blank

Kinerja PT Era Media Sejahtera Tbk Melesat di Tengah Booming Iklan Digital

Jakarta, INVESTOR IDN – PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) mencatatkan pertumbuhan kinerja impresif sepanjang 2025, dengan pendapatan semester I melonjak 22,6% dan laba bersih naik 21,55%. Emiten penyedia jasa periklanan digital out-of-home (DOOH) ini memanfaatkan momentum pergeseran belanja iklan ke platform digital, ditopang strategi akuisisi dan inovasi berbasis teknologi AI.

Emiten berkode saham DOOH atau yang dikenal dengan brand SSPACE ini membuktikan strategi bisnisnya tepat sasaran. Pada semester I-2025, perseroan membukukan pendapatan bersih Rp73,48 miliar, naik signifikan dari Rp59,94 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Lonjakan pendapatan ini mendorong laba bruto melesat 91,48% menjadi Rp26,84 miliar.

Dari sisi bottom line, DOOH mencatatkan laba tahun berjalan Rp6,63 miliar, tumbuh 21,55% secara tahunan dari Rp5,46 miliar. Laba per saham dasar pun ikut menguat 19,72% dari Rp0,71 menjadi Rp0,85. Di tengah tantangan peningkatan beban umum dan administrasi yang membengkak 160,52% menjadi Rp18,52 miliar, perseroan tetap mampu mempertahankan pertumbuhan laba usaha 20,43% mencapai Rp8,32 miliar.

Akuisisi Wisdom Crowd Jadi Katalis Pertumbuhan

Salah satu katalis utama kinerja DOOH adalah akuisisi 99% saham PT Konsultan Strategi Penjualan (KSP), agensi influencer dengan merek dagang Wisdom Crowd, yang diselesaikan pada Agustus 2024. Langkah strategis ini menempatkan Diana Airin, CEO dan Founder Wisdom Crowd yang berpengalaman lebih dari 25 tahun di industri periklanan, sebagai Managing Director DOOH.

Akuisisi ini memungkinkan DOOH mengintegrasikan layanan media luar ruang dengan pemasaran berbasis Key Opinion Leader (KOL). Berdasarkan data WARC dan Statista, belanja iklan segmen influencer (KOL) di Indonesia diproyeksikan meningkat dari 15% menjadi 18% pada 2025, sementara total belanja iklan nasional mencapai Rp105 triliun. Posisi strategis ini memberikan DOOH akses ke pasar yang tengah berkembang pesat.

Direktur Utama DOOH Vicktor Aritonang menjelaskan, “Dengan telah mengakuisisi Wisdom Crowd, DOOH memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang periklanan yang ada, baik melalui kolaborasi dengan KOL maupun optimalisasi jaringan OOH yang inovatif dan terintegrasi”.

Ekspansi Media Transit dan Inovasi Teknologi AI

DOOH terus memperkuat portofolio media dengan fokus pada ekosistem transportasi publik. Perseroan mengelola aset media di KRL Jabodetabek dengan jangkauan 36 juta impressions melalui TV Kereta, selain kereta api jarak jauh dan Bus DAMRI. Kolaborasi dengan PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) membuka peluang pengembangan media reklame di kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Untuk meningkatkan daya saing, DOOH meluncurkan fitur periklanan berbasis Artificial Intelligence (AI) pada Maret 2025. Teknologi AI diintegrasikan pada berbagai aset media, termasuk TV Kereta, Digital Totem, Pylon Digital, dan Videotron. Fitur-fitur canggih seperti Weather-Based Adjustment yang menyesuaikan tampilan iklan berdasarkan kondisi cuaca real-timeLocation-Based Placement dengan sistem geotagging, Traffic Recognition untuk analisis jumlah audiens, dan Pay-Per-View Ads untuk data akurat jumlah penonton, menjadi keunggulan kompetitif perseroan.

“Kami berkomitmen untuk menghadirkan solusi pemasaran yang lebih cerdas, terukur dan adaptif terhadap perilaku konsumen,” ujar Direktur DOOH Devi Nisa Suhartono.

Diversifikasi ke Event dan Exhibition

DOOH juga merambah segmen event and exhibition untuk memperluas ekosistem bisnis 360 derajat. Pada Agustus 2025, perseroan meluncurkan SSPACE Musik, transformasi dari penayangan video musik di TV Kereta menjadi platform live performance di ruang publik. Kolaborasi strategis dengan Labelers dan ITJ ini menghadirkan penampilan musisi Indonesia di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta.

“Langkah ini membuat SSPACE Musik memperluas akses panggung bagi musisi lokal dan menghubungkan mereka langsung dengan masyarakat,” kata Vicktor Aritonang. Acara ini direncanakan hadir rutin setiap bulan sebagai wadah promosi brand dan brand activation.

Sebelumnya, DOOH juga meluncurkan Campus Beauty Fair di Atrium Binus Alam Sutera pada Februari 2025, menandai komitmen ekspansi ke berbagai kampus Indonesia.

