Jakarta, Investor IDN – PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton, kode saham: WTON) terus memperluas langkah bisnis globalnya melalui keterlibatan langsung dalam proyek Metro Manila Subway Project (MMSP) di Filipina. Proyek ini tak hanya membuka peluang ekspor berkelanjutan, tetapi juga dinilai menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan dan prospek pergerakan saham WTON di pasar.
WIKA Beton menggarap dua kontrak utama dalam proyek berstatus strategis ini. Pertama, perusahaan terlibat dalam produksi segmental tunnel melalui skema joint venture tanpa capex (modal investasi), dengan progres pekerjaan saat ini mencapai 30%. Kedua, lewat anak usaha PT Wijaya Karya Komponen Beton (WIKA Kobe), WTON memasok bantalan rel beton pratekan (PC sleeper) senilai USD 10,70 juta untuk mendukung sistem lintasan kereta di Metro Manila Subway.
Proyek yang dibiayai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan dikerjakan oleh Colas Rail ini telah resmi dimulai melalui kick-off meeting di Pabrik Produk Beton (PPB) Majalengka, Jawa Barat. Produksi dilakukan dengan standar kontrol kualitas setara proyek internasional dan rencananya berlangsung bertahap hingga 2029.
Dari sisi operasional, produk bantalan rel beton akan dikirim dari pabrik di Majalengka menuju Pelabuhan Tanjung Priok, sebelum diarahkan ke Pelabuhan Manila melalui jalur laut. Distribusi dilakukan secara berkelanjutan sesuai tahapan pembangunan metro di Filipina.
Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara, menuturkan bahwa keterlibatan perusahaan dalam proyek ini menjadi pendorong utama bagi ekspansi global dan pembuktian kapabilitas manufaktur Indonesia dalam persaingan pasar infrastruktur dunia.
“Partisipasi WIKA Beton dalam proyek Metro Manila Subway mencerminkan peningkatan kepercayaan mitra internasional terhadap kapabilitas manufaktur dan rekayasa Indonesia. Didukung pembiayaan dari JICA dan kerja sama dengan Colas Rail, kami bangga berkontribusi dalam pembangunan transportasi urban modern yang memenuhi standar internasional,” ujar Kuntjara.
Keikutsertaan WTON pada proyek prestisius ini dinilai pasar sebagai sinyal pemulihan kinerja ekspor yang dapat memberi dampak positif terhadap margin laba dan sentimen saham. Kontrak jangka panjang hingga 2029 diperkirakan mampu menjaga stabilitas arus kas perusahaan serta memperluas basis pendapatan luar negeri.
Analis menilai, dengan skema ekspor yang berkelanjutan dan model joint venture tanpa capex, WTON berpotensi mempertahankan pertumbuhan pendapatan tahunan di kisaran 8–10%, terutama bila dukungan logistik dan efisiensi produksi di PPB Majalengka berjalan optimal. Prospek ini diyakini akan memperkuat persepsi investor terhadap fundamental emiten beton BUMN tersebut.
Secara teknikal, aktivitas ekspor yang meningkat dan diversifikasi proyek luar negeri dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham WTON di kuartal II/2026. Investor jangka menengah diperkirakan mulai mengakumulasi saham WTON seiring optimisme terhadap pencapaian kontrak baru dan potensi pemulihan margin proyek domestik.
Melalui proyek Metro Manila Subway, WIKA Beton tidak hanya membangun terowongan di Filipina, melainkan juga membuka jalan bagi penguatan ekspor manufaktur Indonesia dan nilai tambah bagi para pemegang saham.

