blank

MSCI Berubah: Emiten Energi Hijau Berpeluang Besar Masuk Indeks Global

Jakarta, INVESTOR IDN– Morgan Stanley Capital International (MSCI) tengah membuka babak baru dalam perhitungan free float saham Indonesia. Dalam presentasi konsultasi terbaru Oktober 2025, MSCI berencana menggunakan data registrasi pemegang saham bulanan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menghitung free float saham-saham Indonesia yang menjadi konstituen indeks. Perubahan metodologi ini direncanakan mulai berlaku pada review indeks Mei 2026 setelah periode konsultasi publik berakhir pada 31 Desember 2025.​

Dampak Sistemik: Saham Blue Chip Terancam, Peluang Baru Terbuka
Aturan baru ini berpotensi mengguncang komposisi indeks MSCI Indonesia. Karena banyak perusahaan Indonesia memiliki kepemilikan besar oleh korporasi atau kelompok tertentu, metodologi baru dapat menurunkan nilai free float mereka secara signifikan. Akibatnya, porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI bisa menyusut, memicu risiko capital outflow dari investor asing.​

Stockbit Sekuritas mengidentifikasi empat emiten raksasa yang berisiko tinggi dikeluarkan dari indeks: PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Pada Senin 27 Oktober 2025, pasar bereaksi keras dengan IHSG anjlok 2,94% ke level 8.028,33 setelah berita ini beredar.​

Namun, di balik risiko terdapat peluang besar. Perubahan metodologi ini membuka ruang lebar bagi emiten dengan struktur kepemilikan publik yang solid, likuiditas memadai, dan kapitalisasi pasar yang kuat untuk masuk ke indeks MSCI, menarik minat investor global dan meningkatkan valuasi pasar.

Kandidat Kuat Masuk MSCI November 2025
Menjelang pengumuman MSCI pada 5 November 2025 dengan implementasi efektif 25 November 2025, sejumlah emiten Indonesia berpeluang besar masuk indeks bergengsi ini. Untuk masuk MSCI Global Standard Index, saham harus memenuhi kriteria: kapitalisasi pasar total minimal Rp50 triliun, free float market cap minimal Rp25 triliun, dan Annualized Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15%.​

Emiten Berpeluang Masuk MSCI
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memiliki peluang tertinggi masuk MSCI Global Standard Index dengan free float adjusted market cap (FFMC) mencapai USD 3,5 miliar, sedikit di atas minimum USD 3,1 miliar. Rata-rata nilai transaksi harian 12 bulan BREN mencapai USD 12,9 juta, melampaui batas minimum USD 2,5 juta, dengan ATVR telah melampaui 15%. Kapitalisasi pasar free float BREN diperkirakan Rp144,6 triliun dengan asumsi porsi free float 11,62% dari total kapitalisasi pasar sekitar Rp1.244 triliun.​

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpeluang naik dari MSCI Small Cap Index ke MSCI Global Standard Index dengan harga saham di atas Rp800. Per Oktober 2025, BRMS telah menguat ke Rp950 dengan rata-rata nilai transaksi harian 12 bulan yang kuat sebesar USD 22,1 juta. Kapitalisasi pasar free float BRMS diperkirakan Rp52,99 triliun dengan porsi free float sekitar 36,45% dari total kapitalisasi pasar Rp145,33 triliun.​

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga diprediksi memiliki peluang masuk MSCI November 2025 dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang memadai.​

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) masuk dalam daftar kandidat dengan likuiditas perdagangan yang kuat.​

Sementara itu, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) memiliki fundamental solid namun masih memerlukan peningkatan kapitalisasi pasar untuk memenuhi threshold MSCI dalam jangka menengah.

Sebaliknya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berisiko dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index karena nilai FFMC telah turun di bawah USD 1,2 miliar per 7 Oktober 2025.​

Emiten Green Energy dan ESG: Daya Tarik Investor Global
Menariknya, sebagian besar kandidat kuat masuk MSCI adalah emiten dengan fokus pada energi terbarukan dan komitmen ESG yang kuat—sektor yang kini menjadi prioritas investor institusi global.

