Jakarta, Investor IDN – Pada awal Januari 2026, pasar modal Indonesia menyaksikan salah satu restrukturisasi BUMN terbesar dalam dekade terakhir. PT Danantara Asset Management (DAM), yang merupakan holding operasional dari BUMN, telah mengalihkan sebagian kepemilikan saham 12 perusahaan strategis kepada Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN). Transaksi ini bukan sekadar perpindahan administratif, melainkan implementasi nyata dari Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 yang secara fundamental mengubah cara negara mengelola portofolio BUMN senilai ratusan triliun rupiah.
Cerita di Balik Undang-Undang Baru
Untuk memahami apa yang terjadi, kita perlu mundur sedikit ke Oktober 2025. Saat itu, Presiden Prabowo Subianto menandatangani UU 16/2025 tentang Perubahan Keempat atas UU BUMN. Regulasi ini lahir dari sebuah ide sederhana namun revolusioner: bagaimana cara negara mengelola BUMN agar tidak selalu terjebak dalam pertarungan kepentingan politik?
Jawabannya adalah menciptakan dua institusi yang saling melengkapi. Pertama, Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) yang bertugas seperti regulator dan pemegang saham strategis. Kedua, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara yang dikenal dengan nama Danantara, yang menjalankan BUMN layaknya perusahaan swasta profesional.
Model ini terinspirasi dari Temasek Singapura, di mana pemerintah tetap punya kontrol penuh namun operasional harian diserahkan kepada profesional yang tahu bisnis. Negara mempertahankan 1% saham Seri A Dwiwarna dengan hak istimewa, sementara 99% saham Seri B dikelola Danantara secara komersial.
Pengalihan Saham: Detil Transaksi yang Mengguncang Pasar
Pada 5–6 Januari 2026, DAM melakukan pengalihan yang cukup besar. Dari sektor konstruksi, empat perusahaan besar terlibat dalam transaksi ini. Waskita Karya mengalihkan lebih dari 21 miliar saham Seri B kepada BP BUMN, sementara Wijaya Karya menyerahkan 362 juta saham. Adhi Karya dan PP masing-masing mengalihkan 54 juta dan 31 juta saham. Semua transaksi ini dilakukan dengan harga yang setara dengan nilai buku atau nilai pasar saat itu, tanpa diskon khusus.
Dari sektor perbankan, ketiga pilar perbankan negara turut dilibatkan. Bank Mandiri menyerahkan 485 juta saham Seri B, Bank Rakyat Indonesia mengirimkan 806 juta saham, dan Bank Negara Indonesia melepas 223 juta saham kepada BP BUMN. Ketiga bank ini adalah sumber penghasilan APBN terbesar dari dividen BUMN, jadi pengalihan ini sekaligus menjadi simbol kepercayaan pemerintah pada model baru.
Infrastruktur strategis juga terlibat. Jasa Marga, pengelola jaringan tol terpanjang di Indonesia, melepas 50 juta saham. Garuda Indonesia, meski sedang dalam transformasi, mengalihkan 3,7 miliar saham. Krakatau Steel, pemain baja negara, menyerahkan 154 juta saham. Telkom, raksasa telekomunikasi, mengalihkan 516 juta saham. Dan Semen Indonesia melepas 34 juta saham ke BP BUMN.
Secara total, lebih dari 27 miliar saham Seri B dengan nilai nominal triliunan rupiah berpindah tangan dalam hitungan jam.
Mengapa Ini Penting? Perubahan Kepemilikan Berarti Perubahan Kontrol
Di sini letak poin penting yang sering terlewatkan investor. Ketika DAM mengalihkan saham ke BP BUMN, artinya struktur kepemilikan berubah. Sebelumnya, semua BUMN ini dikelola melalui satu holding yaitu DAM. Sekarang, ada lapisan tambahan di atasnya, yaitu BP BUMN yang mewakili kepentingan negara secara langsung.
Konsekuensinya? BP BUMN, melalui 1% saham Seri A Dwiwarna-nya, memiliki hak veto dalam keputusan bisnis besar. Misalnya, jika Mandiri ingin mengakuisisi bank lain atau menjual aset senilai triliunan rupiah, BP BUMN bisa mengatakan “tidak”. Hak istimewa ini memberikan negara rem darurat yang sebelumnya tidak ada.
Pada waktu bersamaan, Danantara tetap mengelola 99% saham Seri B dan operasional sehari-hari. Jadi, seperti ini sistemnya: BP BUMN mengawasi strategi jangka panjang, sementara Danantara fokus pada keuntungan operasional dan efisiensi. Pemisahan ini dirancang untuk mengurangi campur tangan birokrat dalam keputusan bisnis harian yang membutuhkan kecepatan dan profesionalisme.
