekankan pentingnya edukasi investor dalam lingkungan pasar modal yang dinamis.
Suspensi ini adalah bagian dari komitmen BEI sebagai operator bursa dan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk menjaga integritas pasar dan melindungi kepercayaan investor jangka panjang. Keputusan menggunakan cooling down—bukan penalti penuh—menunjukkan bahwa otoritas bursa tidak mendeteksi indikasi pelanggaran material atau fraud, melainkan sekadar pergerakan harga yang tidak biasa yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Investor diharapkan menggunakan waktu suspensi ini untuk melakukan riset fundamental yang lebih mendalam sebelum keputusan trading berikutnya, baik untuk PKPK maupun FIRE.

