Jakarta, INVESTOR IDN – Harga emas dunia kembali mencatat sejarah, menembus rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 3.800 per troy ounce. Sentimen bullish ini, yang didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, telah memicu lonjakan signifikan pada saham-saham emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pergerakan saham emiten pure-play dan yang terkait emas pada penutupan perdagangan Senin, 29 September 2025, menunjukkan apresiasi kuat, mencerminkan optimisme investor terhadap potensi peningkatan margin keuntungan.
Analisis Pergerakan dan Prospek Saham Emiten Emas
1. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Pergerakan Harga Saham: Saham BRMS menjadi salah satu yang paling menonjol. Pada penutupan 29 September 2025, saham ini melompat 10,49% ke harga penutupan Rp790 per saham, yang juga merupakan rekor harga tertinggi perusahaan. Volume transaksi yang masif menunjukkan tingginya minat beli.
Prospek BRMS sangat menarik karena memiliki katalis ganda: kenaikan harga jual emas dan pertumbuhan volume produksi. Dengan laba bersih yang melonjak 136% pada Semester I-2025, dan keberhasilan meningkatkan kapasitas pabrik Palu menjadi 8.000 tpd, BRMS diposisikan untuk memaksimalkan keuntungan dari harga emas di level premium ini. Target produksi yang lebih tinggi di tahun 2025 menjadi penopang fundamental yang kuat.
2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Pergerakan Harga Saham: Saham MDKA juga mencatatkan penguatan. Meskipun tidak sevolatil pure-play, saham MDKA diapresiasi oleh pasar seiring sentimen emas. Pada penutupan 29 September 2025, saham ini menguat 1,35% ke harga penutupan Rp2.250 per saham, melanjutkan tren positifnya.
Prospek MDKA kuat berkat diversifikasi aset yang mencakup emas, tembaga, dan nikel. Harga emas yang tinggi secara signifikan meningkatkan margin dari tambang emasnya, sementara portofolio yang luas memberikan perlindungan risiko. Dengan operasi yang terus berjalan di berbagai komoditas strategis, MDKA dinilai memiliki fundamental yang tangguh dan berkelanjutan.
3. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
Pergerakan Harga Saham: Saham PSAB yang bersifat pure-play emas merespons positif. Pada penutupan 29 September 2025, saham ini terapresiasi 3,67% ke harga penutupan sekitar Rp545 per saham. Secara year-to-date(YTD), saham PSAB telah mencatatkan kenaikan yang substansial.
Kenaikan harga emas hingga USD 3.800 per oz secara langsung meningkatkan pendapatan PSAB. Prospeknya sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi biaya produksi (All-in Sustaining Cost/AISC). Jika PSAB mampu mengendalikan biaya, selisih antara harga jual dan biaya produksi yang lebar akan memaksimalkan profitabilitas dan mendorong valuasi sahamnya.
4. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
Pergerakan Harga Saham: Saham HRTA juga menunjukkan kenaikan. Pada penutupan 29 September 2025, saham ini menguat 3,39% ke harga penutupan sekitar Rp925 per saham.
Prospek HRTA didorong oleh meningkatnya permintaan emas di pasar domestik, karena masyarakat cenderung melihat emas sebagai alat investasi yang ideal di tengah ketidakpastian ekonomi. Sebagai produsen perhiasan, HRTA diuntungkan dari peningkatan value persediaan emas dan pertumbuhan volume penjualan ritel, yang diharapkan mendukung momentum penguatan harga saham.
5. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
Pergerakan Harga Saham: Saham ARCI menunjukkan kinerja yang kuat. Pada penutupan 29 September 2025, saham ini melejit 7,77%, mencerminkan respons langsung terhadap rekor harga emas. Secara YTD, saham ARCI telah menjadi salah satu yang paling cemerlang di sektor ini.
ARCI mendapatkan keuntungan penuh dari harga emas yang tinggi karena seluruh pendapatannya berasal dari penjualan emas (Tambang Toka Tindung). Prospeknya cerah selama harga emas bertahan di level premium. Investor akan berfokus pada efektivitas perusahaan dalam mempertahankan dan meningkatkan volume produksi serta menjaga biaya tetap rendah untuk memaksimalkan margin di tengah harga jual USD 3.800 per oz.
Kenaikan harga emas global memberikan dorongan fundamental yang signifikan. Meskipun saham-saham ini telah mencatatkan kenaikan harga yang masif secara YTD, valuasi ke depan akan sangat ditentukan oleh sejauh mana emiten mampu mengkonversi rekor harga jual ini menjadi laporan keuangan yang solid dan efisien.

