blank

IHSG Tersungkur, Siapa yang Diam-Diam Koleksi Saham Diskon?

Jakarta , Investor IDN –Pagi ini, pasar saham Indonesia mengalami hari yang paling mendebarkan dalam dua hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan mulai membuka perdagangan dengan turun tiga persen. Namun, hanya dalam waktu dua puluh enam menit kemudian, yaitu pukul 09:26, indeks jatuh hingga mencapai minus delapan persen. Penjualan masif terjadi dengan volume mencapai hampir sepuluh miliar saham dalam waktu singkat. Karena situasi yang sangat genting ini, Bursa Efek Indonesia memutuskan untuk menerapkan trading halt, yakni menghentikan sementara seluruh perdagangan selama tiga puluh menit lamanya.

Semua orang panik. Investor ritel yang memiliki posisi saham langsung memikirkan nasib portfolio mereka. Banyak yang tidak tahan dengan tekanan psikis ini dan memilih untuk menjual saham mereka dengan segera, berapa pun harganya. Mereka takut jika terus menunggu, harga saham akan jatuh lebih dalam lagi. Inilah yang disebut panic selling, yakni penjualan yang didorong oleh rasa takut bukan oleh analisis rasional.

Namun, saat trading halt berakhir dan pasar dibuka kembali, sesuatu yang menarik terjadi. Daripada terus jatuh, indeks mulai rebound atau naik kembali. Dari titik terendah 7.481, indeks mulai merangkak naik ke level 7.560, kemudian 7.700, lalu 7.760, dan akhirnya ditutup di 7.828 pada sesi pertama. Ini berarti indeks berhasil naik hampir tiga ratus poin, atau sekira tiga koma tujuh persen, dalam waktu kurang dari satu jam.

Pertanyaan yang muncul adalah: siapa gerangan yang membeli saat semua orang menjual? Siapa yang mempunyai keberanian untuk membeli saham di saat situasi paling genting? Dan yang lebih penting lagi, siapa yang mendapat untung dari rebound tipis ini, serta siapa yang merugi?

Perjalanan Indeks Sepanjang Hari

Untuk memahami lebih baik siapa yang mendapat keuntungan, kita perlu melihat perjalanan indeks secara kronologis sepanjang hari ini.

Pagi tiba, pukul 09:00, indeks dibuka di level 8.027. Ini sudah turun lebih dari tiga persen dibanding penutupan kemarin di 8.320. Investor sudah mulai nervous sejak awal perdagangan. Tekanan jual sudah terlihat dari opening bell.

Dua puluh enam menit kemudian, pukul 09:26, indeks terjun bebas hingga 7.654 dan segera menyentuh level terendahnya di 7.481. Penurunan sebesar delapan persen ini sangat dramatis. Volume transaksi meledak menjadi hampir sepuluh miliar saham dengan nilai transaksi mencapai hampir sepuluh triliun rupiah. Ini adalah volume yang sangat tidak normal. Untuk konteks, volume harian rata-rata pasar adalah sekira lima sampai enam miliar saham. Hari ini saja, dalam waktu kurang dari setengah jam, volume sudah mencapai hampir dua kali lipat normal.

Bursa Efek Indonesia langsung mengambil tindakan. Pukul 09:26, trading halt diberlakukan. Semua perdagangan dihentikan selama tiga puluh menit. Sistem pasar diputus dari basis data real-time. Tidak ada satu pun transaksi yang bisa dilakukan. Ini adalah mekanisme circuit breaker yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada pasar untuk merenungkan diri dan untuk mengurangi momentum penjualan panik.

Selama tiga puluh menit ini, investor dan trader menggunakan waktu untuk mengumpulkan informasi, berkonsultasi dengan advisor mereka, atau mengumpulkan keberanian untuk membuat keputusan berikutnya. Banyak investor yang melihat penurunan delapan persen ini sebagai peluang emas untuk membeli. Sementara investor lainnya masih dalam keadaan shock dan belum siap membuat keputusan apa pun.

Pukul 10:00, trading halt berakhir dan pasar dibuka kembali. Yang terjadi kemudian sangat menarik. Daripada melanjutkan penjualan, indeks justru mulai rebound. Pembeli mulai muncul di pasar. Volume masih tinggi, tetapi komposisi beli-jual sudah berubah. Pukul 10:48, indeks sudah berhasil naik ke 7.760, turun enam koma tujuh persen dari penutupan kemarin. Ini adalah kenaikan sekira tiga ratus poin dari titik terendah, atau kira-kira tiga koma tujuh persen dalam waktu kurang dari satu jam.

Rebound ini terus berlanjut hingga penutupan sesi pertama pada pukul 12:00. Indeks ditutup di level 7.828, turun lima koma sembilan satu persen. Dari perjalanan indeks hari ini, kita bisa lihat pola yang menarik. Ada fase panic selling yang sangat brutal di awal, diikuti oleh fase rebound yang signifikan setelah trading halt berakhir.

Pembeli Sejati: Institusi Lokal

Pertanyaan yang paling mendesak adalah: siapa yang membeli di saat semua orang panik menjual?

Data transaksi yang dirilis oleh lembaga riset pasar menunjukkan bahwa investor asing masih net sell besar-besaran hari ini. Kemarin saja, investor asing sudah menjual bersih lebih dari enam triliun rupiah. Hari ini, tekanan jual dari investor asing masih berlanjut, terutama pada saham-saham besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, dan ANTM.

Kalau investor asing menjual, lalu siapa yang membeli?

Jawabannya adalah investor institusional lokal. Mereka adalah manajer dana yang mengelola reksa dana saham, perusahaan asuransi, dana pensiun karyawan, yayasan, dan keluarga kaya Indonesia yang menjalankan strategi investasi jangka panjang. Investor-investor ini memiliki karakteristik unik. Mereka tidak bisa sepenuhnya keluar dari pasar saham Indonesia karena ketentuan internal mereka atau mandate yang diberikan kepada mereka. Dana pensiun, misalnya, harus mengalokasikan sejumlah persentase dananya di pasar saham. Reksa dana saham harus invest mayoritas dananya di saham.

Karena mereka tidak bisa keluar, maka ketika pasar crash seperti ini, mereka melihat ini bukan sebagai bencana tetapi sebagai peluang. Harga saham sudah turun empat puluh persen dari level teratas tahun lalu. Valuasi perusahaan-perusahaan besar menjadi jauh lebih menarik. Earnings multiple yang tadinya terasa mahal sekarang menjadi reasonable. Dividend yield yang tadinya rendah kini menjadi kompetitif dibanding instrumen investasi lain.

Oleh karena itu, investor institusional lokal mengambil kesempatan ini untuk menambah posisi mereka di saham-saham berkualitas. Mereka melakukan apa yang disebut dengan average down, yaitu menambah jumlah saham yang mereka miliki pada harga yang lebih rendah. Dengan cara ini, rata-rata harga perolehan mereka turun. Ketika pasar kemudian naik kembali, mereka akan mendapat untung yang lebih besar.

Bukti konkret dari aktivitas institusional lokal ini bisa dilihat dari pergerakkan saham-saham banking. Saham BBCA, misalnya, mencatat nilai transaksi sebesar dua koma tiga triliun rupiah hari ini. Angka ini sangat besar, menunjukkan bahwa ada aktivitas trading yang sangat padat di saham ini. BMRI mencatat nilai transaksi enam ratus lima puluh tiga miliar rupiah, dan BBRI tiga ratus delapan puluh delapan miliar rupiah.

Yang paling mengejutkan adalah saham BBRI. Di tengah seluruh pasar yang jatuh rata-rata sekira enam persen, BBRI justru berhasil naik nol koma dua delapan persen menjadi 3.600 rupiah. Ini adalah anomali yang sangat jelas. Saham yang naik di tengah crash pasar besar-besaran hanya bisa terjadi jika ada pembeli institusional yang sangat kuat menahan harga. Pembeli ini kemungkinan besar adalah institusi lokal atau bahkan mungkin pemerintah sendiri melalui mekanisme tertentu yang berusaha untuk menjaga stabilitas sektor perbankan.

Trader Profesional dan Keuntungan Cepat

Selain investor institusional lokal, ada satu kelompok lain yang bisa mendapat keuntungan dari rebound tipis ini, yakni trader profesional atau trader yang dilengkapi dengan sistem algoritma perdagangan.

