JELI Inaco

JELI Resmi IPO, Manisnya INACO Dibayangi Piutang Jumbo dan Arus Kas yang Menipis

Jakarta, Investor-idn.com – PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman penutup bermerek INACO, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 7 Juli 2026. Saham JELI dicatatkan di Papan Pengembangan dengan harga penawaran Rp900 per saham, melepas 266 juta saham baru atau 21,01% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari aksi korporasi ini, perseroan meraup dana segar Rp239,4 miliar sebelum dikurangi biaya emisi. Minat pasar pun bukan main-main: porsi pooling IPO JELI kelebihan permintaan 273,37 kali dengan 630.491 pemesan.

Namun, di balik antusiasme investor ritel, laporan keuangan JELI menyimpan cerita yang lebih kompleks. Penjualan perseroan turun dua tahun beruntun, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp788,43 miliar pada 2024, lalu kembali susut menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Artinya, kisah JELI bukan kisah pertumbuhan pendapatan yang mulus, melainkan cerita efisiensi ketat di tengah volume penjualan yang sedang dikurasi.

Menariknya, laba justru berbalik manis. Laba tahun berjalan naik 235,50% menjadi Rp39,03 miliar pada 2025. Prospektus menyebut perbaikan ini ditopang kenaikan harga jual, penurunan harga bahan baku, efisiensi biaya pabrikasi, serta penghentian pembelian produk yang kurang menguntungkan. Dengan kata lain, laba JELI tumbuh bukan karena omzet melejit, melainkan karena manajemen menekan biaya dan memilih produk dengan margin lebih baik.

Pekerjaan rumah terbesar ada di kas. Arus kas operasi JELI anjlok 83,39% dari Rp123,55 miliar pada 2024 menjadi Rp20,53 miliar pada 2025. Prospektus menyebut penyebabnya adalah penurunan penerimaan kas dari pelanggan dan kenaikan pembayaran pajak penghasilan. Piutang usaha juga membengkak dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar. Catatan penting: dokumen prospektus tidak menyatakan piutang itu “tidak tertagih”, melainkan menyebut kenaikan piutang terkait pergeseran puncak penjualan Ramadhan dan Idulfitri ke akhir November-Desember 2025 sehingga penjualan masih berbentuk piutang.

Dari sisi struktur modal, rasio liabilitas terhadap ekuitas JELI berada di 2,79 kali pada 2025. Angka ini masih tebal, meski sebenarnya membaik dari 3,41 kali pada 2024 dan 3,82 kali pada 2023. Jadi, masalahnya bukan lonjakan rasio utang, melainkan beban struktur pendanaan yang masih perlu dijinakkan agar ekspansi pasca-IPO tidak menggerus kualitas neraca.
Dana IPO JELI akan lebih banyak diarahkan untuk ekspansi. Sebanyak 56,70% dana hasil IPO dialokasikan untuk penyertaan modal ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera guna meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jeli. Sebanyak 10,04% dipakai untuk belanja modal mesin dan peralatan, 10,90% untuk pembayaran pokok utang jangka pendek KMK 2 kepada Bank Mandiri senilai Rp25 miliar per 31 Maret 2026, dan sisanya 22,36% untuk modal kerja.

Artinya, tantangan JELI setelah IPO jelas: ekspansi boleh jalan, tetapi disiplin kas harus lebih dulu diperketat. Manajemen perlu memangkas umur piutang, memperketat syarat kredit distributor, dan memastikan pertumbuhan penjualan benar-benar berubah menjadi kas. Tanpa itu, merek INACO boleh saja terasa manis di pasar, tetapi investor tetap perlu mencermati apakah manisnya laba bisa bertahan tanpa membuat arus kas kembali seret.

More From Author

HOKI

Omzet Naik Tapi Rugi Membengkak Rp31,20 Miliar, Ada Apa dengan Emiten Beras HOKI?

OASA

Rugi OASA Bengkak 193%, Proyek Hijau Belum Jadi Duit, Kas Mulai Terbakar

blank
Family Office
Family Office

Video Pilihan