Jakarta, INVESTOR IDN – Fenomena luar biasa mewarnai perjalanan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) sepanjang tahun 2025. Di tengah euforia digitalisasi nasional dan ledakan kebutuhan solusi kecerdasan buatan, saham MLPT menjadi primadona di pasar modal Indonesia. Bayangkan, dari harga Rp18.500 pada akhir tahun 2024, saham MLPT melonjak hingga menembus Rp157.225 per lembar pada pertengahan September 2025, dengan gain spektakuler lebih dari 749% year-to-date, sebuah kenaikan yang mengundang decak kagum sekaligus pertanyaan dari seluruh pelaku pasar.
Kisah rally harga MLPT bukan sekadar soal angka, melainkan perjalanan yang penuh dinamika. Setelah mulai terbang tinggi pada Agustus, lonjakan harga yang ekstrem memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia mengambil langkah cooling down, melalui suspensi berulang demi menjaga stabilitas pasar. Namun, setiap kali suspensi dicabut, antusiasme investor seperti tidak pernah reda. Volume transaksi kembali membludak, mempertegas posisi MLPT sebagai saham yang paling diburu di lantai bursa. Bahkan, status pemantauan khusus dan pemrosesan dalam Full Call Auction seolah hanya menjadi bumbu pelengkap bagi minat luar biasa terhadap saham ini.
Di balik sensasi harga, MLPT sesungguhnya menapaki tantangan kinerja operasional. Sepanjang paruh pertama 2025, pendapatan tumbuh sangat tipis, namun laba bersih justru anjlok lebih dari setengah—keuntungan menurun menjadi hanya Rp104,54 miliar, jauh dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ironisnya, di saat valuasi pasar begitu gemerlap, indikator fundamental seperti price to earning ratio (PER) melejit ke angka yang sulit dijangkau akal sehat pelaku pasar konvensional. Banyak analis menilai bahwa pergerakan MLPT didorong sentimen momentum trading, efek FOMO, dan optimisme luar biasa terhadap masa depan industri kecerdasan buatan nasional.
Strategi manajemen MLPT mengandalkan transformasi digital dan perluasan portofolio teknologi mutakhir. Kolaborasi dengan IBM watsonx menjadi langkah krusial yang melambungkan harapan investor; platform AI VisionAnalytics-GPT digadang-gadang sebagai solusi yang mampu membaca data tak terstruktur dan memprediksi tren bisnis secara akurat. Upaya MLPT untuk menggeser model bisnisnya dari penjualan proyek menuju recurring revenue tercermin lewat pengembangan sejumlah anak usaha teknologi digital. Kombinasi kedekatan dengan IBM serta kemitraan strategis bersama Telkom untuk menciptakan Sovereign AI semakin memantapkan posisi MLPT di episentrum pasar digital dan kecerdasan buatan Indonesia.
Gelombang adopsi AI di Indonesia menawarkan peluang pasar yang luar biasa. Riset pasar memprediksi pasar AI nasional akan tumbuh hingga US$10,88 miliar pada tahun 2030, menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan AI paling aktif se-Asia Tenggara. MLPT, dengan status sebagai IBM Platinum Business Partner, berada di garis depan dalam menyediakan solusi hybrid cloud dan pengelolaan data center canggih bagi korporasi besar tanah air. Meski kinerja bisnis belum sepenuhnya sejalan dengan reli harga saham, konsistensi manajemen dalam pembagian dividen menjadi daya tarik tersendiri. Dividen final Rp86 per saham yang dibayarkan pada Juni 2025 menjadi bukti komitmen perusahaan dalam mengapresiasi investor di tengah volatilitas tinggi.
Tetap saja, besarnya lonjakan harga membuat valuasi MLPT memasuki zona premium; risiko koreksi signifikan pun mengintai setiap investor baru yang melirik peluang dari momentum singkat ini. Dengan segala pencapaian, kisah MLPT di 2025 mengajarkan satu hal penting: di era digital, perpaduan inovasi teknologi, narasi perubahan, dan euforia pasar mampu menciptakan cerita besar yang memikat perhatian seluruh sektor bisnis Indonesia. Namun, seperti layaknya inovasi disruptif, pasar akan selalu menguji ketahanan fundamental dan daya inovasi yang sebenarnya. MLPT kini berdiri di persimpangan antara harapan digital dan tuntutan performa nyata; apakah kisah epik ini akan berlanjut atau harus bersiap menghadapi kenyataan pasar yang lebih rasional di masa depan, pasar modal kini menunggu jawaban dari Multipolar Technology.

