Investasi Raksasa dari Timur Tengah: Danantara dan Arab Saudi Tandatangani Mega Proyek Energi Bersih Rp162 Triliun

Jakarta, INVESTOR IDN – Kesepakatan bersejarah telah tercipta antara Indonesia dan Arab Saudi melalui penandatanganan nota kesepahaman senilai US$10 miliar atau setara Rp162 triliun yang melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dengan ACWA Power, perusahaan energi terbesar Arab Saudi. Kesepakatan ini lahir dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Arab Saudi pada 1-3 Juli 2025, yang bertemu langsung dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (MBS).

Profil Danantara dan Kepemimpinan Strategis
Danantara, yang resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada 24 Februari 2025, merupakan badan pengelola investasi strategis yang mengonsolidasikan dan mengoptimalkan investasi pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Nama “Daya Anagata Nusantara” diberikan langsung oleh Presiden Prabowo dengan makna “Daya” berarti energi, “Anagata” berarti masa depan, dan “Nusantara” merujuk pada Indonesia.

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi, memimpin badan ini dengan didampingi Chief Investment Officer (CIO) Pandu Patria Sjahrir dan Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria. Rosan, kelahiran Jakarta 31 Desember 1968, merupakan sosok pengusaha berpengalaman yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (2015-2020) dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (2021-2023).

Kemitraan Energi Bersih dengan ACWA Power
ACWA Power, perusahaan desalinasi air swasta terbesar di dunia sekaligus pemimpin dalam transisi energi dan pelopor hidrogen hijau, menjalin kesepakatan strategis dengan Danantara untuk mengembangkan proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia. Kolaborasi ini mencakup pembangkit energi terbarukan, turbin gas siklus gabungan, hidrogen hijau, dan desalinasi air.

Rosan Roeslani menyatakan bahwa kolaborasi dengan ACWA Power merupakan langkah signifikan dalam memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam transisi energi global. “Dengan menyalurkan sumber daya milik negara ke dalam usaha dengan pemain global yang terbukti, kami bertujuan untuk mengkatalisasi pertumbuhan berkelanjutan, meningkatkan ketahanan energi, dan menarik investasi asing langsung yang berkelanjutan,” ujarnya.

Target Ambisius Energi Bersih Indonesia
Indonesia memiliki target ambisius dalam transisi energi menuju net zero emissions pada 2060. Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 70-72% pada 2060, naik signifikan dari target sebelumnya sebesar 31% pada 2050. Untuk mencapai target ini, Indonesia memiliki potensi teknis energi terbarukan yang melimpah mencapai lebih dari 3.686 GW.

Kajian terbaru Institute for Essential Services Reform (IESR) mengidentifikasi 333 GW dari 632 lokasi proyek energi terbarukan skala utilitas yang layak secara finansial, dengan rincian kapasitas PLTS ground-mounted sebesar 165,9 GW, PLTB onshore sebesar 167,0 GW, dan PLTM sebesar 0,7 GW. Bahkan IESR menemukan sekitar 61% dari 333 GW potensi proyek energi terbarukan memiliki tingkat EIRR di atas 10%.

Pengembangan Hidrogen Hijau sebagai Prioritas
Salah satu fokus utama kemitraan ini adalah pengembangan hidrogen hijau. ACWA Power telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan fasilitas hidrogen hijau terbesar di Indonesia dengan dukungan 600 MW tenaga surya dan angin, yang diharapkan menghasilkan 150.000 ton amonia hijau setiap tahun. Proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi lebih dari $1 miliar dan dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026.

Kolaborasi antara Pupuk Indonesia, PLN, dan ACWA Power dalam pengembangan hidrogen hijau telah berlangsung sejak 2023. PLN saat ini menghasilkan 203 ton hidrogen hijau per tahun dari 22 instalasi hidrogen yang didukung oleh renewable energy certificate dan sumber panas bumi. Proyek pembangunan pabrik hidrogen hijau di Jawa Timur pada 2025-2026 diproyeksikan akan memproduksi 15 ribu ton per tahun (KTPA) hidrogen hijau.

Dampak Strategis bagi Indonesia
Kesepakatan ini memperkuat kemitraan strategis kedua negara dan mendukung visi net zero emissions 2060 Indonesia. Dana senilai US$10 miliar ini akan membantu Indonesia mencapai target 34% campuran energi terbarukan pada 2034 dan 87% pada 2060. Total pendanaan proyek ini merupakan bagian dari kesepakatan bisnis yang lebih besar senilai US$27 miliar yang ditandatangani antara pelaku usaha kedua negara.

Pertemuan bersejarah antara Presiden Prabowo dan Pangeran MBS juga menghasilkan pembentukan Supreme Coordination Council atau Dewan Koordinasi Tertinggi (DKT) Indonesia-Arab Saudi. DKT ini akan menjadi platform utama dalam memantau pelaksanaan kemitraan strategis di masa depan, dengan format yang telah diterapkan Arab Saudi dalam hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat dan Republik Rakyat China.

Komitmen Presiden Prabowo terhadap Energi Bersih
Presiden Prabowo telah menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan energi terbarukan dengan meresmikan 55 proyek energi baru terbarukan di 15 provinsi pada 26 Juni 2025. Proyek-proyek tersebut meliputi 8 PLTP dengan total kapasitas 351,9 MW dan 47 PLTS dengan kapasitas 27,8 MW, yang diperkirakan menghasilkan lebih dari 3 terawatt jam per tahun.

“Kita bersyukur bahwa kita memiliki sumber-sumber energi yang juga luar biasa, sumber-sumber energi yang terbarukan ada di kita, tinggal kita mengelola dengan baik. Dan hari ini bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk menuju swasembada energi yang sangat menentukan bagi masa depan kita,” ujar Presiden Prabowo.

Masa Depan Kemitraan Indonesia-Arab Saudi
Kesepakatan antara Danantara dan ACWA Power menandai era baru dalam hubungan Indonesia-Arab Saudi di sektor energi. Arab Saudi tercatat sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia di kawasan dengan nilai perdagangan bilateral selama lima tahun terakhir mencapai sekitar 31,5 miliar US dollar. Kedua pemimpin sepakat memperluas volume perdagangan, memperbanyak kunjungan pejabat tinggi, dan menggelar kegiatan bisnis bersama melalui Dewan Bisnis Saudi-Indonesia.

Presiden Prabowo menyatakan kepuasannya atas hasil kunjungan tersebut: “Jadi saya sangat puas, alhamdulillah produktif. InsyaAllah kita akan melihat suatu peningkatan kerja sama antara kita dan Saudi Arabia”. Kemitraan ini diharapkan akan mempercepat transisi energi Indonesia sambil memperkuat posisi negara dalam mitigasi perubahan iklim di kancah global.

Kesepakatan Rp162 triliun ini bukan hanya tentang investasi, tetapi juga tentang transformasi Indonesia menuju masa depan energi yang berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi dan modal dari Arab Saudi, Indonesia bersiap untuk menjadi pemain kunci dalam transisi energi global menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

More From Author

Darmawan Junaidi

Bank Mandiri Agendakan RUPSLB pada 4 Agustus 2025, Spekulasi Pergantian Direktur Utama Darmawan Junaidi Mencuat

Sukses MERI, Tanoko Memberi Sinyal IPO Perusahaan Kimia Triliunan

ASA Media
ASA Media

Video Pilihan