Dampak bagi Investor: Cerita Beragam dari Berbagai Kacamata
Bagi investor individu dan institusional, restrukturisasi ini membuka pertanyaan besar: apakah saham BUMN jadi lebih menarik atau malah lebih berisiko?
Jawaban pertama datang dari sudut tata kelola perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir, BUMN sering dikritik karena keputusan bisnis yang terkesan politis. Dividen ditekan untuk mendukung program sosial pemerintah, investasi dialokasikan untuk proyek tanpa uji kelayakan yang ketat, dan manajemen lebih mempertimbangkan hubungan dengan pusat kekuasaan daripada profitabilitas. Dengan struktur baru, harapannya BUMN bisa beroperasi lebih profesional. Tata kelola yang lebih baik biasanya berarti akuntabilitas lebih tinggi, transparansi lebih terbuka, dan keputusan berbasis merit, bukan koneksi.
Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa BUMN dengan tata kelola profesional cenderung menghasilkan return on equity yang lebih tinggi beberapa persen dalam tiga tahun pasca-restrukturisasi. Angka ini mungkin terdengar kecil, tapi dalam konteks BUMN yang asetnya mencapai ratusan triliun, itu berarti puluhan hingga ratusan triliun rupiah tambahan profit.
Dampak kedua adalah tentang valuasi. Saat ini, saham BUMN diperdagangkan dengan diskon signifikan dibanding perusahaan swasta. Rata-rata Price-to-Book-Value BUMN sekitar 0,5 hingga 1,2 kali, jauh lebih rendah dari perusahaan swasta yang bisa mencapai 2–3 kali. Diskon ini adalah “BUMN discount” yang terjadi karena investor khawatir dengan risiko politik dan performa operasional yang tidak konsisten. Jika struktur Danantara berjalan baik dan profit meningkat, diskon ini bisa mengecil. Bayangkan jika PBV BUMN naik ke kisaran 1,5–2,0 kali karena profitabilitas meningkat dan risiko menurun. Itu artinya capital gain yang signifikan untuk investor yang sudah memegang saham sebelum perubahan ini.
Dividen juga berpotensi mengalami perubahan. Danantara, sebagai holding profesional, akan mengelola kebijakan dividen dengan lebih hati-hati. Bukan berarti dividen akan dipangkas, melainkan dividen akan disesuaikan dengan profit yang berkelanjutan dan kebutuhan reinvestasi. Ini baik untuk pemegang saham jangka panjang karena menjamin keberlanjutan usaha dan menjaga kesehatan neraca perusahaan.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun, seperti setiap reformasi besar, ada risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama adalah masalah implementasi. Mengintegrasikan 12 perusahaan besar dengan sistem IT berbeda, budaya kerja berbeda, dan pasar yang berbeda bukan pekerjaan mudah. Pada fase transisi, mungkin ada inefisiensi yang justru menekan profitabilitas. Biaya konsultasi, upgrade sistem, dan pelatihan karyawan bisa mencapai angka miliaran hingga triliunan rupiah dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Kedua, ada risiko dari overlapping authority. Meski UU 16/2025 jelas mendefinisikan peran BP BUMN dan Danantara, di lapangan masih ada peluang tarik-menarik antar-institusi. Kementerian BUMN, misalnya, atau regulator sektor (OJK untuk bank, Kominfo untuk Telkom), masih punya wewenang mereka masing-masing. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa terjadi kebingungan perintah yang merugikan bisnis.
Ketiga adalah risiko politik. Meski UU 16/2025 dirancang untuk mengurangi intervensi politik, tidak ada jaminan bahwa rezim yang berbeda di masa depan akan tetap setia pada sistem ini. Ada kemungkinan undang-undang ini direvisi jika ada perubahan Presiden atau komposisi parlemen. Investor asing dan investor institusional dalam negeri sangat sensitif terhadap risiko ini.
Sektor Demi Sektor: Mana yang Paling Berpeluang?
Restrukturisasi ini tidak berdampak sama untuk semua sektor BUMN.
Perbankan, khususnya BBRI yang fokus pada UMKM, berpotensi besar untuk ekspansi kredit dengan margin yang lebih sehat. Model Danantara memberikan kebebasan untuk pricing yang lebih kompetitif dan produk yang lebih inovatif tanpa harus selalu tunduk pada intervensi yang kurang berpihak pada bisnis. Return on Assets BBRI yang saat ini sekitar 2% berpeluang meningkat dalam beberapa tahun ke depan jika eksekusi berjalan baik.
Sektor konstruksi BUMN Karya akan mendapatkan akses lebih jelas ke pipeline proyek strategis pemerintah, termasuk pembangunan IKN di Kalimantan dan modernisasi infrastruktur di berbagai daerah. Namun, kompetisi internal dalam ekosistem yang sama bisa membuat margin lebih ketat. Investor harus siap dengan volatilitas jangka pendek, terutama terkait isu kas, utang, dan progres proyek.
Garuda Indonesia adalah cerita yang berbeda. Maskapai ini sedang dalam fase transformasi operasional yang sulit. Dengan sistem Danantara, Garuda bisa lebih cepat mengambil keputusan sulit seperti pensiun pesawat tua, renegosiasi sewa, atau rasionalisasi rute yang merugi. Jika turnaround berhasil, saham ini berpotensi menjadi multi-bagger dalam beberapa tahun. Tapi jika gagal, risikonya juga besar.
Telkom punya karakter lain lagi. Sebelum Danantara, Telkom sudah dianggap salah satu BUMN dengan tata kelola yang baik. Dengan dukungan struktur baru, Telkom bisa fokus pada investasi jaringan 5G, data center, dan layanan digital tanpa terlalu khawatir bahwa laba harus dikorbankan berlebihan untuk program-program di luar bisnis inti. Untuk investor jangka panjang, ini menguatkan thesis bahwa Telkom tetap menjadi salah satu tulang punggung portofolio BUMN.
Jasa Marga adalah contoh klasik saham defensif. Meski tarif tol diatur dan tidak bisa naik sesuka hati, arus kas relatif stabil dan visibilitas pendapatan cukup jelas. Struktur Danantara dan BP BUMN tidak mengubah banyak fundamental bisnis Jasa Marga, tetapi memberikan kepastian bahwa fokus manajemen akan tetap pada efisiensi operasional dan pengelolaan utang.
Strategi Investor: Dari Konservatif hingga Agresif
Bagi investor konservatif yang mengincar dividen stabil, saham-saham seperti Jasa Marga, Telkom, dan Semen Indonesia bisa menjadi kandidat utama. Ketiga emiten ini punya kemampuan menghasilkan kas yang kuat dan cenderung tidak terlalu terombang-ambing oleh perubahan struktural, dibandingkan misalnya dengan konstruksi atau maskapai.
Investor dengan profil risiko menengah bisa melirik BBRI dan Mandiri. Keduanya punya rekam jejak profitabilitas yang kuat, jaringan luas, dan peluang besar dalam digitalisasi layanan keuangan. Dalam skenario di mana governance membaik dan intervensi berkurang, potensi kenaikan valuasi dan laba bersih cukup menarik.
Sementara itu, investor agresif atau pemburu value bisa mempertimbangkan Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. Keduanya saat ini lebih mirip “cerita perbaikan” daripada saham defensif. Jika skenario perbaikan berjalan sesuai rencana, kenaikan harga saham bisa sangat besar. Namun risikonya juga tinggi, sehingga porsi alokasi sebaiknya tetap dibatasi dan disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing.
Dari sisi timing, investor sebaiknya berhati-hati jika pasar sedang euforia merespons berita restrukturisasi. Alih-alih mengejar kenaikan cepat, pendekatan yang lebih bijak adalah menunggu koreksi wajar setelah reli awal dan melakukan akumulasi bertahap. Dengan begitu, risiko membeli di pucuk bisa dikurangi.
Outlook: Indonesia Sedang Belajar Mengelola BUMN Lebih Serius
Dalam jangka pendek, wajar bila pasar masih penuh tanda tanya. Akan ada banyak berita tentang dinamika internal antara BP BUMN, Danantara, dan manajemen masing-masing BUMN. Beberapa keputusan mungkin kontroversial, beberapa lagi bisa menjadi contoh best practice baru.
Dalam jangka menengah, jika implementasi berjalan relatif mulus, pasar akan mulai menilai kembali (re-rating) BUMN Indonesia. Laporan keuangan yang lebih rapi, strategi yang lebih jelas, dan komunikasi yang lebih profesional kepada investor akan menjadi katalis positif.
Dalam jangka panjang, jika model Danantara mampu bertahan melewati pergantian pemerintahan dan perubahan siklus politik, Indonesia berpeluang memiliki portofolio BUMN yang dikelola dengan standar kelas dunia. Itu bukan sekadar wacana, melainkan potensi nyata yang sedang dibangun melalui serangkaian kebijakan yang kini mulai terlihat bentuk konkretnya di pasar saham.
Bagi investor, restrukturisasi ini adalah momentum. Bukan berarti semua saham BUMN otomatis layak dikoleksi, tetapi inilah saat yang tepat untuk lebih serius mempelajari tiap emiten: siapa yang mampu memanfaatkan struktur baru ini untuk tumbuh, siapa yang hanya akan ikut arus tanpa banyak perubahan.

