Jakarta, INVESTOR IDN– Perjalanan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) telah menjadi sebuah saga dramatis yang menggugah dunia investasi Indonesia. Perusahaan yang pernah meraih gemilang dengan dana segar IPO sebesar Rp 9,2 triliun pada April 2023 kini menghadapi tantangan yang menguji ketangguhan operasionalnya.
Kontras Kinerja yang Mencengangkan
Dalam semester pertama 2025, MBMA mengalami penurunan kinerja yang mengejutkan. Laba bersih entitas induk terjun bebas 71,3% menjadi USD 5,85 juta (sekitar Rp 95 miliar), jauh dari USD 20,39 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha ikut terpuruk 31,89% menjadi USD 627,7 juta, turun dari USD 921,6 juta.
Penurunan drastis ini terjadi akibat pemeliharaan smelter terjadwal dan pengurangan strategis produksi High Grade Nickel Matte (HGNM) yang berdampak signifikan pada pendapatan manufaktur perusahaan. Namun di tengah badai ini, ada secercah harapan yang muncul dari sektor pertambangan.
Lonjakan Produksi Bijih Nikel yang Spektakuler
Seperti phoenix yang bangkit dari abu, tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) milik MBMA justru mencatatkan prestasi gemilang. Produksi bijih nikel melonjak fantastis 78% year-on-year menjadi 6,9 juta wet metric tonnes pada semester pertama 2025.
Angka ini terdiri dari peningkatan produksi limonit sebesar 45% dan saprolit yang meningkat sangat tajam 189%. Capaian mengagumkan ini diraih meskipun curah hujan tinggi melanda kedua periode operasi, menunjukkan ketangguhan infrastruktur dan kemampuan manajemen tambang yang telah dibangun selama 12-18 bulan terakhir.
Ambisi Besar Proyek HPAL
Visi transformatif MBMA semakin terwujud dengan kemajuan signifikan proyek-proyek strategis High Pressure Acid Leach (HPAL). PT ESG New Energy Material, pabrik HPAL dengan kapasitas 30.000 ton nikel MHP per tahun, telah menjual 9.465 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) melalui operasi Train A, sementara Train B mulai berproduksi pada akhir kuartal kedua 2025.
Ambisi tidak berhenti di situ. Konstruksi pabrik HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas raksasa 90.000 ton nikel MHP per tahun telah mencapai 29% dengan target commissioning Train pertama pada pertengahan 2026. Proyek senilai USD 1,8 miliar ini didukung konsorsium perbankan nasional terkemuka.
Kemitraan Strategis dengan Raksasa Global
MBMA telah menjalin aliansi strategis dengan pemain global terdepan dalam industri baterai. Kerjasama dengan GEM Co., Ltd. menghasilkan dua pabrik HPAL dengan total kapasitas 55.000 ton MHP per tahun yang diharapkan beroperasi pada paruh pertama 2025.
Lebih menggugah lagi, partnership dengan Contemporary Amperex Technology Co. (CATL) – produsen baterai terbesar dunia – untuk membangun pabrik HPAL berkapasitas 60.000 ton nikel MHP per tahun di Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP). Proyek bernama “Dragon” ini merupakan bagian dari investasi raksasa USD 6 miliar CATL di Indonesia.
Proyek AIM: Diversifikasi yang Menjanjikan
Fasilitas Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) menunjukkan kemajuan menggembirakan. Pabrik pirit telah beroperasi penuh, sementara pabrik asam telah beroperasi sejak April 2024. Fasilitas ini tidak hanya memproduksi asam dan uap untuk pabrik HPAL, tetapi juga menghasilkan logam berharga lainnya seperti tembaga, emas, dan besi.
Respons Pasar dan Valuasi
Meskipun menghadapi tekanan kinerja keuangan, pasar menunjukkan respons yang beragam terhadap MBMA. Saham perusahaan mengalami volatilitas tinggi dengan pergerakan mingguan rata-rata 12,2%, lebih tinggi dari rata-rata industri 9,1%. Market cap perusahaan tercatat sekitar Rp 50-62 triliun dengan PBV 1,82x yang dinilai menarik dibandingkan rata-rata industri 2,42x.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menegaskan bahwa pertumbuhan produksi bijih dan kemajuan proyek strategis menjadi bukti ketangguhan operasional perusahaan. “Meskipun pemrosesan sempat terpengaruh pemeliharaan, peningkatan ini akan menurunkan biaya dan memperkuat daya saing jangka panjang kami,” ujarnya.
Keberlanjutan pertumbuhan bijih nikel dan kemajuan proyek HPAL serta AIM akan menjadi pilar transformasi MBMA di masa depan. Dengan sumber daya nikel terbesar di dunia yang mengandung sekitar 13,8 juta ton nikel dan 1,0 juta ton kobalt, MBMA memiliki fondasi solid untuk menjadi pemain global dalam rantai nilai baterai kendaraan listrik.
Perjalanan MBMA mencerminkan dinamika industri nikel Indonesia yang sedang bertransformasi dari pemasok bahan mentah menjadi produsen bahan baku baterai bernilai tinggi. Meskipun menghadapi turbulensi kinerja jangka pendek, visi jangka panjang perusahaan untuk menjadi pemimpin global terintegrasi dalam rantai nilai mineral strategis dan baterai kendaraan listrik tetap utuh dan penuh peluang.