Optimisme Semester II dan Proyeksi 2026

DOOH optimistis kinerja keuangan akan meningkat pada paruh kedua 2025, seiring meningkatnya belanja iklan korporasi di kuartal III dan IV. Perseroan menargetkan laba bersih tahun ini menembus Rp6 miliar, didorong peningkatan permintaan kampanye digital dari berbagai merek besar.

Direktur Utama Vicktor Aritonang menjelaskan, “Tahun depan akan menjadi periode empat bulan emas bagi industri periklanan. Setelah Nataru, langsung disambut Ramadan dan Idulfitri. Aktivitas promosi akan sangat padat”.

Segmen digital out of home tetap menjadi kontributor utama dengan menyumbang sekitar 70% dari total pendapatan, disusul lini consultancy management dan event & exhibition. DOOH terus memperluas layanan melalui aktivitas pameran dan kampanye roadshow ke 50 sekolah di lima kota besar hingga Desember 2025.

Berdasarkan data Nielsen, nilai belanja iklan digital pada semester II 2025 mencapai sekitar Rp2,1 triliun, dan tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026. Laporan terbaru Dentsu memproyeksikan pasar periklanan Indonesia tumbuh 5,1% pada 2025, dengan belanja iklan digital meningkat 10-12%. Belanja iklan DOOH (Digital Out-of-Home) diprediksi tumbuh 7,4% CAGR hingga 2025, dengan pertumbuhan digital OOH mencapai 16,4%.

Strategi Hadapi 2026: Diversifikasi dan Ekspansi Lokal

Untuk menghadapi tantangan regulasi dan perubahan kebijakan di 2026, DOOH menyiapkan strategi mitigasi risiko komprehensif. Pertama, diversifikasi klien ke sektor beautyhealthfintech, dan FMCG yang lebih resilient terhadap fluktuasi anggaran pemerintah. Kedua, ekspansi media digital lokal di kota-kota besar seperti Surabaya dan Magelang untuk mengurangi ketergantungan pada klien tertentu.

Perseroan juga mengembangkan konsep kampanye performance-based dan memperkuat ekosistem bisnis, termasuk retail e-commerce dan live streaming, untuk menjangkau target market hingga 140 juta orang pada 2026. Implementasi sistem monitoring digital menggantikan tenaga manusia untuk memantau tayangan iklan, meningkatkan akurasi data dan transparansi laporan kepada klien.

Struktur Keuangan dan Penguatan Modal

Dari sisi neraca, total aset DOOH tumbuh menjadi Rp306,72 miliar per Juni 2025, naik dari Rp273,45 miliar pada akhir 2024. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan ekuitas menjadi Rp226,24 miliar dari Rp219,47 miliar, serta liabilitas yang naik menjadi Rp80,48 miliar dari Rp53,98 miliar.

Dalam RUPST tahun buku 2024 yang digelar Juni 2025, pemegang saham menyetujui penetapan seluruh laba bersih sebesar Rp1,92 miliar—yang melonjak 340% dari tahun sebelumnya—sebagai laba ditahan. Keputusan untuk tidak membagikan dividen mencerminkan komitmen memperkuat struktur permodalan guna memaksimalkan peluang pertumbuhan di sektor media digital dan luar ruang.

“Kinerja positif ini menjadi validasi atas strategi kami yang menitikberatkan pada inovasi digital, kolaborasi dengan komunitas, serta efisiensi operasional. Kami optimistis menghadapi 2025 dengan target pertumbuhan pendapatan dua digit dan ekspansi agresif di segmen media digital,” ujar Vicktor Aritonang.

Posisi Saham dan Sentimen Pasar

Kinerja operasional yang cemerlang mengangkat sentimen positif terhadap saham DOOH di pasar. Per 24 November 2025, saham DOOH ditransaksikan di level Rp218, mencatat kenaikan 34,57% dalam sehari. Sepanjang November, saham DOOH berfluktuasi di kisaran Rp133-Rp218, dengan volume perdagangan mencapai ratusan juta lembar per hari. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,10 triliun.

Dalam setahun terakhir, saham DOOH menunjukkan kenaikan impresif 129,51%. Performa ini merefleksikan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perseroan di tengah pertumbuhan industri periklanan digital Indonesia yang terus mengakselerasi.

Dengan kombinasi strategi akuisisi yang tepat, inovasi teknologi AI, ekspansi ekosistem media, dan diversifikasi lini bisnis, DOOH memposisikan diri sebagai pemain utama di industri periklanan digital Indonesia. Momentum pergeseran belanja iklan ke platform digital, ditambah periode emas periklanan 2026 dengan rentetan momen besar dari Nataru hingga Ramadan, membuka peluang DOOH meraih pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

More From Author

PT Indo American Seafoods Tbk

Udang Mahal Emas Dunia? ISEA Tunjukkan Pemain Indonesia Siap Rebut Pasar Global

blank

Naik 1.500%: Saham BUVA Di Tengah Perhotelan Bali Bergairah

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan