blank

Pede IHSG Tembus 36.000, Purbaya Sikat Saham Gorengan

Jakarta, INVESTOR IDN – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kemarahannya terhadap praktik saham gorengan yang dianggap merugikan banyak investor kecil. Ia menegaskan bahwa dalam waktu satu tahun ke depan, BEI dan OJK harus bertindak tegas terhadap pelaku manipulasi harga saham.

Menurut Purbaya, praktik “menggoreng” saham sudah berlangsung lama dan kadang sulit dilacak, namun bukan berarti tidak bisa dibereskan. Ia mengingatkan bahwa insentif pajak atau dukungan fiskal hanya akan diberikan jika pasar modal sudah lebih bersih dari permainan semacam itu.

Ia juga menekankan bahwa sinergi antara BEI dan OJK harus semakin kuat agar tidak ada zona abu-abu di mana oknum bisa lolos dari penalti. Jika terbukti, pelaku manipulasi harga harus dihadapkan pada sanksi yang nyata.

Bursa Minta Insentif, Purbaya Tolak Kalau Saham Gorengan Belum Disikat

Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat mengajukan permohonan insentif pemerintah sebagai dorongan bagi pertumbuhan pasar modal. Namun Purbaya langsung merespons dengan tegas: insentif tak akan diberikan sebelum pasar “dirapikan” dari saham gorengan. 

Dalam kunjungannya ke gedung BEI, ia menegur para petinggi bursa bahwa mereka tidak bisa meminta insentif jika belum menunjukkan kinerja penertiban. “Yang goreng-gorengan dikendalikan dulu, supaya investor kecil terlindungi,” tegas Purbaya.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa pemerintah akan menggunakan insentif fiskal sebagai alat pengendalian moral (moral hazard control) di pasar modal, bukan sebagai hadiah tanpa syarat. Investor dan analis pun mencermati: sampai di mana batas toleransi pemerintah terhadap praktik manipulasi harga?

Purbaya Ramal IHSG 36.000, Tapi Tak Mau Dibebani Saham Gorengan

Purbaya optimistis terhadap prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memprediksi bahwa IHSG bisa menembus 36.000 pada 2035, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid. Namun, ia juga memperingatkan bahwa keyakinan tersebut bisa runtuh kala integritas pasar dipertanyakan.

Ia menegaskan bahwa kenaikan IHSG tak bermakna jika investor ritel terus menjadi korban aksi “bandar” yang bermainkan saham gorengan. Apabila kepercayaan pasar menipis, arus modal bisa berpaling ke instrumen lain.

Karena itu, Purbaya meminta agar fokus pemulihan pasar tak hanya pada angka-angka teknikal, tapi juga pada kualitas perdagangan: likuiditas yang sehat, fundamental, dan pengawasan yang mumpuni. Tanpa itu, IHSG yang tinggi bisa menjadi rapuh.

(dok: Fahdi Kasmiri via Wikimedia Commons)

More From Author

blank

PIK 2 Dicoret dari Daftar PSN, Bagaimana Nasib Saham PANI?

blank

Danantara, BP BUMN, dan Ujian Akuntabilitas Negara

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan