PT Abadi Lestari Indonesia Tbk

RLCO Melantai di Bursa dengan Momentum Kuat, Saham Langsung Lompat 143% Sejak Listing

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) secara resmi memulai perjalanan sebagai emiten publik pada Senin (8/12/2025) dengan sambutan antusias dari para investor. Pencatatan perdana saham ini menandai tonggak strategis bagi perusahaan yang telah bertransformasi dari eksportir komoditas sarang burung walet menjadi pemain industri kesehatan konsumen bernilai tambah.

Harga pembukaan saham RLCO pada hari pertama melesat 34,52% ke level Rp226 per saham, jauh melampaui harga penawaran awal sebesar Rp168 per saham. Momentum ini terus berlanjut dalam perdagangan berikutnya, dengan pergerakan harga mencapai level Rp550 per saham atau lonjakan total sebesar 143,36% sejak pencatatan perdana. Kenaikan drastis ini membuat Bursa Efek Indonesia mengeluarkan pengumuman Unusual Market Activity (UMA) pada Senin (15/12/2025), menunjukkan bahwa pergerakan harga RLCO telah keluar dari pola transaksi normal.

Kapitalisasi pasar RLCO meningkat signifikan pada hari pertama perdagangan, mencapai Rp706 miliar—jauh di atas kapitalisasi pasar awal pada saat listing yang sebesar Rp525 miliar. Angka ini mencerminkan confidence pasar terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan perusahaan di tahun-tahun mendatang.

Dana IPO Rp105 Miliar untuk Akselerasi Produksi

Melalui penawaran 625 juta saham atau setara 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, RLCO berhasil menghimpun dana sebesar Rp105 miliar. Perseroan menetapkan harga IPO di batas atas rentang bookbuilding, yaitu Rp168 per saham, menunjukkan permintaan investor yang kuat selama proses penawaran awal yang berlangsung 24-26 November 2025.

Dana yang diperoleh dari IPO akan dialokasikan secara strategis untuk dua kebutuhan utama. Sekitar 56,33% atau sekitar Rp59 miliar akan digunakan sebagai modal kerja untuk pembelian bahan baku sarang burung walet. Sementara 43,67% sisanya, sekitar Rp46 miliar, akan disalurkan sebagai penyertaan modal ke entitas anak, PT Realfood Winta Asia, yang juga digunakan untuk kebutuhan pengadaan bahan baku serupa.

Direktur Keuangan RLCO, Dwiadi Prastian Hadi, menekankan bahwa penambahan modal kerja dari IPO sangat penting untuk mengoptimalkan kapasitas produksi yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. “Saat ini utilisasi pabrik kami belum sampai 50%. Dengan penambahan dana IPO, kami berharap dapat meningkatkan produksi di atas 60%, sehingga kemampuan laba kami bisa meningkat signifikan,” ujar Dwiadi di Gedung BEI pada saat pencatatan perdana.

Transformasi dari Komoditas menjadi Produk Nilai Tambah

RLCO memulai perjalanannya sejak 2014 di Bojonegoro, Jawa Timur, awalnya dikenal sebagai perusahaan eksportir sarang burung walet mentah. Namun, perseroan telah melakukan transformasi strategis yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, evolusi yang mencerminkan visi manajemen untuk naik nilai dalam rantai industri.

Saat ini, portofolio produk RLCO mencakup minuman sarang burung walet premium, kaldu ayam tinggi protein, suplemen kolagen, serta inovasi nutrisi berbasis protein yang dirancang untuk mendukung energi harian, pemulihan otot, dan vitalitas jangka panjang. Diversifikasi ini strategis mengingat pergeseran preferensi konsumen global menuju produk kesehatan fungsional dan makanan premium.

Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, mengungkapkan visi transformasional perusahaan: “Pencatatan saham ini bukan hanya menandai babak baru bagi perusahaan, tetapi bagi masyarakat dan Indonesia, karena mulai hari ini kita berbicara tentang perseroan yang menjadi bagian dari Indonesia yang akan membangun wajah baru industri global. Dari perusahaan lokal menjadi perusahaan global, kami akan terus memperluas kehadiran produk kami ke Tiongkok, Hong Kong, Amerika Serikat, dan ke depan ke negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam dan Thailand.”

Kinerja Solid Menjelang IPO

Fundamental bisnis RLCO menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat. Sepanjang lima bulan pertama tahun 2025 (Januari hingga Mei), perseroan berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp231,3 miliar, meningkat 47,56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan penjualan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan ekspor dan perluasan kanal distribusi domestik.

Laba periode berjalan juga meningkat signifikan sejalan dengan pertumbuhan penjualan tersebut. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Mei 2025 yang menjadi referensi penilaian IPO, perseroan mencatat Return on Assets (ROA) sebesar 3,74%, Return on Equity (ROE) 10,52%, dan Net Profit Margin (NPM) sebesar 5,33%. Metrik profitabilitas ini menunjukkan kemampuan manajemen dalam mengkonversi pendapatan menjadi laba dengan efisien.

Dari sisi struktur permodalan, Debt to Equity Ratio (DER) perseroan berada pada level 1,81 kali—menunjukkan leverage yang masih terkontrol dan memberikan ruang untuk ekspansi bisnis dengan pembiayaan utang jika diperlukan.

Target Ambisius untuk 2026

Manajemen telah menetapkan target pertumbuhan yang ambisius untuk tahun 2026. Perseroan menargetkan pendapatan mencapai Rp700 miliar pada 2026, naik signifikan dari estimasi pendapatan tahun 2025 yang berada di kisaran Rp600 miliar. Target ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar sekitar 16,7% dan sejalan dengan strategi peningkatan utilisasi kapasitas produksi.

Untuk lini bottom line, RLCO membidik laba bersih sekitar Rp40 miliar pada tahun 2026, meningkat dibandingkan perkiraan laba tahun 2025 yang berada di kisaran Rp30 miliar. Proyeksi ini mengimplikasikan pertumbuhan laba bersih sebesar 33,3% year-over-year—angka yang lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan, mencerminkan operating leverage dari peningkatan utilisasi kapasitas.

Dalam riset dari Samuel Sekuritas yang menjadi penjamin pelaksana emisi efek IPO, analis memproyeksikan RLCO dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan dengan CAGR 19,4% pada periode 2024-2027. Untuk lini laba bersih, proyeksi pertumbuhan lebih aggressive dengan CAGR 57,5% pada periode yang sama, mencerminkan operating leverage dari skala ekonomi yang semakin besar.

Valuasi Kompetitif dan Prospek Ekspor

Dengan harga IPO Rp168 per saham, valuasi RLCO setara dengan Price to Earnings Ratio (PER) 17,73 kali dan Price to Book Value (PBV) 1,86 kali. PBV di bawah 2 kali menunjukkan valuasi yang relatif reasonable mengingat tingkat pertumbuhan laba yang diproyeksikan cukup tinggi.

Keunggulan kompetitif utama RLCO terletak pada akses pasar ekspor yang sudah established ke pasar premium global. Perseroan telah memiliki sertifikasi internasional penting seperti GACC (Tiongkok) dan FDA (Amerika Serikat), izin yang memberikan akses langsung ke tiga pasar besar: China, Amerika Serikat, dan Hong Kong.

Untuk ekspansi ke depan, manajemen menargetkan penetrasi pasar Thailand dan Vietnam pada kuartal II 2025, serta rencana lebih ambisius untuk memperluas ke Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Strategi geografis ini mengkapitalisasi megatrend global terhadap produk kesehatan fungsional dan premium, seiring meningkatnya kelas menengah di kawasan Asia.

RLCO juga mengekspor produk olahan ke pasar China secara langsung, sedangkan ekspor ke negara non-China dilakukan melalui entitas anak untuk efisiensi distribusi. Struktur operasional ini memungkinkan perseroan untuk mengoptimalkan margin dan manajemen supply chain.

Positioning sebagai Emiten Terbaru BEI

Pencatatan RLCO menandai emiten ke-25 yang melantai di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2025. Dalam konteks industri yang lebih luas, IPO ini menunjukkan bahwa investor masih memiliki appetite yang kuat terhadap perusahaan manufaktur dan consumer goods dengan fundamental yang solid, terutama yang memiliki akses ke pasar ekspor yang berkembang.

Antusiasme pasar terhadap RLCO yang tercermin dari lonjakan harga 143% sejak listing juga memberikan sinyal bahwa investor retail dan institusi masih aktif mencari opportunities di sektor consumer goods dengan growth trajectory yang jelas, terutama produk-produk yang aligned dengan lifestyle trend global menuju konsumsi produk kesehatan premium dan fungsional.

Tantangan dan Area Pantauan

Investor perlu mencermati beberapa faktor dalam mengikuti pergerakan saham RLCO ke depan. Pertama, skalabilitas model bisnis menjadi kunci untuk memastikan bahwa pertumbuhan laba mencapai proyeksi ambisius yang telah ditetapkan. Kedua, ketergantungan pada bahan baku sarang burung walet premium—yang merupakan komoditas dengan volatilitas harga—perlu dikelola dengan baik melalui strategy hedging atau diversifikasi supplier.

Ketiga, persaingan di segmen produk kesehatan konsumen premium semakin intens dengan pemain global dan lokal yang terus bermunculan. RLCO perlu mempertahankan positioning premium brand melalui marketing yang efektif dan quality control yang ketat.

Terakhir, bergimana RLCO memanfaatkan momentum IPO ini untuk ekspansi geografis dan diversifikasi produk akan menjadi barometer kesuksesan jangka panjang perusahaan dan rerating valuasi saham di pasar.

More From Author

PT Super Bank Indonesia Tbk

Superbank Resmi Melantai di Bursa, Dana IPO Rp2,79 Triliun untuk Akselerasi Kredit Digital

Venteny (VTNY) Raih US$5 Juta dari Symbiotics untuk UMKM

Manuver Strategis VTNY: Gaet Pendanaan Global Symbiotics US$5 Juta untuk Perkuat Lini B2B

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan