Jakarta, Investor IDN – CGS International Sekuritas Indonesia merilis proyeksi bahwa setidaknya enam saham berpeluang besar masuk ke dalam FTSE Russell, baik kategori Large Cap maupun Middle Cap. Saham-saham tersebut meliputi PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Jadwal Pengumuman Sudah Final
Menurut CGS International, FTSE Russell dijadwalkan menyampaikan pengumuman resmi pada 20 Februari 2026 sore hari waktu Indonesia. Keputusan ini akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 20 Maret 2026.
Yang menarik, CGS International menilai hasil evaluasi sudah bersifat final mengingat periode pengamatan telah berakhir pada 25 Desember 2025. Dengan demikian, ruang perubahan terhadap hasil pengumuman dinilai relatif terbatas.
“Variabel dalam prediksi kami hanyalah seberapa besar FTSE akan menaikkan batas kapitalisasi pasarnya,” demikian tertulis dalam keterangan CGS International.
Profil Kandidat Kuat
IMPC mencatatkan kapitalisasi pasar sekitar Rp200,41 triliun per Januari 2026. Emiten produsen bahan bangunan plastik ini tengah dalam fase ekspansi dengan menargetkan pendapatan Rp4,2 triliun pada 2025, tumbuh 8,3% dibanding tahun sebelumnya. Perseroan fokus memperluas pasar ekspor ke negara-negara ASEAN, Australia, dan Selandia Baru.
FILM menjadi salah satu bintang terang dengan lonjakan harga yang mencapai 655,92% dalam enam bulan terakhir. Kapitalisasi pasarnya telah mencapai Rp157,87 triliun. Saham ini bahkan sempat disuspensi bursa akibat kenaikan harga yang sangat signifikan. Samuel Sekuritas memproyeksikan FILM juga berpeluang masuk MSCI Big Cap dengan target harga Rp13.500.
PANI memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp204,72 triliun. Emiten properti kongsi Sugianto Kusuma (Aguan) dan Grup Salim ini mencatat peningkatan signifikan pada free float dari 12,2% menjadi 15,91% setelah melakukan rights issue yang menghimpun dana Rp15,7 triliun.
Duo saham Grup Bakrie, BUMI dan BRMS, juga masuk dalam radar. BUMI mencatatkan kapitalisasi pasar Rp176,76 triliun, sementara BRMS sebesar Rp172,98 triliun per Januari 2026. Kedua saham ini mengalami transformasi signifikan dengan fokus ekspansi ke mineral dan emas, tidak lagi semata bergantung pada batu bara.
PTRO, emiten milik Prajogo Pangestu, memiliki kapitalisasi pasar Rp121,54 triliun. Perseroan tengah berada dalam momentum ekspansif dengan backlog kontrak mencapai US$4,5 miliar dari klien blue-chip seperti Vale, Freeport, dan BP Berau. PTRO menargetkan pendapatan US$1,4 miliar pada 2026.
SMGR Terancam Keluar
Di sisi lain, nasib SMGR tampak kurang menggembirakan. Emiten semen BUMN ini berpotensi dikeluarkan dari indeks FTSE Russell pada rebalancing kali ini. Kapitalisasi pasar SMGR tercatat sebesar Rp17,69 triliun, jauh lebih kecil dibanding kandidat saham yang masuk.
Kinerja SMGR memang tengah tertekan. Pada semester pertama 2025, pendapatan perseroan turun 5% secara tahunan menjadi Rp15,6 triliun, sementara laba bersih anjlok 92% menjadi hanya Rp40 miliar. Lesunya permintaan semen domestik yang turun 3,1% secara tahunan menjadi faktor utama di balik tekanan kinerja ini.
Sebelumnya, SMGR juga telah dikeluarkan dari indeks FTSE Asia Pacific ESG Low Carbon pada September 2025, bersama beberapa emiten besar lainnya seperti PGAS, TLKM, BDMN, INDF, ICBP, dan UNVR.
Dampak terhadap Harga Saham
Masuknya saham ke dalam indeks FTSE biasanya memicu kenaikan permintaan dari investor institusi, terutama dari produk ETF yang menggunakan FTSE sebagai acuan investasi. Dana pensiun dan investor institusi Eropa umumnya menjadi pembeli utama saham-saham yang baru masuk indeks.
Oktavianus Audi, Analis Kiwoom Sekuritas, menyebutkan bahwa masuknya saham kapitalisasi besar ke FTSE akan mendorong passive inflow asing, terutama dari produk ETF yang memiliki tolok ukur ke FTSE yang biasanya digunakan oleh dana pensiun dan investor institusi Eropa.
Namun, euforia ini cenderung bersifat jangka pendek. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mengatakan lonjakan harga saham umumnya berlangsung hingga perubahan susunan konstituen FTSE berlaku efektif. Setelah itu, pergerakan harga akan kembali dipengaruhi oleh perkembangan fundamental masing-masing emiten.
Sebaliknya, saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami tekanan jual karena berkurangnya permintaan dari investor asing yang mengikuti indeks tersebut.
Kriteria Ketat FTSE Russell
FTSE Russell memiliki kriteria ketat dalam menentukan saham yang layak masuk indeksnya. Policy Director FTSE Russell Wanming Du menegaskan bahwa prinsip FTSE adalah transparan, dapat diinvestasikan, dan dapat direplikasi.
Kriteria utama meliputi minimum free float sebesar 5%, tingkat likuiditas yang tinggi dengan saham aktif diperdagangkan dalam 60 hari, serta kapitalisasi pasar yang memadai. FTSE Russell juga mempertimbangkan batasan kepemilikan asing dan faktor konsentrasi kepemilikan saham untuk menghindari potensi manipulasi harga.
Investor disarankan tetap fokus pada aspek fundamental meski ada momentum spekulasi pasar jangka pendek terkait rebalancing indeks ini. Dampak rebalancing FTSE, terutama untuk kategori mid cap dan small cap, diprediksi tidak sesignifikan dampak pada kategori large cap.

