Elzatta

Manuver Bisnis ZATA di Tengah Panggung BEI

Jakarta, INVESTOR IDN– PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) telah mengukir jejak yang tak terlupakan—sebuah perjalanan yang dimulai dengan kegemilangan IPO namun kemudian diwarnai volatilitas ekstrem yang mengguncang kepercayaan investor.

Dari Bandung ke Panggung Bursa

Kisah ZATA bermula dari sebuah mimpi sederhana di Kota Bandung pada tahun 2012. Empat perempuan visioner—Elidawati, Sukaesih, Henda Roshenda Noor, dan Eva Hanura Luziani—mendirikan perusahaan yang fokus pada perdagangan busana muslim. Dengan merek andalan “Elzatta” dan “Dauky”, mereka berhasil mengukir prestasi gemilang dalam industri modest fashion Indonesia.

Perjalanan menuju bursa efek mencapai puncaknya pada 10 November 2022, ketika ZATA resmi melantai di BEI dengan melepas 1,7 miliar saham dengan harga perdana Rp 100 per lembar, mengumpulkan dana segar sebesar Rp 170 miliar. Capaian ini menjadikan ZATA sebagai perusahaan ke-53 yang tercatat di BEI pada tahun 2022.

Kinerja Keuangan: Antara Harapan dan Kenyataan

Semester pertama 2025 menjadi ujian berat bagi ZATA. Laba bersih perusahaan anjlok 14,6% menjadi Rp 4,1 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,8 miliar. Pendapatan juga tergerus 12,2% menjadi Rp 125,4 miliar dari sebelumnya Rp 142,9 miliar.

Margin profitabilitas perusahaan mengalami tekanan signifikan dengan gross margin turun menjadi 39,8% dan net margin menyusut drastis menjadi 3,3%. Kondisi ini mencerminkan tantangan operasional yang dihadapi perusahaan di tengah kompetisi ketat industri fashion muslim.

Meski demikian, struktur keuangan ZATA masih terjaga dengan total aset mencapai Rp 682,8 miliar dan ekuitas sebesar Rp 527,9 miliar. Debt to equity ratio yang terkendali di 0,29x menunjukkan manajemen utang yang prudent.

Gejolak Kepemilikan dan Drama Divestasi

Dinamika kepemilikan saham ZATA menjadi sorotan publik ketika pemegang saham pengendali PT Lembur Sadaya Investama melakukan serangkaian divestasi sepanjang 2025. Pada periode April 2025, mereka melepas 133,6 juta lembar saham dengan harga Rp 6-8 per lembar, mengurangi kepemilikan dari 70,61% menjadi 69,04%.

Aksi divestasi ini dilakukan bersamaan dengan rencana pembagian dividen sebesar Rp 430,36 juta atau Rp 0,05 per lembar saham, yang diambil dari 20% laba bersih tahun 2024. Timing yang kontroversial ini memicu spekulasi di kalangan investor mengenai strategi jangka panjang pemegang saham pengendali.

Volatilitas Ekstrem dan Perhatian Regulator

September 2025 menjadi bulan yang penuh drama bagi ZATA. Saham perusahaan mengalami volatilitas luar biasa dengan pergerakan harga yang mengundang perhatian Bursa Efek Indonesia. Dalam periode lima hari terakhir, saham ZATA mencatatkan penguatan fantastis 82% dari Rp 50 menjadi Rp 91.

Aktivitas perdagangan yang tidak wajar ini akhirnya memicu intervensi regulator. BEI memasukkan ZATA ke dalam papan pemantauan khusus dengan kriteria 1—harga rata-rata kurang dari Rp 51 dan likuiditas rendah dengan nilai transaksi harian kurang dari Rp 5 juta. Namun, dalam perkembangan mengejutkan, pada 25 September 2025, BEI mencabut ZATA dari papan pemantauan khusus.

Strategi Bisnis dan Ekspansi Global

Di tengah gejolak keuangan dan pasar modal, ZATA tetap konsisten menjalankan strategi ekspansi bisnisnya. Perusahaan menargetkan pembukaan 33 toko baru pada 2023, meningkatkan jumlah outlet dari 123 menjadi 155 toko. Distribusi channel perusahaan mencakup toko offline milik sendiri, toko mitra, dan platform online.

Langkah strategis paling ambisius adalah ekspansi ke pasar internasional melalui kerjasama dengan Alwafaa Investment Oman untuk pasar Timur Tengah. Partnership ini membuka peluang bagi brand lokal Indonesia untuk go international dan memperluas basis konsumen di kawasan dengan populasi muslim yang besar.

Inovasi Pemasaran dan Brand Building

ZATA mengimplementasikan strategi pemasaran yang sophisticated dengan memanfaatkan key opinion leaders (KOL), public figure, dan komunitas muslimah untuk meningkatkan brand awareness. Program reward untuk member yang ditargetkan mencapai 70% dari total penjualan menjadi differensiasi perusahaan dalam membangun loyalitas pelanggan.

Elzatta sebagai brand utama telah menjadi pioneer dalam motif fashion muslim berkualitas di Indonesia dengan dukungan 200.000 member aktif yang tersebar di seluruh nusantara. Strategi positioning yang mengusung keindahan yang selaras dengan nilai-nilai Islam berhasil menciptakan emotional connection dengan target market.

Respons Pasar dan Outlook Ke Depan

Meskipun menghadapi tantangan kinerja keuangan, pasar masih menunjukkan respons positif terhadap prospek jangka panjang ZATA. Market cap perusahaan tercatat sekitar Rp 76,5 miliar dengan PER 18,65x dan PBV yang menarik di 0,14x. Valuasi yang rendah ini memberikan ruang bagi investor untuk masuk di level yang atraktif.

Direktur Utama ZATA, Elidawati, tetap optimis dengan prospek industri fashion muslim Indonesia. “Kami yakin bisnis fashion muslim ke depannya akan tumbuh secara pesat. ZATA sudah memiliki pengalaman dalam industri ini dan dengan izin Allah akan menjadi brand muslim global,” ujarnya.

Dukungan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia memberikan angin segar bagi perusahaan-perusahaan seperti ZATA untuk terus berkembang. Dengan populasi muslim terbesar di dunia dan tren modest fashion yang terus menguat, peluang pertumbuhan jangka panjang tetap terbuka lebar.

Perjalanan ZATA dari startup Bandung hingga menjadi perusahaan publik yang diperdagangkan di bursa efek mencerminkan dinamika bisnis modern yang penuh tantangan. Kemampuan perusahaan untuk bertahan dan beradaptasi di tengah volatilitas pasar akan menentukan masa depannya dalam industri fashion muslim Indonesia yang semakin kompetitif.

More From Author

Merdeka Battery Materials

Merdeka Battery Materials: Dari Kejayaan IPO ke Ujian Berat Produksi

Indokripto Koin Semesta

Indokripto Koin Semesta (COIN): Magnet Baru Investor Pasar Modal Indonesia

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan