Saham INET

Rights Issue Rp 3,2 Triliun, Kisah Nyali dan Inovasi Saham INET

Jakarta, INVESTOR IDN – Di balik gegap gempita revolusi digital Indonesia, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) tengah menorehkan babak baru yang fenomenal di bursa. Perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi ini menjadi perbincangan hangat setelah secara resmi mengumumkan rights issue jumbo senilai Rp 3,2 triliun pada kuartal ketiga 2025. Bukan sebatas langkah korporasi biasa, aksi ini menandai ambisi INET untuk menjadi penggerak utama ekosistem internet nasional, dengan visi menghadirkan konektivitas digital mutakhir hingga ke pelosok Bali dan Lombok.

Sejak berdiri pada 2016, INET telah merancang jalur panjang sebagai penghubung ratusan penyedia layanan internet lokal—atau ISP—dengan jaringan terpadu yang membentang dari Pulau Jawa hingga Singapura. Melalui layanan interkoneksi, kolokasi, akses local loop, hingga IP Transit, perusahaan ini membuktikan dirinya sebagai tulang punggung infrastruktur digital Tanah Air. Tak heran, ketika era demand terhadap bandwidth dan kecepatan melonjak, INET pun menjawab dengan membangun jaringan fiber optic lebih dari 3.500 km serta menambah titik Point of Presence di lebih dari 590 kota. Upaya progresif inilah yang jadi motor pendongkrak bisnis dan mempertebal portofolio klien hingga ke skala nasional dan regional.

Transformasi bisnis INET bukan hanya tercermin dari rekam jejak ekspansi, tetapi juga performa keuangan yang melonjak drastis. Pada paruh pertama 2025, INET berhasil membukukan pendapatan Rp 45 miliar—naik hampir tiga kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya—serta laba bersih Rp 7,8 miliar dengan margin yang sangat sehat. Proyeksi bahkan lebih menawan: target pendapatan tumbuh 20% pada akhir tahun dan laba bersih diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat. Lonjakan tajam ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata efektivitas visi digitalisasi yang dicanangkan manajemen.

Namun, puncak cerita terjadi di pengujung September 2025. Rights issue senilai Rp 3,2 triliun menjadi ajang pembuktian nyali perusahaan dan ‘musim panen’ bagi mereka yang percaya akan masa depan digital Indonesia. Pemegang kendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN), menyatakan komitmen penuh menyerap haknya hingga lebih dari Rp 1,7 triliun—sebuah langkah yang memberi sinyal tegas betapa optimisme pada prospek INET begitu nyata. Melalui injeksi modal jumbo ini, perusahaan siap menggeber ekspansi pembangunan FTTH atau Fiber To The Home berbasis Wi-Fi 7—teknologi koneksi internet rumah super cepat—yang akan menjangkau dua juta rumah di Bali dan Lombok, serta proyek kabel bawah laut Jakarta-Singapura dengan potensi revenue ratusan miliar rupiah ke depan. Modal besar itu dialokasikan secara matang: mayoritas dana mengalir ke proyek GPI untuk FTTH Bali-Lombok, diikuti investasi pada pembangunan kabel bawah laut oleh PFI, serta modal kerja anak usaha IAB untuk penetrasi FTTH di Pulau Jawa.

Pendekatan visioner ini diperkuat langkah strategis, seperti akuisisi PT Garuda Prima Internetindo (GPI) dan pembentukan PT Internet Anak Bangsa (IAB) yang memperluas daya jelajah ekspansi. Tidak hanya membangun infrastruktur, INET juga membidik inovasi teknologi melalui implementasi Wi-Fi 7, memastikan layanan mereka tetap di garis terdepan kebutuhan masa depan—dari gaming cloud, metaverse, hingga IoT industrial. Tak berhenti di situ, proyek FTTH yang dibiayai dari rights issue ini akan membuka cakrawala baru, mengamankan posisi Bali sebagai pusat ekonomi digital pariwisata kelas internasional dan mengangkat Lombok sebagai destinasi ekonomi baru berbasis konektivitas unggul.

Kisah INET makin kuat berkat komposisi kepemilikan dan juga dedikasi pengendali perusahaan yang menjaga stabilitas, memastikan tidak ada aksi spekulatif berlebihan di pasar. Masyarakat tetap menjadi pemilik signifikan, sementara profesionalisme manajemen menjaga arah transformasi perusahaan tetap berjalan pada jalurnya. Di tengah persaingan sengit dengan operator besar yang lebih mapan, posisi INET justru unik karena berperan sebagai fasilitator ratusan ISP lokal—menawarkan keunggulan kompetitif yang tidak tergantikan.

Layaknya narasi kematangan korporasi yang siap menapaki puncak pertumbuhan, INET kini berdiri di persimpangan peluang dan risiko. Momentum pertumbuhan eksponensial dan optimisme pengendali memberi harapan pada investor jangka panjang. Namun, potensi dilusi besar akibat rights issue hingga 57% patut dicermati, begitu pula tantangan implementasi proyek infrastruktur berskala masif di tengah aturan dan persaingan yang ketat.

Bagaimanapun, untuk mereka yang percaya pada revolusi digital Indonesia dan siap mengambil risiko, kisah INET menawarkan lebih dari sekadar angka. Ia adalah narasi kepercayaan pada masa depan, inovasi tanpa kompromi, dan kegigihan membangun pondasi digital bangsa dari balik deretan serat optik yang membelah nusantara.

More From Author

blank

11 Perusahaan Antre IPO di Kuartal IV 2025, Didominasi Aset Menengah

Saham Heal

Aksi Borong : Astra Healthcare Kuasai Saham HEAL Rp2,4 T, Untungkan Ekosistem Kesehatan Indonesia.

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan