IDXEBT

Kelemahan Indeks ESG Saat Ini: Mengapa Investor Membutuhkan Indeks EBT Khusus?

Jakarta, Investor IDN– Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai perlu segera memacu langkah untuk memperkuat ekosistem investasi hijau. Pasalnya, instrumen yang tersedia saat ini dianggap belum cukup mampu membedakan antara emiten yang menjalankan praktik keberlanjutan secara umum dengan emiten yang murni bergerak di sektor energi baru terbarukan (EBT).

Pengamat ESG Andryanto EN, secara spesifik mendorong otoritas bursa untuk segera membentuk indeks saham khusus emiten EBT. Langkah ini krusial guna memberikan visibilitas yang lebih akurat bagi investor. Selama ini, emiten di bidang EBT sering kali “tenggelam” dalam indeks sektoral umum seperti IDXENERGY.

Sebagai catatan, IDXENERGY sendiri memang masih didominasi oleh raksasa energi konvensional. Berdasarkan data BEI per April 2026, sektor energi masih memiliki bobot kapitalisasi pasar yang besar, namun sebagian besar kontribusinya berasal dari emiten batu bara, minyak, dan gas bumi. Kondisi ini membuat performa saham EBT yang murni sering kali tidak tercermin secara objektif karena tertutup oleh fluktuasi harga komoditas fosil.

Ketergantungan pada indeks ESG yang ada saat ini, seperti SRI-KEHATI atau IDX ESG Leaders, juga dianggap belum ideal. Indikator pada indeks-indeks tersebut lebih menitikberatkan pada kepatuhan serta praktik keberlanjutan perusahaan secara umum, bukan pada model bisnis inti yang berbasis EBT. Tanpa adanya benchmark atau indeks tematik yang khusus, investor yang memiliki mandat spesifik pada energi hijau kesulitan melakukan pemetaan dan penyaringan saham secara efisien.

Padahal, potensi pasar modal dalam mendukung transisi energi nasional sangat besar. Merujuk pada target Net Zero Emission (NZE) 2060, Indonesia membutuhkan investasi di sektor EBT hingga ribuan triliun rupiah. Pembentukan indeks EBT yang khusus dipandang sebagai langkah strategis untuk menarik minat investor global yang memang menargetkan pendanaan pada transisi energi.

Data global menunjukkan bahwa dana kelolaan (AUM) dari investor institusi yang berfokus pada transisi energi terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Dengan adanya indeks tersebut, perusahaan yang benar-benar memfokuskan operasionalnya pada EBT akan mendapatkan branding dan perhatian pasar yang lebih tinggi. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong arus modal masuk ke sektor yang krusial bagi masa depan iklim Indonesia tersebut secara lebih masif.

More From Author

Saham BAPA

Sentimen Spekulasi Panas, Saham BAPA Digembok BEI Setelah Harga Melonjak Tajam

Ilustrasi Emiten (Sumber: Freepik)

IHSG Tertekan, Emiten Ini Tetap Bertahan

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan