Ilustrasi PTRO

Pak Prayogo, PTRO Mau Dibawa ke Mana? Ini Analisis Fundamentalnya

Jakarta, Investor IDN – Harga saham PT Petrosea Tbk (PTRO) sempat terkoreksi cukup dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Senin (12/1/2026), saham emiten milik Prajogo Pangestu itu anjlok 6,43% ke level Rp 11.275 per lembar. Bahkan sejak awal Januari, PTRO sudah turun lebih dari 4%.

Penurunan ini langsung memicu reaksi investor. Banyak yang menghubungi kami, bertanya apa sebenarnya yang terjadi dengan fundamental PTRO. Pasalnya, PER-nya masih terlihat tinggi—di kisaran 213-737 kali tergantung sumber data. Pertanyaan besar pun muncul: Apakah PTRO sudah overvalued? Atau justru ini adalah kesempatan entry?

Untuk menjawabnya, kami perlu melihat lebih dalam transformasi bisnis yang sedang digenjot Pak Prayogo. Bukan sekadar angka-angka teknikal, tapi perubahan DNA bisnis yang fundamental.

Dari Kontraktor Tambang ke EPCI: Transformasi Nyata

Sejarah PTRO memang melekat sebagai kontraktor tambang. Bertahun-tahun, perusahaan ini hidup dari jasa overburden removal dan hauling. Margin tipis, persaingan ketat, pertumbuhan stagnan.

Namun, di bawah kepemimpinan Prayogo Pangestu, PTRO sudah bergerak jauh. Sekarang mereka main di liga yang berbeda: Engineering, Procurement, Construction & Installation (EPCI), industrial construction, dan proyek energi. Ini bukan rebranding semata, tapi pergeseran model bisnis yang mengubah cara perusahaan menghasilkan uang.

Data terkini memperkuat narasi ini. Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, PTRO sudah mencetak laba bersih US$ 6,93 juta, melonjak 141,8% secara tahunan. Kontribusi terbesar datang dari segmen Konstruksi & Rekayasa yang mengerek backlog proyek hingga sekitar US$ 4,5 miliar (setara Rp64-70 triliun).

Margin Berlipat Ganda: Dari 8% ke 25%

Perbedaan paling krusial terletak pada margin. Kontraktor tambang tradisional biasanya bekerja dengan margin 8-12%. Sementara segmen EPCI yang digarap PTRO menawarkan margin 18-25%—hampir dua kali lipat.

Analis mencatat, EBITDA margin PTRO meningkat dari 14% menuju 19% seiring ekspansi proyek-proyek engineering. Ketika margin naik, earning power ikut naik. Dan ketika earning power meningkat, PER yang terlihat tinggi akan turun secara alami. Inilah inti dari repricing fundamental yang sedang terjadi.

Backlog Jumbo: Jaminan Pendapatan Hingga 2028

Salah satu alasan kuat mengapa PTRO pantas direvaluasi adalah backlog jumbo puluhan triliun rupiah yang mengunci pendapatan hingga bertahun-tahun ke depan. Backlog ini memberikan visibility earnings yang sangat jarang dimiliki perusahaan kontraktor.

Berdasarkan laporan resmi, PTRO menutup 2024 dengan backlog Rp 64,3 triliun. Proyek-proyek ini sudah “ngantri” hingga 2028, memberikan kepastian pendapatan yang membuat valuasi lebih stabil.

Deretan kontrak besar ini termasuk:

Perjanjian jasa pertambangan dengan PT Pasir Bara Prima senilai Rp 17,4 triliun

Onshore Early Works EPC untuk proyek Ubadari, Tangguh EGR/CCUS dan Tangguh Onshore Compression (UCC) senilai Rp 4,6 triliun

Pengadaan dan konstruksi tambang Blok Pomalaa dengan PT Vale Indonesia Tbk senilai Rp 2,8 triliun

Validasi dari Konglomerat Global

PTRO tidak main-main dalam mengambil proyek. Mereka kini mengerjakan proyek-proyek besar dari klien kelas dunia seperti Freeport, Vale (HPAL), dan CUAN. Bahkan baru-baru ini, PTRO mengantongi kontrak EPCI senilai US$ 9,5 juta dari Petronas Carigali North Madura II Ltd. untuk pengembangan Lapangan Hidayah.

