Jakarta, INVESTOR IDN– Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) belakangan menjadi perbincangan hangat di kalangan investor ritel karena kenaikan harga sahamnya yang sangat tajam sejak awal tahun. Namun, saat ini valuasi saham DADA dinilai sudah jauh melampaui nilai wajarnya jika dilihat dari kinerja fundamental perusahaan.
Mengacu pada laporan keuangan terakhir, pendapatan (revenue) DADA tahun 2024 tercatat sebesar Rp 37 miliar dengan laba bersih sekitar Rp 1,1 miliar. Adapun proyeksi pendapatan di tahun 2025 diperkirakan hanya berada di kisaran Rp 9,7 miliar, dengan laba bersih yang kemungkinan di bawah Rp 1 miliar, mengikuti kinerja semester pertama tahun ini yang relatif lemah. Dari sisi aset, total kekayaan perusahaan sekitar Rp 643 miliar dan ekuitas hanya Rp 352 miliar. Jumlah saham beredar DADA sendiri mencapai 7,4 miliar lembar, sehingga nilai buku per saham sekitar Rp 47.
Jika memakai rumus sederhana valuasi saham properti, seperti metode Price to Earnings Ratio (PER) atau Price to Book Value (PBV) yang umum dipakai di sektor ini, estimasi harga wajar saham DADA berada di kisaran Rp 1 hingga Rp 23 per lembar. Angka ini sudah memasukkan faktor risiko bisnis yang cukup tinggi karena perusahaan masih sangat kecil, pertumbuhan laba dan revenue yang tidak stabil, belum pernah membagikan dividen, serta rasio utang yang cukup besar dibanding modal sendiri.
Sebagai pembanding, rata-rata saham properti di Indonesia saat ini diperdagangkan dengan PER sekitar 8-9 kali dan PBV hanya 0,7-0,8 kali nilai bukunya. Sementara harga pasar saham DADA pada akhir September 2025 berada di level Rp 149 per lembar, lebih dari 8 kali lipat di atas rata-rata nilai wajarnya berdasarkan hitungan fundamental. Bahkan, jika memakai skenario yang sangat optimis, di mana pendapatan bisa naik dua kali lipat tahun depan dan margin laba bersih membaik, nilai wajar DADA tetap tidak akan jauh dari Rp 17 per lembar.
Melihat gap antara harga pasar dan nilai wajar tersebut, risiko bagi investor sangat besar. Dengan fundamental yang ada, sangat sulit menemukan alasan yang nyata mengapa harga saham DADA bisa diperdagangkan setinggi sekarang selain faktor spekulasi atau rumor pasar. Investor yang memegang saham ini perlu berhati-hati, karena potensi penurunan harga sangat terbuka lebar jika minat spekulatif berkurang dan pasar mulai kembali melihat angka-angka fundamental.
Kesimpulannya, secara fundamental saham DADA saat ini dinilai sangat mahal dan tidak mencerminkan kinerja ataupun prospek bisnis ke depan. Untuk investor pemula dan ritel, saham ini lebih baik dihindari kecuali memang disiapkan untuk trading jangka pendek dengan risiko tinggi. Jika ingin investasi jangka panjang berbasis fundamental, posisi wajar untuk saham DADA berada di kisaran Rp 15-20 per lembar atau bahkan di bawahnya, mengikuti rata-rata valuasi sektor properti nasional saat ini.

