Jakarta, Investor IDN – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) resmi masuk Daftar Pemantauan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi Bursa Efek Indonesia per 1 April 2026. Data BEI mencatat 97,31 persen saham BREN dikuasai 20 pemegang saham terbesar, menyisakan public float hanya 2,69 persen atau 3,36 miliar lembar dari total 125 miliar lembar saham yang beredar.
Pengumuman ini memicu keresahan di kalangan investor ritel, terutama setelah harga saham BREN turun 12 persen sepekan terakhir dari Rp8.200 menjadi Rp7.200. Namun, pelaku pasar yang memahami bandarmologi menegaskan bahwa struktur kepemilikan ini bukanlah berita baru dan tidak berkorelasi dengan pergerakan harga terkini.
“Hampir 100 persen saham BREN memang dikuasai satu keluarga sejak initial public offering (IPO) 2023. Investor ritel tidak pernah di atas 2 persen. Ini pengetahuan umum di kalangan trader serius,” ujar analis bandarmologi senior yang enggan menyebut nama.
Mayoritas saham BREN berada di tangan keluarga Prajogo Pangestu melalui entitas Barito Pacific Group. Struktur kepemilikan terkonsentrasi inilah yang memungkinkan emiten energi terbarukan tanpa kantor fisik menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, mengungguli sejumlah bank swasta besar.
Penurunan harga BREN sepekan terakhir sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kelompok konglomerasi sebesar 2,8 persen menjelang libur Lebaran. Faktanya, saham dengan karakteristik serupa justru bergerak berlawanan. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSSA) naik 3 persen pasca-pengumuman, sementara PT Rukun Makmur Lestari Tbk (RLCO) digerakkan naik dari Rp200 menjadi Rp6.000 meskipun sama-sama masuk daftar terkonsetrasi.
Analis bandarmologi telah memperingatkan dalam podcast Maret lalu tentang perbedaan krisis saham konglomerasi saat ini dengan gejolak indeks MSCI pada Januari. “Karakter penurunannya berbeda. Sebaiknya hindari posisi long menjelang cut-off libur Lebaran,” disampaikan saat itu.
Harga BREN pasca-pengumuman BEI justru bergerak datar di rentang Rp7.100 hingga Rp7.400 dengan volume transaksi stabil 8 hingga 12 juta lot harian. Tidak ditemukan tanda-tanda panic selling akibat daftar pemantauan tersebut.
Struktur kepemilikan terkonsentrasi justru dianggap melindungi free float dari aktivitas spekulatif ritel. Prajogo Pangestu memiliki rekam jejak menggerakkan BREN naik 300 persen dalam setahun. Level resistance kunci Rp7.800 dengan volume di atas 15 juta lot menjadi sinyal akumulasi bandar.
“Berita ini ibarat mengumumkan Bank Central Asia Tbk memiliki fundamental yang baik. Semua sudah mengetahui, pasar tidak bereaksi,” tutup analis tersebut.
BREN tetap menjadi saham kelas berat dengan dinamika berbeda dari saham likuid eceran. Investor disarankan fokus pada pola akumulasi pemodal besar ketimbang headline regulator.