Proyek-proyek ini bukan hanya menambah backlog, tapi juga menjadi validasi kualitas engineering PTRO. Konglomerat global tidak sembarangan memilih kontraktor; mereka memilih yang mampu memenuhi standar engineering tinggi. Fakta bahwa PTRO dipercaya menangani proyek-proyek ini menunjukkan transformasinya bukan sekadar narasi, tapi realitas operasional.

Akuisisi SBPL: Memperkuat Kapabilitas Multi-Engineering

Langkah strategis lainnya adalah akuisisi 60% saham Scan-Bilt Pte Ltd (SBPL). Ini bukan sekadar ekspansi, tapi percepatan transformasi PTRO menjadi perusahaan engineering kelas regional.

SBPL membawa keahlian baru dalam proyek-proyek industri dan energi, langsung menambah kapasitas, pipeline proyek, dan margin. Meski kontribusi SBPL diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek, nilai tambahnya ada pada stabilitas pendapatan jangka panjang.

Pendanaan Rp 3 Triliun: Bahan Bakar Ekspansi

Mungkin ada kekhawatiran tentang dilusi saham. Tapi PTRO tidak melakukan right issue. Mereka memilih menerbitkan obligasi dan sukuk senilai Rp 3 triliun untuk mempercepat ekspansi.

Dana ini digunakan untuk working capital, capex, dan refinancing. Dengan pendanaan lebih kuat, PTRO dapat mengeksekusi backlog lebih cepat, meningkatkan revenue recognition, dan mempercepat pertumbuhan EPS. Pendanaan ini adalah bahan bakar untuk mesin pertumbuhan yang sudah siap melaju.

Repricing Fundamental, Bukan Euforia

Kenaikan harga saham PTRO ratusan persen dalam satu tahun sering dianggap “terlalu tinggi”. Tapi investor yang paham transformasi bisnis akan melihat ini sebagai repricing fundamental, bukan euforia belaka.

Ketika model bisnis berubah, margin naik, backlog membesar, dan earning melonjak, harga saham harus menyesuaikan. Ini bukan overvaluation; ini penyesuaian terhadap fundamental baru.

Data menunjukkan, meski sempat turun 6,43% pada 12 Januari, PTRO langsung melesat 7,59% ke Rp 12.400 pada 14 Januari. Fluktuasi ini normal dalam proses revaluasi.

Potensi Masuk MSCI: Katalis Tambahan

Sentimen positif semakin kuat dengan potensi PTRO masuk indeks MSCI Emerging Market pada Februari 2026. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, secara spesifik menjagokan PTRO karena free float-nya sudah mencapai 27-30%, melewati minimum requirement 15%.

Masuknya PTRO ke MSCI bakal jadi katalis kuat. Arus dana asing otomatis masuk, likuiditas meningkat, dan harga saham bisa mendapatkan premium tambahan.

Profit Taking: Normal, Bukan Panik

Fenomena profit taking beberapa hari terakhir memang terjadi. Tapi ini normal dalam tren bullish. Investor besar tidak keluar dari perusahaan yang sedang memasuki fase pertumbuhan multi-tahun. Mereka keluar hanya jika fundamental memburuk—dan itu tidak terjadi pada PTRO.

Selama backlog besar, margin naik, dan proyek terus mengalir, tren jangka panjang PTRO tetap bullish secara fundamental.

Jawabannya: Ke Liga yang Lebih Tinggi

Jadi, Pak Prayogo mau bawa PTRO ke mana? Jawabannya jelas: ke liga yang lebih tinggi.

PTRO tidak lagi sekadar kontraktor tambang. Ia sedang bertransformasi menjadi perusahaan engineering dan konstruksi industri kelas regional, dengan margin lebih tinggi, pasar lebih luas, dan pendapatan lebih stabil.

Transformasi ini menjustifikasi repricing fundamental yang terjadi, dan membuka ruang pertumbuhan yang masih panjang. Bagi investor yang fokus pada value, mungkin PER tinggi masih jadi perhatian. Tapi bagi yang melihat growth story, PTRO baru saja memulai babak baru.

Catatan Redaksi: Data dan fakta dalam analisis ini dihimpun dari berbagai sumber terpercaya termasuk laporan keuangan PTRO, riset analis, dan publikasi media bisnis terkini. Fluktuasi harga saham adalah risiko wajar dalam investasi. Pastikan melakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi.

More From Author

FTSE Russel

Perubahan FTSE Russell Februari 2026: Enam Saham Ini Berpotensi Masuk, SMGR Terancam

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan