Jakarta, INVESTOR IDN – Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan mengumumkan kinerja kuartal III 2025 pada hari ini, Senin 20 Oktober 2025. Jelang pengumuman tersebut, saham BBCA berselancar di zona hijau.
Pada perdagangan hari ini, saham BBCA naik 6 persen ke posisi 7.950 saat berita ditulis. Dalam sepekan, BBCA naik 8,53 persen namun terkoreksi 17,83 persen sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).
Data hingga Agustus 2025 menunjukkan kinerja keuangan BBCA masih solid. Laba bersih bank only tercatat mencapai Rp39,06 triliun atau tumbuh 8,52% secara tahunan (year on year). Penyaluran kredit juga naik 9,28% menjadi Rp920,87 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) tetap kuat dengan rasio dana murah (CASA) mencapai sekitar 83,5%.
Secara valuasi, saham BBCA dinilai sedang berada di level menarik. Price to book value (PBV) bank ini kini berada di kisaran 3,45 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historisnya yang di atas 4 kali. Kondisi ini membuat sejumlah analis merekomendasikan buy on weakness, mengingat fundamental BBCA yang dinilai lebih tangguh dibanding emiten perbankan besar lain seperti BBRI dan BMRI.
Meski demikian, analis tetap mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai. Beban provisi tercatat meningkat hingga 64,6% secara tahunan, sementara tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) bisa muncul apabila dana murah mulai tergerus. Dengan ekspektasi pasar yang sudah tinggi terhadap hasil kuartal III, kinerja yang tidak sesuai harapan berpotensi memicu aksi ambil untung.
Secara umum, konsensus analis menilai BBCA masih layak dikoleksi untuk jangka menengah hingga panjang berkat fundamental kuat dan likuiditas yang sehat. Namun untuk investor jangka pendek, disarankan tetap berhati-hati menjelang rilis laporan keuangan resmi yang dijadwalkan pada 20 Oktober 2025.
Rotasi Arah Pasar: Investor Beralih dari Saham Konglomerasi ke Blue Chip
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencatatkan kinerja cemerlang sejak awal tahun dengan kenaikan 14,8% secara year to date (YTD) per 16 Oktober 2025. Kenaikan ini membawa IHSG menembus rekor tertingginya (all–time high/ATH), melampaui posisi puncak sebelumnya pada September 2024.
Namun, penguatan tersebut sebagian besar ditopang oleh lonjakan harga saham-saham konglomerasi, bukan emiten unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Perbedaan ini terlihat jelas dari kinerja kedua indeks: saat IHSG menguat hampir 15%, LQ45 justru terkoreksi 5,6% secara tahunan. Kesenjangan performa ini terus melebar sejak pertengahan tahun, mencerminkan minat pasar yang sempat bergeser ke saham-saham grup besar.
Menariknya, tren tersebut mulai menunjukkan perubahan dalam beberapa hari terakhir. Saham-saham blue chip mulai mencatatkan penguatan lebih tinggi dengan indeks LQ45 naik 1,1% dibandingkan IHSG yang hanya bertambah 0,7%. Pergerakan ini disebut sebagai sinyal awal terjadinya rotasi taktis (tactical rotation), di mana investor mulai mengambil keuntungan (profit taking) dari saham konglomerasi dan mengalihkan dana ke emiten besar yang valuasinya kini relatif murah.
Sektor Consumer dan Perbankan Dinilai Paling Menarik
Menurut Investment Analyst Lead Stockbit, Edi Chandren, sektor consumer dan perbankan berpotensi menjadi tujuan utama rotasi pasar dalam waktu dekat. Alasannya, valuasi kedua sektor ini kini berada di level yang rendah secara historis. Bahkan sudah berada di bawah rata-rata satu hingga dua standar deviasi. Dengan kondisi tersebut, ruang penurunan harga dinilai semakin terbatas, sementara potensi pemulihan justru terbuka lebar.
“Jika aksi profit taking pada saham-saham konglomerasi berlanjut, sektor consumer dan banking menawarkan potensi upside yang cukup menarik,” kata Edi dalam riset terbarunya.
Secara fundamental, prospek laba bersih emiten consumer diperkirakan tumbuh lebih solid pada 2025–2026, dengan ICBP, INDF, dan KLBF menjadi yang paling menonjol. Di sisi lain, bank-bank besar, kecuali BBCA, mungkin masih mencatatkan penurunan laba di 2025 sebelum kembali pulih pada 2026. Meski begitu, daya tarik utama sektor perbankan terletak pada potensi dividend yield yang relatif lebih tinggi dibandingkan sektor consumer.
Edi menambahkan, kinerja kuartal III 2025 kemungkinan akan menjadi titik terendah (bottom) bagi kedua sektor tersebut sebelum memasuki fase pemulihan di kuartal IV. Dengan valuasi yang mulai kompetitif dan tekanan pasar yang mulai mereda, rotasi portofolio ke saham-saham blue chip dinilai bisa menjadi strategi defensif yang efektif di tengah volatilitas menjelang akhir tahun.

