Jakarta, INVESTOR IDN– Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 5,04% (year-on-year). Angka ini melambat dibandingkan kuartal II 2025 yang tumbuh 5,12%. Meski masih berada di jalur positif, tanda-tanda perlambatan mulai terasa dari sisi konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.
Menurut data BPS, perekonomian nasional masih ditopang oleh kinerja ekspor dan belanja pemerintah. Namun, konsumsi rumah tangga yang menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) justru tumbuh lebih lambat. Pada kuartal III, konsumsi tercatat naik 4,89%, turun dari 4,97% di kuartal sebelumnya.
Perlambatan konsumsi ini terjadi seiring tekanan harga bahan pangan dan energi, serta kecenderungan masyarakat menahan pengeluaran di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, investasi tercatat hanya tumbuh 5,04%, melambat dibandingkan kuartal II yang mencapai sekitar 6,99%.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan (q-to-q) naik 1,43%, yang mencerminkan aktivitas ekonomi masih ekspansif tetapi dengan laju moderat. BPS menilai, pertumbuhan ini masih menunjukkan daya tahan ekonomi di tengah tekanan eksternal.
Tekanan Rumah Tangga Mulai Retak, Apa Artinya untuk Saham & Investasi?
Konsumsi rumah tangga yang melambat menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai tergerus. Sektor ritel, otomotif, dan jasa diperkirakan akan terdampak, mengingat kontribusinya terhadap pertumbuhan sangat bergantung pada pengeluaran masyarakat.
Di sisi lain, investasi swasta (PMTB) tumbuh terbatas karena pelaku usaha menunggu kepastian kebijakan fiskal dan arah suku bunga Bank Indonesia. Perlambatan investasi ini menunjukkan kehati-hatian investor di tengah kondisi global yang belum stabil.
Bagi pasar modal, data BPS ini dapat menjadi sinyal pergeseran: sektor-sektor yang berbasis konsumsi domestik kemungkinan menghadapi tekanan, sementara sektor ekspor berpotensi menjadi penopang di sisa tahun ini.
Ekspor Tembus 9,91%! Tapi Kenapa Masih Ada Ketidakpastian?
Sisi positif datang dari kinerja ekspor yang naik 9,91% yoy, terutama didorong oleh ekspor minyak sawit, baja, dan kendaraan bermotor. Ekspor tetap menjadi pilar utama yang menjaga laju ekonomi nasional di tengah pelemahan konsumsi dalam negeri.
Namun, BPS mencatat sektor pertambangan justru mengalami kontraksi akibat turunnya permintaan batu bara dan gangguan produksi di Papua. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan ekspor masih sangat bergantung pada faktor eksternal dan harga komoditas global.
Kendati demikian, kontribusi ekspor yang kuat berhasil menahan laju perlambatan ekonomi. BPS menegaskan bahwa sinergi antara ekspor dan peningkatan konsumsi domestik tetap menjadi kunci bagi pertumbuhan berkelanjutan.
Target 5,2% di Ujung Tanduk, Pemerintah Kebut Stimulus Jelang Akhir Tahun
Dengan pertumbuhan kuartal III sebesar 5,04%, pemerintah harus bekerja ekstra keras agar target pertumbuhan tahunan 5,2% dapat tercapai. Untuk itu, pemerintah mempercepat realisasi belanja dan memperluas stimulus fiskal di sektor produktif.
Belanja pemerintah sendiri tumbuh 5,49% pada kuartal III, setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Langkah ini diharapkan bisa mendorong konsumsi masyarakat dan investasi sektor swasta pada akhir tahun.
Selain itu, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan untuk menjaga likuiditas dan mendukung ekspansi pembiayaan. Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih menunggu waktu untuk benar-benar terasa di sektor riil.
Sektor Penopang dan Penghambat Pertumbuhan di Kuartal III
Dalam laporan BPS kali ini, ekspor dan belanja pemerintah menjadi pahlawan utama, menjaga laju pertumbuhan ekonomi tetap di atas 5%. Sementara konsumsi rumah tangga dan investasi swasta menjadi titik lemah yang menahan percepatan ekonomi.
Jika tren perlambatan ini terus berlanjut hingga kuartal IV, Indonesia berpotensi gagal mencapai target tahunan. Pemerintah diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga kepercayaan dunia usaha agar ekonomi tetap stabil menjelang 2026.
Meski begitu, capaian pertumbuhan 5,04% menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding banyak negara lain di kawasan Asia. Keseimbangan antara permintaan domestik dan ekspor akan menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tahun depan.

