blank

Pergeseran Strategi Saham Rokok 2025

Jakarta, INVESTOR IDN– Revisi peringkat saham emiten rokok menjadi perhatian serius setelah para pemain utama industri melaporkan hasil keuangan kuartal III 2025. Berbagai sekuritas besar mulai mengevaluasi ulang posisi tiga emiten rokok terbesar di Bursa Efek Indonesia: PT Gudang Garam, PT HM Sampoerna, dan PT Wismilak Inti Makmur. Fenomena ini mencerminkan dinamika industri yang sedang mengalami transformasi signifikan seiring dengan kebijakan pemerintah dan perubahan perilaku konsumen.

Kinerja Gudang Garam menunjukkan tren yang menarik dengan laba bersih mencapai Rp 1,12 triliun sepanjang Januari hingga September 2025, tumbuh 11,55 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi kejutan positif karena melampaui ekspektasi konsensus analis yang sebelumnya meramalkan angka jauh lebih rendah. Pencapaian ini didukung oleh peningkatan pendapatan pada kuartal ketiga mencapai Rp 22,9 triliun, naik 7,8 persen secara kuartalan. Pertumbuhan ini tersebar di seluruh segmen penjualan rokok, terutama pada kategori sigaret kretek mesin yang mencatat pertumbuhan 6 persen secara kuartalan dan sigaret kretek tangan yang meningkat 9,2 persen dalam periode yang sama.

Namun demikian, realisasi pertumbuhan Gudang Garam ini perlu dilihat dalam konteks penurunan pendapatan keseluruhan. Hingga akhir September 2025, pendapatan perusahaan terpangkas 8,89 persen menjadi Rp 67,33 triliun dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 73,89 triliun. Pencapaian laba positif berhasil diraih karena perusahaan berhasil melakukan efisiensi yang signifikan. Biaya pokok pendapatan turun 8,34 persen year-on-year, yang memungkinkan perusahaan mempertahankan margin meskipun menghadapi tekanan pendapatan.

Sementara itu, HM Sampoerna mengalami dinamika yang berbeda. Laba bersih perusahaan hingga akhir September 2025 mencapai Rp 4,51 triliun, turun 13,65 persen year-on-year dibanding Rp 5,22 triliun pada periode sama tahun lalu. Penurunan laba ini terjadi meskipun perusahaan mencatat pertumbuhan laba kotor positif sebesar 11,03 persen year-on-year menjadi Rp 9,68 triliun, menunjukkan bahwa tekanan datang dari segmen operasional dan pajak. Tekanan pajak one-off pada kuartal kedua 2025 seiring penyesuaian pajak periode lalu menjadi salah satu faktor utama penurunan kinerja laba bersih.

Meskipun menghadapi tantangan, HM Sampoerna berhasil mempertahankan posisi sebagai pemain utama dengan pendapatan Rp 75,68 triliun hingga September 2025. Volume penjualan perusahaan selama sembilan bulan pertama 2025 turun 3,6 persen year-on-year, namun masih lebih baik dibandingkan kontraksi industri keseluruhan sebesar 7,1 persen dalam periode yang sama. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran konsumen ke produk yang lebih murah, strategi yang ternyata berhasil dijalankan HM Sampoerna dengan lebih efektif.

Wismilak Inti Makmur mencatat performa paling gemilang di antara ketiga emiten dengan laba bersih mencapai Rp 284,96 miliar hingga akhir September 2025, lonjakan spektakuler sebesar 37,33 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan bersih mencapai 34,32 persen menjadi Rp 4,61 triliun dari Rp 3,43 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Dinamika ini menempatkan Wismilak sebagai emiten dengan pertumbuhan laba tertinggi di sektor tembakau pada kuartal III 2025.

Kondisi industri rokok pada 2025 sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk tidak menaikkan cukai rokok pada tahun depan. Keputusan ini menciptakan kepastian jangka pendek yang sangat dibutuhkan industri setelah bertahun-tahun dihantui ketidakpastian kebijakan. Kebijakan pembekuan tarif cukai ini memungkinkan produsen untuk menyusun strategi harga dan margin dengan lebih terukur. Target penerimaan Cukai Hasil Tembakau dalam rancangan peraturan pemerintah 2026 dipatok konservatif di sekitar Rp 229 hingga Rp 230 triliun, sedikit di bawah target tahun ini yang mencapai Rp 230,1 triliun, menunjukkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara penerimaan fiskal dan keberlangsungan industri.

Proyeksi untuk tahun depan menunjukkan harapan pemulihan yang gradual. Untuk Gudang Garam, konsensus analis meramalkan pendapatan pada akhir 2025 mencapai Rp 88,90 triliun, turun 9,88 persen year-on-year dari realisasi 2024 mencapai Rp 98,66 triliun. Namun pada 2026, pendapatan diestimasi akan meningkat 1,45 persen menjadi Rp 90,19 triliun, dengan laba bersih diramalkan akan melonjak 86,89 persen menjadi Rp 1,20 triliun. Pemulihan kinerja ini didukung ekspektasi stabilisasi volume penjualan pada kisaran pertumbuhan 2 hingga 4 persen year-on-year pada 2026, setelah sempat turun 8 persen pada paruh pertama 2025.

Untuk HM Sampoerna, konsensus memperkirakan pendapatan akhir 2025 akan berada di Rp 117,24 triliun, susut 0,54 persen year-on-year dibanding 2024 mencapai Rp 117,88 triliun. Pada 2026, ramalan konsensus memperkirakan pendapatan akan tumbuh 4,67 persen menjadi Rp 122,72 triliun, dengan laba bersih diperkirakan mencapai Rp 8,67 triliun atau naik 30,76 persen year-on-year. Performa ini menunjukkan bahwa HM Sampoerna diprediksi akan memiliki pertumbuhan yang lebih kuat dibanding kompetitor terdekatnya.

Tantangan industri tetap nyata dan harus diperhatikan. Beban cukai yang masih mencapai lebih dari 70 persen dari total biaya operasional, struktur tier yang kompleks, serta tren downtrading konsumen menjadi tekanan struktural yang sulit diatasi dalam jangka pendek. Peredaran rokok ilegal dengan harga yang jauh lebih murah, berkisar Rp 10 ribu hingga 15 ribu per bungkus, terus menekan pangsa pasar pemain formal. Gudang Garam, misalnya, mengalami penurunan pangsa pasar dari 23 persen menjadi 21 persen pada kuartal ketiga 2025.

Revisi peringkat yang dilakukan oleh berbagai sekuritas mencerminkan analisis menyeluruh terhadap fundamental bisnis dan prospek jangka pendek maupun panjang masing-masing emiten. Perbedaan dalam efisiensi operasional, diversifikasi produk, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen menjadi pembeda utama antar pemain. Sementara industri rokok masih menghadapi tekanan jangka panjang dari regulasi dan pergeseran konsumsi, momentum positif dari stabilisasi kebijakan cukai memberikan ruang bagi emiten untuk memperbaiki efisiensi dan mencari peluang pertumbuhan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

More From Author

blank

Pertumbuhan Spektakuler: Grup Triputra Curi Perhatian Investor dengan Kinerja Memukau di 2025

blank

22,78 Triliun: Drama Investasi Portofolio Saham Asabri 2025 dan Harapan Baru di Tengah Krisis

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan