Grab Akusisi Goto

Borong Saham: BlackRock dan JPMorgan Gencar Akumulasi GOTO di Tengah Isu Merger Grab

Jakarta, INVESTOR IDN– BlackRock dan JPMorgan secara simultan melakukan akumulasi masif terhadap saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), menciptakan momentum bullish yang sulit diabaikan di bursa Indonesia. Gerakan strategis ini tidak terlepas dari makin membesarnya isu merger antara GOTO dan Grab, dua pemain dominan di industri mobilitas digital nusantara.

Pada Selasa (11/11), saham GOTO ditutup pada level Rp 67 per lembar setelah menanjak 9,84 persen sehari sebelumnya. Penguatan ini bukan kebetulan. JPMorgan mencatat pembelian sebanyak 38,84 juta lembar saham GOTO, membawa total kepemilikan mereka menjadi 2,52 miliar saham. Sementara BlackRock, sehari sebelumnya, menambah posisi dengan membeli 16,15 juta lembar, hingga total kepemilikan mereka mencapai 30,03 miliar saham.

Data Bloomberg menunjukkan investor asing secara keseluruhan mencatatkan net buy Rp 122,50 miliar pada penutupan hari itu. Dalam hitungan bulanan, net buy asing terhadap GOTO telah mencapai Rp 5,74 miliar. Angka-angka ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan bukti konkret bahwa pemain global sedang mengintai peluang di balik merger potensial ini.

Pemerintah Buka Kartu

Pemicu utama rally saham GOTO adalah pernyataan tegas dari pemerintah. Pada 10 November, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengkonfirmasi di kompleks Istana Kepresidenan bahwa pemerintah sedang membahas penggabungan antara Grab dan GOTO. “Rencananya memang begitu (Grab-GoTo bergabung),” ujar Prasetyo dengan lantang.

Dalam skenario yang sedang dibahas, Grab Indonesia akan menjadi pembeli GOTO, untuk kemudian melakukan proses merger. Tujuan pemerintah jelas: menciptakan pemain yang lebih kuat dan efisien dalam industri mobilitas digital, sambil tetap menjaga kepentingan ribuan mitra pengemudi ojol dan ekosistem UMKM.

Peranan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga disoroti. Sebagai pengelola investasi negara, Danantara akan menjadi pendamping strategis dalam proses merger kompleks ini. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa Danantara akan mengikuti arahan pemerintah, dengan tetap fokus pada aspek B2B dan penciptaan nilai komersial jangka panjang.

GOTO Tahan Langkah

Namun, manajemen GOTO memberikan respons yang hati-hati. Pada 11 November, GOTO mengeluarkan keterbukaan informasi resmi di BEI yang menegaskan belum ada keputusan maupun kesepakatan terkait merger dengan Grab. Direktur Legal dan Group Corporate Secretary GOTO, R.A. Koesoemohadiani, menekankan: “Hingga saat ini belum ada suatu keputusan ataupun kesepakatan terkait hal tersebut.”

GOTO juga menekankan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan 17 Desember 2025 tidak berkaitan dengan aksi korporasi apa pun, termasuk merger atau akuisisi. Pemanggilan resmi untuk RUPSLB akan diumumkan pada 25 November.

Situasi ini menciptakan gap menarik antara narasi pemerintah dan narasi perusahaan. Pemerintah berbicara tentang merger sebagai solusi strategis yang sedang dibahas tingkat presiden, sementara GOTO tetap berpegangan pada protokol keterbukaan informasi dengan menolak memberikan kepastian. Ini menandakan negosiasi masih berada di tahap preliminary, belum sampai pada agreement formal.

Mengapa BlackRock dan JPMorgan Tertarik

Keputusan dua raksasa investasi global untuk mengakumulasi GOTO bukan sekadar spekulasi. Mereka memiliki track record yang terbukti dalam membaca fundamental value. Beberapa faktor membuat GOTO menarik sebagai investasi jangka panjang.

Pertama, fundamental bisnis GOTO menunjukkan perbaikan konsisten. Segmen On Demand Service atau Gojek telah mencatatkan EBITDA yang disesuaikan positif selama tiga kuartal berturut-turut sejak kuartal keempat 2023. Unit bisnis mobilitas digital akhirnya mencapai titik profitabilitas yang berkelanjutan.

Kedua, growth momentum kembali menggelora. Gross transaction value GOTO pada kuartal kedua 2024 mencapai pertumbuhan 12 persen secara kuartalan, tertinggi sejak kuartal terakhir 2022. Produk yang lebih terjangkau telah menjadi kunci dalam mempercepat momentum pertumbuhan setelah stagnasi tahun 2023.

Ketiga, prospek keuangan di segmen e-commerce mulai bersinar. GOTO diperkirakan akan menerima biaya layanan sekitar 40-45 juta dolar Amerika dari Shop Tokopedia, arus kas tambahan yang memperkuat profil neraca perusahaan.

Keempat, dalam konteks merger, konsolidasi antara Grab dan GOTO dapat menciptakan efisiensi operasional yang signifikan. Eliminasi duplikasi, sinergi infrastruktur teknologi, dan peningkatan daya tawar terhadap driver akan meningkatkan margin keuntungan jangka panjang—perspektif yang jelas memukau investor global.

Momentum Baru Konsolidasi Digital

Akumulasi saham GOTO oleh BlackRock dan JPMorgan adalah bukti konkret bagaimana pasar global merespons isyarat strategis dari pemerintah. Meski belum ada agreement formal, momentum ini menunjukkan bahwa konsolidasi industri mobilitas digital Indonesia bukan lagi wacana, tetapi skenario yang semakin nyata.

Investor institusional global melihat peluang ekonomis yang jelas di mana dua kompetitor sengit dapat bersatu menciptakan efisiensi dan value creation lebih besar. Pemerintah, melalui Danantara, berposisi sebagai fasilitator yang memastikan kepentingan publik tetap terjaga.

Untuk investor ritel, momentum ini menarik namun memerlukan kehati-hatian. Saham GOTO, meski mencatatkan respons positif, masih memiliki potensi apresiasi lebih tinggi jika merger berhasil. Namun, masih banyak hurdle regulasi yang harus dilalui sebelum penggabungan formal dapat dilaksanakan. Era baru konsolidasi industri teknologi digital Indonesia baru saja dimulai—dan dunia sedang menonton dengan seksama.

More From Author

BEKS BJTM

Bank Banten dan Bank Jatim Resmi Bentuk KUB, Sinergi Perkuat Struktur Modal dan Perluas Layanan Perbankan

PT Bank Bumi Arta Tbk

OJK Bersiap Hapus KBMI 1, Merger Perbankan Jadi Prioritas, Saham-Saham Ini Mulai Bergerak

blank
ASA Media
ASA Media

Video Pilihan