Barito Renewables Energy (BREN): Pionir Energi Hijau Konglomerat
BREN merupakan perusahaan induk berbasis di Indonesia dan bagian dari Barito Pacific, dengan misi menyediakan energi lebih bersih dengan emisi rendah. BREN memegang saham dari Star Energy Geothermal Group, produsen listrik yang memanfaatkan tenaga panas bumi di lima wilayah operasi: Wayang Windu, Darajat, Salak, Hamidin, dan Sekincau.​

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO): Juara ESG Global
PGEO menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam 50 besar perusahaan global dengan implementasi prinsip ESG terbaik menurut “2025 ESG Top-Rated Company” dari Sustainalytics. Dari lebih 15.000 perusahaan yang dinilai di 42 negara, PGEO meraih skor ESG risk 7,1 dalam kategori negligible risk—tertinggi untuk perusahaan utilitas di Indonesia dan ketiga secara global.​

PGEO menargetkan kapasitas terpasang 1 GW pada 2026 melalui proyek geotermal konvensional, inisiatif brine-to-power, dan pengembangan anorganik. Perusahaan juga mengembangkan Green Hydrogen Pilot Plant di Ulubelu menggunakan teknologi elektroliser Anion Exchange Membrane (AEM), pertama di dunia yang memanfaatkan energi geotermal. PGEO juga aktif menjual kredit karbon di bursa karbon Indonesia dan berekspansi global ke Kenya dengan potensi 240 MW.​

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Transformasi ke Energi Bersih
MEDC secara konsisten meningkatkan rating ESG-nya dan aktif bertransisi ke energi terbarukan, dengan fokus pada proyek panas bumi, PLTS, dan PLTA. Perusahaan masuk dalam berbagai indeks ESG di BEI dan mendapat pengakuan global untuk praktik keberlanjutannya.​

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Konstituen Konsisten Indeks ESG
ANTM bertahan sebagai konstituen Indeks SRI-KEHATI, IDX KEHATI ESG Sector Leaders Index, dan IDX KEHATI ESG Quality 45 Index untuk periode Desember 2023-Mei 2024. Saham ANTM juga menjadi bagian dari IDX LQ45 Low Carbon Leaders Index yang bertujuan mengurangi eksposur intensitas emisi karbon minimal 50% dibandingkan Indeks LQ45.​

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rating ESG Tertinggi Sektor Tambang
Pada Oktober 2023, MSCI meningkatkan ESG Rating MDKA dari BBB menjadi A, menjadikannya satu-satunya perusahaan tambang Indonesia dalam sub-industri MSCI Diversified Metals and Mining yang mencapai rating ini. MDKA menargetkan emisi nol bersih pada 2050, lebih cepat dari target Indonesia 2060, dengan rencana reduksi emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% pada 2030. MDKA juga masuk dalam MSCI Indonesia ESG Leaders Index dan dua indeks ESG terkemuka di BEI—ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI.​

Wacana Pembentukan Indeks EBT Khusus
Untuk memperkuat daya tarik sektor energi terbarukan, sejumlah emiten mengusulkan pembentukan indeks saham khusus yang menaungi emiten-emiten energi terbarukan untuk menarik investor hijau. Sejumlah pengamat ESG seperti yang disampaikan Andryanto EN, menilai indeks khusus untuk emiten yang fokus pada EBT diperlukan karena fokus pada indeks ESG saat ini tidak secara spesifik mencerminkan emiten dengan bisnis utama EBT.​

Kehadiran indeks khusus energi terbarukan akan memberikan visibilitas dan identitas yang lebih jelas bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor transisi energi dan EBT, serta berfungsi sebagai alat screening yang efektif bagi investor untuk langsung berpartisipasi dalam akselerasi transisi energi.​

Kesimpulan: Era Baru Pasar Modal Indonesia
Perubahan metodologi MSCI yang lebih transparan dan berbasis data KSEI membuka peluang besar bagi emiten dengan struktur kepemilikan jelas, free float memadai, dan fundamental kuat. Emiten energi terbarukan dan ESG seperti BREN, PGEO, MDKA, ANTM, dan MEDC memiliki daya tarik ekstra karena sejalan dengan prioritas investasi global yang kini mengedepankan keberlanjutan.​

Periode konsultasi MSCI hingga 31 Desember 2025 dan implementasi Mei 2026 memberikan waktu bagi emiten untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan ini. Bagi investor, momentum ini menawarkan peluang untuk memposisikan portofolio pada saham-saham berkualitas dengan potensi re-rating dari inklusi indeks global—terutama emiten green energy yang menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia menuju target emisi nol bersih 2060.​

More From Author

blank

WEGE Wujudkan Sinergi Bisnis dan Sosial dalam Peringatan 17 Tahun dengan Program CSR Terintegrasi

blank

Komisaris Independen Cuma Formalitas? Pengawasan Perusahaan Jadi Tumpul

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan