Jakarta, INVESTOR IDN – April 2025 menjadi bulan yang dinamis bagi pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi yang mencerminkan strategi ekspansi dan konsolidasi perusahaan-perusahaan tercatat. Dari penerbitan waran terstruktur hingga merger besar-besaran, setiap jenis corporate action menunjukkan adaptasi emiten terhadap kondisi pasar yang terus berubah.
Waran Terstruktur: Inovasi Instrumen Derivatif
Pada periode April 2025, terjadi pencatatan waran terstruktur yang signifikan melalui PT Maybank Sekuritas Indonesia. Instrumen ini menawarkan alternatif investasi dengan karakteristik call warrant yang dapat dikonversi menjadi saham underlying dengan rasio konversi yang telah ditentukan. Periode perdagangan waran tersebut berlangsung dari 28 April hingga 25 November 2025, dengan masa berlaku selama 7 bulan.
PT CGS International Sekuritas Indonesia juga turut menerbitkan waran terstruktur dengan term sheet yang telah disesuaikan dengan kondisi pasar. Penerbitan ini menunjukkan tren peningkatan penggunaan instrumen derivatif sebagai alternatif investasi yang memberikan leverage bagi investor.
IPO dan Right Issue: Ekspansi Modal Perusahaan
Sepanjang tahun 2025, Bursa Efek Indonesia mencatat adanya delapan emiten baru yang telah melantai dengan dana yang dihimpun sebesar Rp3,7 triliun. Pipeline IPO menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan 19 perusahaan yang masuk dalam daftar tunggu, didominasi oleh perusahaan skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar.
Beberapa emiten yang telah berhasil melaksanakan IPO di awal Juli 2025 antara lain PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang merupakan afiliasi dari grup Prajogo Pangestu, PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK), dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN). CDIA menjadi sorotan utama dengan target dana sebesar Rp2,4 triliun dan harga penawaran Rp190 per saham.
Merger dan Akuisisi: Konsolidasi Strategis
April 2025 ditandai dengan beberapa aksi merger dan akuisisi yang mencuri perhatian pasar. PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) berhasil menyelesaikan proses merger pada 25 April 2025. Dalam transaksi ini, EXCL menjadi entitas hasil merger dengan rasio konversi yang mengharuskan sekitar 10.000 lembar saham FREN untuk dikonversi menjadi 1 lot saham EXCL.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) dan PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN) juga mengumumkan rencana merger dengan tanggal efektif yang ditetapkan pada 1 Oktober 2025. Merger ini merupakan bagian dari pembentukan perusahaan induk konglomerasi keuangan operasional Grup MUFG di Indonesia.
Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) berhasil mengakuisisi 40% saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) untuk memperluas jaringan infrastruktur telekomunikasi.
Program ESOP dan MSOP: Kepemilikan Karyawan
Program Employee Stock Option Program (ESOP) dan Management Stock Option Program (MSOP) menunjukkan tren yang semakin menguat di Indonesia. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) mengumumkan rencana pelaksanaan MESOP dengan penerbitan 4 miliar saham baru atau setara 2,99% dari modal ditempatkan dan disetor.
Bank Jago juga melaksanakan program MESOP Tahap I dan Tahap II dengan periode pelaksanaan 2 Juni hingga 16 Juli 2025, dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham untuk kedua tahap.
Namun tidak semua program ESOP/MSOP berjalan sesuai harapan. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melaporkan bahwa belum ada satu pun opsi saham yang ditebus selama periode MESOP II yang berlangsung pada 1 April hingga 23 Mei 2025. Hal ini disebabkan harga pelaksanaan MESOP yang dipatok di Rp189 per saham masih jauh di atas harga pasar perdagangan BUKA.