Rebound dari titik terendah 7.481 ke level 7.760 dalam waktu kurang dari satu jam adalah peluang emas bagi trader untuk mendapatkan keuntungan cepat. Kalau ada trader yang berani membeli pada level 7.481 dan menjual pada level 7.760, mereka sudah mendapat keuntungan sebesar dua ratus tujuh puluh sembilan poin atau kira-kira tiga koma tujuh persen dalam waktu satu jam. Untuk trader yang menggunakan leverage atau modal besar, ini bisa diterjemahkan menjadi keuntungan puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Namun, strategi ini memerlukan keberanian yang luar biasa dan sistem manajemen risiko yang sangat ketat. Tidak semua trader bisa mengeksekusi strategi ini dengan berhasil. Trader ritel biasa yang panik biasanya malah berbuat sebaliknya. Mereka tidak berani membeli di bawah karena mereka takut indeks akan turun lebih dalam lagi. Mereka malah menjual karena takut. Sebaliknya, mereka kemudian baru berani membeli setelah indeks naik kembali, yaitu membeli di atas.

Trader profesional adalah mereka yang sudah terlatih untuk berpikir berbeda. Ketika orang lain panik, mereka tetap tenang dan mencari peluang. Ketika orang lain takut, mereka melihat kesempatan. Ini adalah karakter yang sulit dikembangkan tetapi sangat menguntungkan jika dimiliki.

Bandar Lokal dan Saham Gorengan

Ada fenomena menarik lainnya yang terjadi hari ini. Sementara saham-saham besar turun drastis, ada beberapa saham kecil yang justru naik tajam. VINS naik dua puluh empat persen menjadi seribu empat ratus rupiah. BPII naik sembilan belas persen, AGAR naik tujuh belas persen, SURE naik sembilan belas persen. Ini adalah kenaikan yang tidak masuk akal dalam situasi di mana pasar secara keseluruhan sedang crash.

Apa yang terjadi adalah aktivitas bandar lokal. Saham-saham kecil dengan likuiditas rendah mudah dimanipulasi. Ketika seluruh pasar crash, banyak investor ritel yang desperate mencari saham-saham yang masih hijau alias naik. Mereka berpikir bahwa mereka ketinggalan kesempatan untuk membeli saham yang murah. Psikologi investor ritel sering seperti ini, mereka ingin mencari saham yang paling murah dengan harapan akan mendapat keuntungan besar.

Bandar memanfaatkan psikologi ini. Mereka mulai membeli saham-saham kecil terpilih, sedikit demi sedikit, untuk mengerek harganya naik. Ketika harga sudah naik dua puluh atau tiga puluh persen, pemberitaan media sosial akan menyebutkan saham-saham ini sebagai “top gainers” atau “saham yang terangkat”. Investor ritel yang melihat ini akan berpikir bahwa mereka menemukan peluang emas dan langsung membeli. Inilah saat bandar melakukan distribusi, menjual semua saham yang mereka kumpulkan kepada investor ritel dengan harga yang sudah jauh lebih tinggi.

Aktivitas ini adalah penipuan terselubung dalam bentuk manipulasi harga. Ini adalah aktivitas yang sebenarnya dilarang oleh OJK, namun karena keterbatasan pengawasan terhadap saham-saham kecil, aktivitas ini masih terus terjadi di pasar.

Pemegang Saham Besar yang Kena Getah

Sebaliknya, ada saham-saham yang sangat terdampak negatif pada hari ini. Saham BUMI yang merupakan produsen batubara turun empat belas koma sembilan tujuh persen. EXCL turun empat belas koma sembilan dua persen. AMRT turun tiga belas koma delapan tiga persen. DSSA turun empat belas koma sembilan delapan persen. BRPT turun lima belas persen.

Saham-saham ini terutama adalah saham-saham di sektor energi, komoditas, dan infrastruktur. Sektor ini adalah sektor yang paling sensitif terhadap sentimen negatif investor asing. Ketika investor asing panik keluar dari Indonesia, sektor ini yang menjadi korban pertama. Sektor energi secara keseluruhan turun delapan koma nol empat persen, sektor barang baku turun tujuh koma delapan satu persen, sektor properti turun tujuh koma lima dua persen, dan sektor teknologi turun enam koma delapan enam persen.

Pemegang saham-saham ini pun mengalami kerugian yang sangat besar hari ini. Kalau ada investor yang membeli BUMI pada harga 300 rupiah setahun lalu, hari ini hanya tersisa 255 rupiah. Itu adalah kerugian lima belas persen hanya dalam hari ini.

Investor Asing Melakukan Rotasi

Menarik untuk diamati bahwa investor asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia. Mereka melakukan apa yang disebut dengan rotasi posisi, yakni keluar dari saham tertentu dan masuk ke saham lainnya.

Data menunjukkan bahwa investor asing melakukan penjualan bersih terbesar pada saham BBCA dengan total 333 juta saham yang dijual bersih. Mereka juga menjual BMRI sebanyak 200 juta saham, BBRI 145 juta saham, TLKM 88 juta saham, dan ANTM 67 juta saham.

Namun, di sisi lain, investor asing masih membeli saham-saham tertentu. GOTO, saham teknologi dan perdagangan elektronik, tercatat net buy sebanyak 559 juta saham. LPKR, saham properti yang sedang mengalami tekanan, net buy 155 juta saham. MBMA, saham kosmetik dan perawatan pribadi, net buy 126 juta saham. Selain itu, investor asing juga membeli saham-saham pertambangan emas seperti MDKA dan AMMN karena emas dianggap sebagai safe haven atau aset yang aman di tengah ketidakpastian.

Strategi rotasi ini menunjukkan bahwa investor asing tidak panik total. Mereka tetap percaya pada prospek jangka panjang Indonesia tetapi mereka bergeser dari saham banking besar yang valuasinya sudah naik ke saham teknologi yang dianggap memiliki pertumbuhan lebih baik, properti murah yang sedang dalam tekanan, dan pertambangan emas yang dianggap safer.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari kejadian hari ini, ada beberapa pelajaran yang penting untuk diingat oleh investor.

Pertama, jangan melakukan panic selling di saat pasar mencapai titik terendah. Investor ritel yang menjual saham mereka pada level 7.481 ketika pasar hit the bottom akan menyesal ketika indeks naik kembali ke 7.828 dalam satu jam. Realized loss yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan. Lebih baik untuk hold dan tunggu hingga pasar stabilisasi kembali.

Kedua, rebound tipis tidak berarti pasar sudah mencapai bottom yang sesungguhnya. Ini bisa jadi dead cat bounce, yakni pantulan sementara sebelum indeks turun lebih dalam lagi. Investor harus menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum membuat keputusan investasi besar.

Ketiga, jangan tergoda untuk membeli saham-saham yang naik tajam di tengah crash pasar. Saham yang naik dua puluh atau tiga puluh persen sementara pasar crash umumnya adalah objek manipulasi bandar. Investor ritel akan menjadi korban jika membeli saham-saham ini.

Keempat, fokus pada saham-saham berkualitas dengan fundamental yang kuat. Ketika pasar crash, saham berkualitas dengan fundamental yang solid akan lebih resilient dan lebih cepat recovery dibanding saham yang fundamentalnya lemah.

Kelima, kalau memiliki cash, gunakan rebound untuk average down pada saham-saham blue chip yang sudah turun valuasinya dengan keras. Namun, jangan all in sekarang. Lakukan pembelian bertahap karena masih ada risiko indeks turun lebih dalam lagi kalau ada berita negatif tambahan.

Keenam, manajemen risiko adalah kunci. Gunakan stop loss untuk melindungi capital dari kerugian yang lebih besar lagi. Tidak ada salahnya untuk cut loss pada posisi yang tidak sesuai dengan rencana awal.

Hari ini adalah hari yang mengajarkan kepada kita bahwa pasar adalah tempat di mana emosi dan rasionalitas bertarung. Mereka yang bisa mengendalikan emosi dan tetap rasional adalah mereka yang akan mendapat keuntungan di saat krisis seperti ini. Mereka yang panik akan menjadi korban dari keputusan yang dibuat oleh emosi mereka sendiri

More From Author

MSCI (Sumber: Kabar Bursa)

MSCI Peringatkan Transparansi Pasar Modal Indonesia

Goldman Sachs

Heboh Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham Indonesia Jadi Underweight

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan