IHSG terpengaruh serangan Israel Ke Iran

IHSG Hadapi Badai Ganda: Serangan Israel ke Iran Picu Kekacauan, Sektor Energi Terpuruk di Akhir Februari

Jakarta, Investor IDN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup Februari 2026 pada level 8.235 poin, terkoreksi 1 persen sepanjang bulan akibat tekanan berat dari sektor energi, keuangan, dan transportasi yang kewalahan menghadapi gejolak global. Analis memproyeksikan konsolidasi di pembukaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (2 Maret 2026), dengan potensi naik tipis ke kisaran 8.440-8.650 poin, meski bayang-bayang eskalasi konflik Israel-Iran berpotensi memicu penurunan lebih dalam hingga 7.712 poin. Pasar saat ini tutup akhir pekan, tetapi serangan Israel ke fasilitas minyak Iran akhir pekan ini sudah memicu lonjakan harga minyak dunia di atas US$90 per barel, memperparah pelemahan energi domestik yang sebelumnya terhantam tarif 104 persen AS terhadap panel surya Indonesia.

Sektor energi menjadi korban utama, dengan saham seperti United Tractor merosot 3,5 persen dan Indofood CBP Sukses Makmur anjlok 2,6 persen akibat kombinasi tarif Presiden Trump dan kini ketegangan Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak global—efeknya langsung terasa di BEI saat pembukaan Senin, di mana analis ramal koreksi tambahan 2-3 persen untuk emiten energi jika konflik memburuk. Pelemahan bulanan IHSG mencapai 1,7 persen secara year-to-date, meskipun volume perdagangan tetap tinggi dan kapitalisasi pasar BEI mendekati 1 triliun dolar AS sebagai bursa terbesar ASEAN; keuangan serta transportasi ikut terseret, sementara regulator BEI dikritik lambat menyesuaikan aturan free-float untuk memenuhi standar MSCI demi tarik investor asing.

Di tengah keterpurukan itu, sektor industri muncul sebagai pahlawan dengan kenaikan 4,48 persen pada 27 Februari, diikuti barang baku 1,88 persen serta barang konsumsi non-primer 2,88 persen—total tujuh sektor menguat di akhir bulan, menunjukkan ketangguhan domestik. Namun, pertengahan Februari sempat menyaksikan sektor kesehatan terkoreksi 1,25 persen dan barang konsumsi primer 0,6 persen saat IHSG turun 0,31 persen; stimulus pemerintah seperti diskon iuran JKN dan JKM memberikan bantalan bagi logistik, tapi belum cukup menahan guncangan dari pelemahan PMI China, tarif ekspor, dan kini ledakan geopolitik Iran yang bisa picu inflasi impor minyak hingga 5 persen di Indonesia.

Prospek Maret menjanjikan peluang kenaikan 44 persen dengan rentang 7.712-8.528 poin, di mana saham blue chip seperti TAPG dan TLKM direkomendasikan dibeli saat koreksi—terutama jika serangan Israel memicu panic selling sementara di energi. Investor disarankan tetap fokus pada saham besar sambil memantau situs resmi idx.co.id sejak pembukaan Senin pagi, karena sektor ESG seperti energi terbarukan menghadapi tantangan jangka pendek dari tarif dan konflik, tapi berpotensi cerah jangka panjang jika kebijakan pemerintah bergerak cepat.

More From Author

Artemis 3 Gagal Mendarat di Bulan

Gagal Mendarat di Bulan! Saham LMT & BA Anjlok Usai NASA Geser Jadwal Artemis III ke 2026

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan