Jakarta, INVESTOR IDN – Di tengah derasnya arus perubahan iklim dan meningkatnya tekanan global terhadap keberlanjutan, satu sosok tampil mencolok di panggung nasional: Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat sejak Februari 2025. Sosok yang sebelumnya dikenal dengan pendekatan populis dan dekat dengan rakyat ini, kini menjelma menjadi pemimpin revolusioner di bidang ESG (Environmental, Social, and Governance) serta penggerak utama keberlanjutan di Indonesia.
Melalui visinya yang dijuluki “Jabar Istimewa”, Dedi tidak hanya bermimpi tentang kemajuan ekonomi—ia membuka lembaran baru yang menyatukan kemajuan dan keberlanjutan, membuktikan bahwa pembangunan hijau bukanlah gagasan utopis, melainkan fondasi masa depan yang nyata.
Air Mata Seorang Pemimpin: Kepedulian yang Menyala
Salah satu momen paling berkesan dari masa kepemimpinan Dedi Mulyadi adalah ketika ia, dengan mata berkaca-kaca, memutuskan untuk merobohkan bangunan megah milik BUMD di kawasan Puncak, Bogor—Hibisc Fantasy. Keputusan kontroversial ini menandai keberaniannya untuk menempatkan kelestarian alam di atas kepentingan ekonomi sesaat.
“Saya menangis karena gunung itu sakral bagi orang Sunda dan Jawa. Dari gunung lahir air, dari air lahirlah kehidupan,” ungkap Dedi dengan penuh haru.
Tangisan itu tidak berwujud kelemahan, justru menjadi simbol kepemimpinan yang tulus dan berani berkorban demi masa depan bumi.
Dari Hulu ke Hilir: Mengobati Alam Jawa Barat dengan Aksi Nyata
1. Tobat Ekologis: Gerakan untuk Memulihkan Alam
Dedi mempelopori program besar bertajuk “Tobat Ekologis”, yakni ajakan untuk bertobat dari kebiasaan merusak lingkungan. Program ini fokus pada:
- Revitalisasi aliran sungai agar air kembali mengalir alami tanpa hambatan
- Pemulihan mata air yang berfungsi menopang ekosistem hulu
- Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular
- Penataan ulang tata ruang agar selaras dengan daya dukung lingkungan
Program ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi langkah holistik untuk menyembuhkan luka ekologis Jawa Barat.
2. Reboisasi Endemik: Membawa Kembali Rimba Asli
Dedi menolak pendekatan reboisasi instan. Ia memilih strategi berbasis kearifan lokal, menanam pohon endemik sesuai kontur dan budaya setempat. Dari hutan gunung hingga pinggiran sungai, hijau mulai tumbuh lagi—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak-cucu negeri ini.
“Sungai saya normalisasi, tanami lagi pohon endemik kita, bukan pohon luar yang bukan habitatnya,” ujarnya tegas.
Menciptakan Ekonomi Circular yang Mensejahterakan Lingkungan
1. Ekonomi Tradisi: Kembali ke Akar, Maju ke Masa Depan
Dedi memperkenalkan konsep “Ekonomi Tradisi”—cara hidup yang mengandalkan pekarangan, memanfaatkan tanah untuk ditanami sayur dan herbal lokal. Konsep ini bukan hanya membangun ketahanan pangan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan memperkuat ekonomi akar rumput.
2. Revolusi Tenaga Surya untuk Daerah 3T
Targetnya jelas: 100% desa di Jawa Barat teraliri listrik hijau pada 2025. Melalui sistem panel surya mandiri, kini banyak wilayah terpencil menikmati listrik 24 jam. Ini bukan hanya tentang terang benderang, tetapi juga tentang harapan yang menyala—tanpa merusak alam.
3. Sampah Jadi Cahaya: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)
Dari masalah menjadi berkah—itulah pendekatan Dedi dalam menghadapi krisis sampah. Ia mendorong pengembangan PLTSa di beberapa wilayah untuk mengubah limbah menjadi energi. Sebuah penerapan nyata dari prinsip circular economy yang mengundang decak kagum banyak pihak.
ESG sebagai Etos Kepemimpinan
1. Kemitraan Strategis Lintas Sektor
Dedi memandang bahwa menyelamatkan lingkungan bukanlah pekerjaan satu kantor. Ia aktif menjalin kerjasama dengan Kementerian LHK, KKP, BUMN hingga lembaga internasional, menghasilkan kebijakan terintegrasi antara pusat dan daerah.
2. Menata Ulang Makna CSR
Dalam forum CSR Jawa Barat 2025, Dedi menegaskan bahwa CSR bukanlah kosmetik pencitraan, melainkan tanggung jawab nyata dengan dampak sosial dan ekologis yang terukur. Ia mendorong penerapan ESG sebagai kerangka utama dalam tata kelola perusahaan.
3. Pengakuan dan Reputasi Internasional
Berbagai program yang ia canangkan membuat banyak perusahaan dan daerah di Jawa Barat memperoleh penghargaan keberlanjutan tingkat internasional, menjadikan provinsi ini pusat inovasi ESG di Indonesia.
Menatap Masa Depan: Tantangan Tak Menghentikan Langkah
Walhi Jawa Barat mencatat masih ada puluhan tantangan lingkungan—dari alih fungsi hutan hingga isu tata ruang. Namun Dedi tidak berhenti di tengah jalan. Ia menyusun strategi jangka panjang integratif yang menempatkan lingkungan sebagai poros pembangunan, bukan hanya sebagai lampiran.
Menginspirasi Generasi untuk Bangkit dan Bertindak
Dedi Mulyadi telah mendobrak batasan klasik antara politik dan aktivisme hijau. Ia meyakinkan publik bahwa di tengah kemelut perubahan iklim, satu pemimpin dengan visi jelas dan hati tulus bisa membuat perbedaan besar.
“Jika kita ingin hidup harmonis, kita harus bertobat ekologis. Mari kembali pada alam, karena di sanalah semua dimulai dan berakhir.”
Penutup: Jejak Seorang Pelopor Keberlanjutan
Dedi Mulyadi bukan hanya seorang gubernur. Ia adalah penyulut api harapan bahwa transformasi hijau dapat dimulai dari daerah. Ia membuktikan bahwa keberlanjutan bisa menjadi kebijakan utama, bukan hanya wacana. Bahwa keberanian untuk memilih jalan yang tidak popular—adalah bentuk tertinggi cinta terhadap bumi dan bangsanya.
Dalam halaman hijau masa depan Indonesia, nama Dedi Mulyadi akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi juga menyelamatkan hari esok.
“Jabar Istimewa” kini bukan sekadar visi, tapi bukti bahwa bumi bisa diselamatkan bila ada cinta, keberanian, dan aksi nyata.