Private Placement: Penambahan Modal Tanpa HMETD
Aktivitas private placement menunjukkan peningkatan signifikan pada periode April 2025. PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) berencana menerbitkan 1,57 miliar saham melalui private placement dengan harga minimal 90% dari rerata harga penutupan selama 25 hari sebelum pencatatan.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengumumkan rencana private placement dengan penerbitan hingga 2,48 miliar saham baru, setara dengan 10% dari modal disetor. Dana hasil private placement akan digunakan untuk mendukung modal kerja dan belanja modal perusahaan termasuk entitas anaknya.
Stock Split dan Reverse Stock Split
Aksi stock split menjadi salah satu corporate action yang paling menarik perhatian investor. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang merupakan emiten milik orang terkaya kedua Indonesia Prajogo Pangestu, melaksanakan stock split dengan rasio 1:10 pada 15 Juli 2025. Sebelum stock split, harga saham CUAN berada di level 13.825 pada 10 Juli 2025.
Beberapa emiten lain yang telah melaksanakan stock split antara lain PT Hillcon Tbk (HILL) dengan rasio 1:5, PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) dengan rasio 1:2, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan rasio 1:10.
Pembagian Dividen: Imbal Hasil untuk Pemegang Saham
April 2025 menjadi bulan pembagian dividen untuk beberapa bank BUMN. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membagikan dividen sebesar Rp343 per saham, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memberikan Rp466 per saham, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membagikan dividen tunai kepada pemegang saham.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga membagikan dividen tunai sebesar Rp250 per saham dengan total nilai Rp30,8 triliun pada 11 April 2025. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) membagikan dividen senilai Rp233,3 miliar atau Rp10,74 per saham.
Delisting dan Potensi Delisting
Bursa Efek Indonesia mengumumkan akan melakukan delisting terhadap 10 emiten pada 2025, termasuk PT Hanson International Tbk (MYRX) milik terpidana kasus Jiwasraya-ASABRI Benny Tjokrosaputro. Per 30 Juni 2025, terdapat 55 perusahaan tercatat yang berpotensi delisting karena mengalami suspensi selama enam bulan atau lebih.
Konversi Obligasi dan Instrumen Utang
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) melaksanakan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham dengan nilai pokok total mencapai Rp1,85 triliun. OWK tersebut akan dikonversi menjadi sebanyak-banyaknya 36,4 miliar saham seri C pada 12 Desember 2033.
Rumor dan Sentimen Pasar
Pasar modal Indonesia pada April 2025 juga diwarnai dengan berbagai rumor dan spekulasi. Salah satunya adalah rencana IPO anak usaha dari emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, mengingat kesuksesan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) pada 2023 yang berhasil naik berkali-kali lipat dalam waktu singkat.
PT Fore Kopi Indonesia (FORE) berhasil menyelesaikan IPO dengan mendapatkan kelebihan permintaan mencapai 200,63 kali dari 114.873 investor, menunjukkan masih tingginya minat investor terhadap startup lokal meskipun kondisi pasar yang tidak stabil.
Dampak dan Outlook
Dinamika corporate action di April 2025 menunjukkan adaptabilitas emiten Indonesia dalam menghadapi tantangan pasar global. Meskipun IHSG masih mengalami tekanan dengan penurunan 4,42% year-to-date, aktivitas corporate action yang beragam menunjukkan upaya perusahaan untuk memperkuat struktur modal dan meningkatkan daya saing.
Koordinasi lintas lembaga dan kebijakan stabilisasi dari berbagai pemangku kepentingan telah membantu meredam volatilitas di pasar saham, dengan IHSG menunjukkan pemulihan bulanan sebesar 3,93% sepanjang April. Kapitalisasi pasar juga mencatat kenaikan 5,20% secara bulanan menjadi Rp11.705 triliun, meskipun masih mengalami penurunan 5,11% dalam tahun berjalan.
Ke depan, tren corporate action diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan upaya emiten untuk beradaptasi dengan dinamika pasar global dan memanfaatkan peluang ekspansi di era transformasi digital dan energi berkelanjutan.

