Jakarta, Investor IDN – Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar High Shareholding Concentration (HSC) per 31 Maret 2026, menyoroti 9 emiten dengan konsentrasi kepemilikan pemegang saham utama dan afiliasinya di atas 95%. Pengungkapan ini bagian dari reformasi transparansi pasar modal untuk mendorong likuiditas, meski menyiratkan risiko volatilitas harga akibat dominasi segelintir pemilik.
Kebijakan ini muncul pasca peringatan MSCI terkait struktur kepemilikan, di mana BEI kini mewajibkan pengungkapan saham di atas 1% dan menargetkan free float minimal 15% secara bertahap mulai 2026. Sebanyak 268 emiten belum memenuhi ketentuan ini, dengan 49 emiten big cap mewakili 90% kapitalisasi pasar yang bermasalah.
Daftar 8 Saham HSC BEI Maret 2026
Berikut emiten dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi, berdasarkan data scrip dan scripless per akhir Maret 2026:
Risiko dan Peluang Investasi
Emiten HSC berpotensi mengalami tekanan harga jual jika pemilik mayoritas menjual saham secara massal, karena free float rendah (<5%). Namun, ini juga membuka peluang bagi investor ritel jika ada peningkatan likuiditas melalui penawaran umum tambahan atau pelepasan saham oleh owner.
BEI memungkinkan emiten meminta penilaian ulang jika struktur kepemilikan berubah. Reformasi ini diharapkan tingkatkan daya tarik pasar bagi investor asing, sejalan dengan target OJK naikkan free float minimum ke 10-15%, yang butuh tambahan likuiditas hingga Rp203 triliun.
Investor disarankan gunakan screener free float di Stockbit atau IDX untuk pantau perubahan, karena saham HSC cenderung volatil tapi berpotensi undervalued jika fundamental kuat. Data ini krusial di tengah wacana FTSE Russell review yang bisa pengaruhi alokasi dana asing.

